Soeharto Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional 2025: Antara Jasa dan Dosa, Publik Terbelah

Suarakitanews.com – Nama Presiden ke-2 RI, Soeharto, kembali mencuat ke permukaan publik setelah masuk dalam daftar 10 tokoh yang diusulkan Kementerian Sosial untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional tahun 2025. Usulan ini berasal dari Provinsi Jawa Tengah dan menimbulkan pro-kontra yang tajam di tengah masyarakat.

Proses Usulan dari Masyarakat

Menurut Menteri Sosial Saifullah Yusuf, pengusulan Soeharto sebagai pahlawan nasional berasal dari masyarakat, bukan dari pemerintah pusat. Selanjutnya, Direktorat Jenderal Pemberdayaan Sosial Kemensos akan membentuk tim verifikasi untuk menilai kelayakan setiap kandidat, termasuk Soeharto.

Namun, apakah nama besar Soeharto cukup untuk menyandang gelar tersebut?

Penolakan dari Sejarawan dan Aktivis HAM

Sejarawan Universitas Gadjah Mada (UGM), Sri Margana, menegaskan bahwa berdasarkan Undang-Undang, seorang pahlawan nasional tidak boleh memiliki cacat moral maupun politik. Ia menyebut bahwa sejarah mencatat banyaknya pelanggaran HAM berat di era Orde Baru, yang dipimpin Soeharto selama lebih dari tiga dekade.

“Pemerintahannya berakhir karena skandal besar dan tekanan massa. Jadi masyarakat bisa menilai sendiri apakah beliau layak atau tidak,” ujar Sri kepada CNNIndonesia.com.

Hal senada disampaikan oleh sejarawan Andi Achdian yang menyebut bahwa usulan ini menunjukkan adanya upaya ‘melupakan’ catatan kelam Orde Baru. Menurutnya, publik harus terus diingatkan mengenai pelanggaran HAM yang terjadi, agar tidak terhapus dari ingatan kolektif bangsa.

Imparsial: Dosa Soeharto Lebih Besar dari Jasanya

Organisasi HAM Imparsial, melalui Direktur Ardi Manto Adiputra, secara tegas menolak gelar pahlawan nasional untuk Soeharto. Menurutnya, Soeharto merupakan simbol dari korupsi, kekerasan militeristik, dan rezim otoriter.

“Jika Soeharto dijadikan pahlawan, persepsi dunia terhadap Indonesia bisa memburuk. Ini sinyal yang salah bagi penegakan HAM dan demokrasi,” ujar Ardi.

Argumen dari Pihak Pendukung

Di sisi lain, Juru Bicara Istana, Prasetyo Hadi, menyebut bahwa tidak ada yang salah dari usulan ini. Ia meminta publik untuk melihat prestasi Soeharto selama menjabat, seperti stabilitas ekonomi dan pembangunan nasional, bukan hanya kekurangannya.

“Wajar jika mantan kepala negara diusulkan jadi pahlawan. Yang penting, kita harus adil dalam menilai,” jelas Prasetyo.

Industri Gelar Pahlawan?

Andi Achdian juga mengkritisi tren usulan gelar pahlawan yang kini terkesan seperti industri politik. Ia bahkan menyarankan agar pemerintah melakukan moratorium atas pemberian gelar ini demi menjaga kualitas dan integritas penghargaan tersebut.

Layakkah Soeharto Menjadi Pahlawan Nasional?

Usulan ini membuka kembali perdebatan lama soal bagaimana bangsa ini memperlakukan sejarahnya. Apakah jasa-jasa pembangunan di masa lalu dapat menutupi pelanggaran hak asasi manusia? Ataukah dosa politik dan korupsi tidak bisa diampuni dengan keberhasilan ekonomi semata?

Polemik ini menunjukkan bahwa gelar Pahlawan Nasional bukan hanya tentang pencapaian, tetapi juga tentang nilai dan moral yang diwariskan kepada generasi mendatang.

Penulis : Mita Putri
Sumber : website cnnindonesia.com

Mita Putri

Artikel Terkait

Laporan Khusus: Jejak Sunyi Sang “Manusia Bayangan Republik” Zulkifli Lubis

Suara Kita News. Com, Dalam lembaran sejarah Indonesia, panggung utama kerap dikuasai oleh mereka yang bersuara lantang di atas mimbar. Namun, di balik layar sejarah kemerdekaan, terdapat figur-figur yang memilih…

Lanjutkan Membaca

// // //
  • News
  • July 1, 2026
  • //
Biaya Visa Jepang Resmi Naik 5 Kali Lipat per 1 Juli 2026, Turis Indonesia Wajib Tahu!

Suarakitanews — Kabar penting bagi Anda yang berencana liburan ke Negeri Sakura: biaya visa Jepang naik secara signifikan mulai 1 Juli 2026. Kenaikan ini bukan sekadar penyesuaian kecil, melainkan lonjakan…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri