Jakarta, Suarakitanews.com – Rencana Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti untuk mengembalikan sistem penjurusan di SMA pada tahun ajaran 2025/2026 memicu perdebatan di kalangan pakar pendidikan, guru, hingga siswa. Sistem penjurusan IPA, IPS, dan Bahasa yang sebelumnya dihapus oleh Nadiem Makarim kini akan dihidupkan kembali melalui regulasi baru. Namun, langkah ini dianggap mencerminkan ketidakkonsistenan dalam arah kebijakan pendidikan nasional.
Latar Belakang Pengembalian Sistem Penjurusan
Abdul Mu’ti tegaskan penjurusan SMA 2025 bukan konflik kebijakan, melainkan upaya menyelaraskan pendidikan jenjang. Penjurusan dinilai bantu siswa fokus pada minat dan persiapan karier sejak dini.
Kritik dari Pengamat dan Praktisi Pendidikan
Namun, berbagai pihak menilai kebijakan ini terlalu tergesa-gesa. Ketua Umum Federasi Serikat Guru Indonesia, Fahmi Hatib, menekankan bahwa Kurikulum Merdeka belum diuji sepenuhnya karena belum menghasilkan lulusan pertama. Ia juga memperingatkan bahwa jika sistem penjurusan kembali diberlakukan, maka semua jurusan harus mendapatkan fasilitas setara, termasuk laboratorium dan alat praktik.
Ubaid Matraji dari Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia menambahkan bahwa perubahan kebijakan yang terlalu sering menunjukkan tidaknya adanya peta jalan pendidikan jangka panjang. Hal ini dinilai bertentangan dengan Visi Indonesia Emas 2045 yang diluncurkan oleh Bappenas.
“Kalau terus berubah-ubah, siswa dan guru seperti kelinci percobaan. Ini berbahaya untuk masa depan kualitas pendidikan Indonesia,” ujar Ubaid.
Sudut Pandang Guru dan Siswa
Sejumlah guru dan siswa di lapangan juga menyuarakan keprihatinan. Mereka menekankan perlunya pemerataan sarana dan prasarana, serta peningkatan kompetensi guru untuk mendukung sistem penjurusan yang efektif.
Ryu, siswa kelas X di sebuah SMA Jakarta, menyambut baik wacana penjurusan karena bisa lebih fokus pada pelajaran yang diminatinya, seperti matematika dan fisika. Namun, ia mengkritik pelajaran P5 (Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila) yang menurutnya terlalu santai dan kurang menantang.
“Kayak enggak belajar. Cuma bikin scrapbook tentang senam irama. Harapannya, kalau ada penjurusan, pelajaran P5 bisa dikurangi,” kata Ryu.
Pro dan Kontra Sistem Penjurusan SMA
Sistem penjurusan memang memiliki sisi positif, yakni membantu siswa lebih fokus dan mendalami minat mereka. Namun di sisi lain, sistem ini juga kerap melanggengkan stereotip, seperti anggapan bahwa jurusan IPA lebih unggul dibandingkan IPS atau Bahasa.
Pakar pendidikan dari Universitas Paramadina, Totok Amin Soefijanto, mengingatkan bahwa setiap anak memiliki cara belajar yang unik. Maka dari itu, penjurusan sebaiknya tidak membatasi ruang eksplorasi siswa.
Kesimpulan
Pengembalian sistem penjurusan SMA di tahun 2025 merupakan kebijakan yang perlu diiringi dengan evaluasi mendalam dan kesiapan menyeluruh. Tanpa dukungan riset, pelatihan guru, serta sarana yang memadai, kebijakan ini dikhawatirkan hanya akan menjadi eksperimen baru yang merugikan generasi muda.
Penulis : Mita Putri
Sumber : website BBC Indonesia








