Suarakitanews — Empat dekade telah berlalu, namun gol Tangan Tuhan Maradona masih menjadi salah satu topik paling hangat dalam sejarah sepak bola dunia. Bagi sebagian orang, momen itu hanyalah catatan statistik di buku sejarah Piala Dunia. Tetapi bagi mereka yang hadir langsung di Stadion Azteca pada 22 Juni 1986, kejadian itu adalah kenangan yang tidak akan pernah pudar.
Inilah kisah seorang remaja perempuan berusia 17 tahun yang, tanpa rencana sama sekali, akhirnya duduk di tribun penonton dan menyaksikan salah satu kontroversi terbesar dalam sejarah Piala Dunia.
Awal yang Tidak Terduga
Pagi itu tidak ada agenda khusus. Namun, sebuah telepon dari kenalan keluarga mengubah segalanya. Ia memiliki dua tiket pertandingan perempat final antara Argentina dan Inggris yang tidak terpakai, dan menawarkannya kepada keluarga tersebut.
Sang ayah sempat ragu. Pertandingan ini digelar tidak lama setelah Perang Falklands, sehingga ia mengkhawatirkan suasana tegang antara suporter kedua negara. Meski demikian, sang ibu bersikeras. Baginya, kesempatan menyaksikan Piala Dunia secara langsung terlalu berharga untuk dilewatkan.
Oleh karena itu, keputusan pun diambil: mereka akan pergi ke Stadion Azteca.
Suasana Kota yang Menular
Perjalanan menuju stadion sudah terasa seperti pesta tersendiri. Bendera-bendera berkibar dari jendela mobil, sementara orang-orang tak dikenal saling bersahutan meneriakkan yel-yel di tengah kemacetan. Meskipun tim nasional Meksiko sendiri sudah tersingkir dari turnamen, semangat “Viva Mexico!” tetap membara di jalanan.
Bagi remaja tersebut, sepak bola bukanlah alasan utama kegembiraannya. Ia justru lebih menikmati atmosfer perayaan itu sendiri dibandingkan pertandingan yang akan disaksikan.
Ketika Gol Kontroversial Itu Tercipta
Begitu memasuki Stadion Azteca, gemuruh suara penonton langsung menyambut. Warna-warni kostum, nyanyian dari berbagai penjuru dunia, dan energi kolektif membuat siapa pun sulit untuk tidak terbawa suasana.
Pada awalnya, perhatian sang remaja lebih tertuju pada gelombang “La Ola” yang dilakukan penonton, bukan pada jalannya pertandingan. Namun, semuanya berubah dalam sekejap ketika bola melambung di area kotak penalti Inggris.
Diego Maradona melompat berebut bola dengan kiper Inggris, Peter Shilton. Sekilas terlihat seperti sundulan biasa, tetapi bola justru masuk ke gawang setelah, seperti yang kemudian terungkap, tersentuh tangan Maradona.
Keributan pun pecah di tribun. Sebagian penonton merayakan gol tersebut, sementara yang lain memprotes keras karena yakin ada kecurangan. Wasit, yang tidak melihat sentuhan tangan itu, tetap mengesahkan gol tersebut.
Kejadian inilah yang kemudian dikenal dunia sebagai “Hand of God”, sebuah julukan yang lahir dari ucapan Maradona sendiri usai pertandingan.
Gol Kedua yang Justru Lebih Membekas
Menariknya, di tengah hiruk-pikuk perdebatan tentang gol pertama, banyak penonton hampir melewatkan momen yang terjadi hanya beberapa menit setelahnya, yakni gol kedua Maradona.
Berbeda dengan gol sebelumnya, kali ini seluruh stadion justru terdiam saat Maradona membawa bola dari area pertahanannya sendiri. Ia berlari melewati beberapa pemain Inggris dengan gerakan zig-zag yang memukau, sebelum akhirnya melepaskan tembakan yang tak terbendung ke gawang.
Stadion pun meledak dalam sorakan. Berbeda dengan gol pertama yang penuh kontroversi, gol kedua ini justru dirayakan oleh hampir semua orang, termasuk sejumlah suporter Inggris yang berada di sekitar tribun.
Dengan demikian, meskipun “Tangan Tuhan” menjadi julukan yang lebih terkenal, gol kedua inilah yang justru dianggap sebagai bukti nyata kelas seorang Maradona sebagai pemain legendaris.
Azteca, Lebih dari Sekadar Stadion
Pertandingan berakhir dengan kemenangan Argentina 2-1. Namun, yang paling membekas justru bukan hasil akhir pertandingan, melainkan pengalaman berada di dalam Stadion Azteca itu sendiri.
Stadion ini bukan sekadar arena olahraga. Setahun setelah pertandingan tersebut, ketika gempa bumi besar melanda Mexico City pada 1985, Azteca justru menjadi salah satu tempat perlindungan bagi warga yang kehilangan rumah mereka. Selain menjadi saksi sejarah sepak bola, stadion ini juga menyimpan ingatan kolektif masyarakat Meksiko tentang solidaritas dan harapan.
Selepas pertandingan, sambil menikmati taco dan buah segar bertabur cabai serta jeruk nipis dari pedagang kaki lima, muncul rasa bangga menjadi bagian dari bangsa yang dengan hangat menyambut dunia sebagai tuan rumah Piala Dunia.
Warisan yang Tetap Hidup Hingga Kini
Bertahun-tahun kemudian, ketika ia tinggal dan bekerja di Argentina, istilah “Tangan Tuhan” masih kerap disebut dalam percakapan sehari-hari, terutama saat bercanda dengan rekan-rekan asal Inggris.
Namun, di balik kontroversi yang melekat pada gol pertama, gol kedua Maradona tetap menjadi bukti tak terbantahkan mengenai kehebatan seorang legenda sepak bola. Bagi mereka yang beruntung menyaksikannya secara langsung, momen itu bukan hanya sekadar hasil pertandingan, melainkan bagian dari sejarah hidup yang terus dikenang hingga kini.
Pada akhirnya, kisah ini membuktikan bahwa sepak bola tidak selalu tentang siapa yang menang atau kalah, tetapi tentang momen-momen yang mampu menyatukan jutaan orang dalam satu ingatan bersama, seperti yang terjadi di Stadion Azteca pada tahun 1986 itu.
Penulis: Mita Putri








