Suarakitanews — Gelaran Piala Dunia 2026 yang berlangsung di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ternyata tidak hanya menyimpan cerita tentang persaingan tim-tim terbaik dunia. Di balik gemerlap turnamen empat tahunan ini, muncul kekhawatiran serius dari kalangan ilmuwan soal risiko kesehatan yang mengintai para pemain akibat suhu panas ekstrem.
Sekelompok pakar dari bidang kesehatan, iklim, dan ilmu keolahragaan melayangkan surat terbuka kepada FIFA. Inti surat tersebut adalah peringatan bahwa kebijakan antisipasi cuaca panas yang dimiliki FIFA saat ini dinilai jauh dari standar ilmiah yang seharusnya diterapkan. Dengan kata lain, aturan yang ada sekarang dianggap belum mampu melindungi pemain secara memadai.
Mengapa Suhu di Piala Dunia 2026 Begitu Mengkhawatirkan
Sebanyak dua puluh akademisi dari berbagai negara — termasuk Inggris, Amerika Serikat, Kanada, Australia, hingga beberapa negara Eropa — turut membubuhkan tanda tangan dalam surat tersebut. Mereka menyoroti fakta bahwa 14 dari 16 stadion yang akan digunakan berpotensi mengalami suhu pada level berbahaya bagi tubuh manusia.
Di kawasan selatan Amerika Serikat serta utara Meksiko, suhu siang hari saat ini sudah berkisar di angka 30 derajat Celsius. Namun, angka tersebut diperkirakan bisa melonjak hingga 40 derajat saat musim panas tiba. Kondisi ini diperparah oleh tingkat kelembaban, kecepatan angin, dan intensitas sinar matahari yang ikut memengaruhi seberapa berat tekanan panas yang dirasakan tubuh pemain di lapangan.
Sebagai pembanding, kajian dari World Weather Attribution menunjukkan bahwa risiko panas dan kelembaban ekstrem di Piala Dunia 2026 jauh lebih tinggi dibandingkan Piala Dunia 1994 yang juga digelar di Amerika Serikat. Bahkan, risiko terjadinya kondisi ekstrem tersebut disebut hampir dua kali lipat dibanding tiga dekade lalu akibat perubahan iklim.
Para peneliti memperkirakan sekitar seperempat dari total pertandingan akan berlangsung pada suhu di atas 26 derajat Celsius WBGT (Wet Bulb Globe Temperature). Lebih jauh, sekitar lima laga diprediksi akan digelar saat suhu melampaui 28 derajat WBGT — setara dengan kondisi udara kering sekitar 38 derajat atau cuaca lembab di kisaran 30 derajat. Fifpro, selaku serikat pesepakbola global, menilai angka-angka tersebut membuat pertandingan berada pada level yang tidak aman.
Beda Kelelahan Akibat Panas dan Serangan Panas (Heat Stroke)
Memahami perbedaan dua kondisi ini penting agar penanganan dapat dilakukan dengan tepat dan cepat.
Kelelahan akibat panas umumnya ditandai dengan:
- Tubuh terasa lemas dan kepala pusing
- Keluar keringat berlebihan dengan kulit yang terasa lembap
- Muncul rasa mual, bahkan disertai muntah
- Otot mengalami kram
Serangan panas (heat stroke), kondisi yang jauh lebih berbahaya, ditandai dengan:
- Kebingungan atau penurunan kesadaran
- Tubuh berhenti berkeringat meski suhu sangat tinggi
- Suhu tubuh melampaui 40 derajat dengan kulit yang justru terasa panas dan kering
- Risiko kejang hingga kehilangan kesadaran
Apabila tidak ditangani secara cepat, serangan panas dapat berkembang menjadi kondisi yang mengancam jiwa. Oleh karena itu, para akademisi menilai protokol darurat di lapangan harus benar-benar matang.
Tuntutan Para Akademisi kepada FIFA
Andrew Simms, Direktur New Weather Institute yang mengoordinasikan surat terbuka ini, menyampaikan bahwa keselamatan pemain membutuhkan perhatian segera. Ia menjelaskan bahwa kondisi tubuh manusia dapat memburuk dengan sangat cepat ketika terpapar panas berlebih, sehingga keterlambatan penanganan bisa berakibat fatal. Simms bahkan menyebut ada kekhawatiran bahwa FIFA tengah mempertaruhkan keselamatan para pemain.
Senada dengan itu, Profesor Douglas Casa dari University of Connecticut menilai sebagian besar pedoman FIFA saat ini masih jauh dari ideal. Ia berpendapat bahwa durasi istirahat hidrasi semestinya diperpanjang menjadi minimal lima hingga enam menit di setiap babak, alih-alih hanya tiga menit seperti yang berlaku sekarang.
Secara garis besar, para akademisi mendesak FIFA untuk:
- Menunda atau memajukan jadwal pertandingan apabila suhu melampaui 28 derajat Celsius.
- Memperpanjang durasi jeda pendinginan tubuh menjadi setidaknya enam menit.
- Meningkatkan kualitas dan jumlah fasilitas pendinginan bagi pemain.
- Memperbarui pedoman kegawatdaruratan secara berkala sesuai temuan sains terbaru.
- Mengadopsi standar perlindungan panas yang telah diusulkan oleh Fifpro.
Langkah yang Sudah Disiapkan FIFA
Di sisi lain, FIFA menegaskan komitmennya untuk menjaga kesehatan dan keselamatan semua pihak yang terlibat, mulai dari pemain, wasit, suporter, sukarelawan, hingga staf turnamen. Pihak FIFA menyatakan bahwa risiko cuaca telah menjadi bagian dari perhitungan sejak awal perencanaan turnamen.
Beberapa langkah konkret yang disiapkan FIFA antara lain:
- Jeda wajib 30 menit pada setiap paruh waktu pertandingan, terlepas dari kondisi cuaca saat itu.
- Bangku berteknologi pendingin untuk pemain cadangan dan staf teknis di stadion luar ruangan.
- Penggunaan indikator WBGT sebagai standar pengukuran tekanan panas yang berlaku secara internasional di dunia olahraga.
- Fasilitas pendinginan bagi penonton, mulai dari area berbayang, sistem kabut air, bus pendingin, hingga distribusi air minum yang lebih luas saat prakiraan cuaca menunjukkan suhu tinggi.
FIFA juga menjelaskan bahwa apabila indikator WBGT mendekati atau melampaui 32 derajat, penyelenggara pertandingan diwajibkan mengambil tindakan pencegahan terhadap risiko penyakit akibat panas.
Data WBGT dan indeks panas inilah yang nantinya menjadi dasar pengambilan keputusan secara langsung di lapangan.
Penyusunan jadwal ini juga bertujuan meminimalkan perjalanan antarkota dan memaksimalkan waktu istirahat tim berdasarkan penilaian risiko panas di masing-masing venue.
FIFA menyebut akan terus memantau perkembangan cuaca secara berkelanjutan sepanjang turnamen dan siap menerapkan langkah tambahan jika dibutuhkan.
Tips Melindungi Diri dari Suhu Panas Ekstrem
Bagi siapa pun yang berencana menyaksikan langsung laga Piala Dunia 2026 di tengah cuaca panas, beberapa langkah sederhana berikut dapat membantu mengurangi risiko:
- Pastikan tubuh tetap terhidrasi dan konsumsi makanan berkadar air tinggi.
- Kenakan penutup kepala serta pakaian longgar berbahan menyerap keringat.
- Sebisa mungkin tetap berada di tempat teduh dan batasi aktivitas fisik berlebihan.
- Manfaatkan kipas angin, es, atau air dingin untuk membantu menurunkan suhu tubuh secara bertahap.
Penulis: Mita Putri








