Suarakitanews — Stadion Atlanta bergetar oleh isak tangis seorang pria berusia 40 tahun begitu peluit panjang dibunyikan. Bukan karena kekalahan, melainkan karena pencapaian yang baru pertama kali terjadi sepanjang sejarah Tanjung Verde: menahan Spanyol, salah satu favorit juara, tanpa kebobolan satu gol pun. Pria itu adalah Vozinha, kiper veteran yang malam itu menjelma menjadi pahlawan bagi negara kepulauan kecil di lepas pantai barat Afrika.
Dari Mindelo ke Sorotan Dunia
Lahir dengan nama Josimar Dias, perjalanan Vozinha menuju panggung Piala Dunia jauh dari kata mulus. Tumbuh besar di Mindelo, ia kerap disingkirkan dari seleksi tim meski penampilannya di bawah mistar tergolong mumpuni. Alasannya sederhana namun menyakitkan: posturnya dianggap kurang tinggi untuk seorang kiper.
Selanjutnya, demi mengejar mimpi menjadi pesepakbola profesional, ia mengikuti jejak para pendahulunya merantau ke Portugal, mantan negara penjajah Tanjung Verde, sebelum kariernya berlanjut melintasi Slovakia, Angola, Moldova, dan Siprus.
Baru pada usia 25 tahun—usia yang sebenarnya tergolong terlambat untuk memulai karier profesional—ia benar-benar menapaki jalur sepak bola serius. Kini, di klub divisi kedua Portugal, Chaves, namanya justru melesat menjadi buah bibir dunia.
Menariknya, nama “Vozinha” sendiri menyimpan sepenggal sejarah. Sang ayah sempat ingin menamainya “Valdano”, namun otoritas setempat menolak usulan tersebut. Sebagai gantinya, ia diberi nama Josimar, terinspirasi dari bek Brasil yang mencuri perhatian di Piala Dunia 1986.
Tujuh Penyelamatan yang Mengubah Sejarah
Pada usia 40 tahun dan 12 hari, Vozinha resmi tercatat sebagai pemain tertua yang melakoni debut Piala Dunia bagi negaranya. Hanya kiper Mesir, Essam El Hadary, yang pernah berdebut di usia lebih tua darinya.
Sepanjang laga, ia melakukan tujuh penyelamatan krusial untuk membendung gelombang serangan Spanyol.
Akibatnya, setiap kali bola berhasil ditepis, sorak-sorai pendukung Tanjung Verde di tribun menggelegar layaknya tim mereka baru saja mencetak gol.
Dari Lapangan Hijau ke Sensasi Media Sosial
Tak hanya mencatat sejarah di lapangan, performa gemilang itu turut mengantarkan Vozinha menjadi sensasi di dunia maya. Pengikut Instagram-nya melonjak drastis dari sekitar 50 ribu menjadi lebih dari 1,5 juta, setelah CazeTV—kanal YouTube pemegang hak siar Piala Dunia di Brasil—mendorong para penontonnya untuk mengikuti akunnya.
Air Mata untuk Kakek, Nenek, dan Sang Ibu
Di balik raihan gelar pemain terbaik pertandingan, ada kisah personal yang menyentuh. Vozinha mengungkapkan bahwa tangisannya merupakan persembahan untuk kakek-neneknya yang telah membesarkannya namun sudah lebih dulu berpulang sebelum dapat menyaksikan momen bersejarah ini. Selain itu, ia juga menyebut sang ibu yang batal hadir ke Atlanta lantaran terhambat proses dan biaya pengurusan visa.
Negara Kecil, Sambutan Sebesar Samudra
Dengan populasi kurang dari setengah juta jiwa, Tanjung Verde tercatat sebagai negara terkecil ketiga yang pernah lolos ke Piala Dunia. Karena itu, hasil imbang melawan Spanyol bukan sekadar statistik, melainkan momen kebangkitan identitas nasional.
Bahkan, penonton netral yang awalnya tidak berpihak pun akhirnya larut dalam euforia begitu peluit akhir berbunyi.
Kisah Vozinha dan Tanjung Verde malam itu membuktikan bahwa di Piala Dunia, kebesaran sebuah negara bisa dilihat dari keberanian untuk terus berjuang sampai detik terakhir.
Penulis: Mita Putri








