LOS ANGELES, Suarakitanews — Pertandingan Iran melawan Selandia Baru di Stadion Los Angeles seharusnya hanya soal gol dan taktik. Namun, pada Piala Dunia 2026 ini, laga sesungguhnya justru terjadi di luar lapangan: antara rakyat Iran dan rezim yang mereka anggap tidak mewakili mereka.
Berikut rangkuman fakta-fakta penting dari drama politik yang mewarnai laga ini.
Masalah Visa hingga Markas Pindah Negara
Bahkan tanpa aksi protes, isu politik sudah membayangi langkah timnas Iran sejak awal. Masalah visa memaksa mereka memindahkan markas latihan dari Arizona ke Tijuana, sehingga para pemain harus bertanding di Amerika Serikat, namun menginap di seberang perbatasan, di Meksiko.
Di samping itu, kesepakatan terbaru antara Washington dan Teheran untuk meredakan konflik AS-Iran nyatanya belum mampu meredam ketegangan emosional yang dirasakan diaspora Iran, khususnya terkait peristiwa kekerasan yang terjadi di Teheran beberapa waktu lalu.
Bendera Terlarang yang Tetap Berkibar
FIFA secara resmi melarang bendera Iran era pra-Revolusi 1979 yang menampilkan lambang Singa dan Matahari masuk ke dalam stadion karena dianggap simbol politik. Namun, larangan itu nyatanya tidak mempan.
Bendera tersebut tetap berkibar di berbagai sudut tribun, bahkan tercetak di kaus-kaus yang dikenakan penonton. Selanjutnya, bagi banyak warga Iran-Amerika, simbol ini bukan sekadar nostalgia, melainkan representasi perlawanan terhadap pemerintahan Teheran saat ini.
Demonstrasi Besar di Luar Stadion
Sebelum kick-off, ratusan demonstran berkumpul di luar Stadion Los Angeles. Mereka melantangkan yel-yel seperti “Tim Mullah bukanlah tim saya” dan seruan untuk pergantian rezim di Iran.
Tidak berhenti di situ, kerumunan ini bahkan menyanyikan lagu kebangsaan Iran era pra-Revolusi, yang menurut salah satu pemuda di lokasi, maknanya adalah “kebebasan dan harga diri”.
Dua Bendera, Satu Stadion, Dua Iran yang Berbeda
Begitu masuk ke dalam stadion, suasana berubah drastis. Sorak-sorai dukungan untuk pemain justru membahana saat Iran mencetak dua gol dan menyamakan kedudukan 2-2.
Dari kejauhan, ribuan bendera Iran di tribun tampak serupa. Akan tetapi, jika diamati lebih dekat, sebagian penonton membawa bendera resmi Republik Islam Iran, sementara sebagian lainnya membentangkan bendera Singa dan Matahari. Kontradiksi inilah yang membuat laga ini layak disebut sebagai “Iran melawan Iran”.
Kisah Pilu di Balik Tribun
Di tengah hiruk-pikuk politik, kisah personal para suporter justru menjadi sorotan paling menyentuh. Samaneh, warga Iran-Amerika yang telah satu dekade tinggal di AS, mengaku menangis saat lagu kebangsaan Iran dikumandangkan.
Ia datang untuk mendukung Iran, bukan rezimnya, sementara ibunya sendiri tertahan di Iran akibat masalah dokumen dan kebijakan pembatasan perjalanan. Kemudian, ia juga mengungkapkan rasa takutnya untuk pulang dan berkunjung ke tanah airnya sendiri.
Sorak-sorai Ironis Saat Selandia Baru Unggul
Salah satu momen paling ironis terjadi ketika Selandia Baru sempat unggul lebih dulu. Sejumlah penonton anti-rezim justru bersorak merayakannya sambil mengibarkan bendera Singa dan Matahari, sebagai bentuk sindiran terhadap tim yang mereka anggap mewakili pemerintah, bukan rakyat.
Tali Gantungan Sebagai Simbol Protes
Tidak jauh dari kerumunan, seorang pria bernama Kourosh tampil dengan tali tiang gantungan buatan yang melingkar di lehernya. Baginya, ini adalah simbol untuk mendesak penghentian eksekusi mati terhadap orang-orang yang ia sebut tidak bersalah di Iran.
Selanjutnya, ia menegaskan bahwa para pemain di lapangan, menurut pandangannya, mewakili rezim, bukan rakyat Iran.
Pembelaan dari Para Pemain Timnas
Di tengah gelombang kritik, striker Mehdi Taremi menegaskan bahwa timnya bermain untuk seluruh rakyat Iran, baik yang berada di dalam maupun luar negeri, dan tidak ikut campur dalam urusan politik.
Pernyataan ini pun mendapat dukungan dari beberapa suporter. Mostafa, misalnya, percaya bahwa sepak bola seharusnya menyatukan orang, bukan memecah belah karena urusan politik.
Perjalanan Jauh demi Sebuah Keyakinan
Tidak sedikit suporter yang menempuh perjalanan jauh demi mendukung Iran. Pourmand, misalnya, rela menempuh perjalanan dari San Diego menuju kamp pelatihan timnas Iran di Tijuana, Meksiko, sekaligus telah menghadiri dua gelaran Piala Dunia sebelumnya.
Dengan mengenakan warna bendera Iran dari ujung kepala hingga kaki, ia menegaskan keyakinannya bahwa para pemain sama sekali tidak berpolitik dan justru membawa pesan persahabatan serta nilai kemanusiaan.
Mengenang Ayah Lewat Sepak Bola
Elika, warga Iran-Amerika lainnya, juga membagikan kisah personalnya. Sejak ayahnya wafat pada 2020, menonton aksi Iran di Piala Dunia menjadi cara baginya untuk menghormati kenangan sang ayah.
Meski demikian, ia mengaku tetap berusaha memisahkan antara tim nasional dan pemerintah, sambil berharap rakyat Iran bisa segera merasakan kedamaian.
Kesimpulan: Sepak Bola yang Gagal Jadi Pemersatu
Pada akhirnya, laga Iran melawan Selandia Baru di Piala Dunia 2026 ini membuktikan bahwa sepak bola tidak selalu mampu menjembatani perbedaan, terutama ketika luka politik begitu dalam. Timnas Iran mungkin bercita-cita menyatukan rakyatnya lewat pertandingan, tetapi yang tersaji justru sebaliknya: sebuah jurang pemisah yang masih nyata di antara sesama rakyat Iran sendiri.
Penulis: Mita Putri








