Suarakitanews — Amerika Serikat kembali melancarkan serangan militer terhadap sejumlah situs radar dan fasilitas komando Iran, sementara Kuwait melaporkan serangan rudal dan drone yang mengguncang kawasan Teluk. Eskalasi ini menjadi yang ketiga dalam sepekan terakhir dan semakin memperkeruh situasi di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis dunia.
Serangan AS: Diklaim sebagai Tindakan Membela Diri
Komando Pusat Amerika Serikat (Centcom) menyatakan bahwa serangan yang dilancarkan pada Sabtu dan Minggu merupakan “serangan untuk membela diri” atas tindakan agresif Iran, termasuk penembakan jatuh drone AS di perairan internasional.
Tidak hanya itu, militer AS juga menegaskan bahwa jet tempurnya menyerang sistem pertahanan udara Iran, stasiun kendali darat, serta dua drone yang dinyatakan mengancam kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut. Serangan tersebut menargetkan dua lokasi utama, yaitu kota Goruk di dekat pantai selatan Iran dan Pulau Qeshm di Selat Hormuz.
Menurut pernyataan resmi Centcom, tidak ada personel AS yang mengalami cedera dalam operasi tersebut.
Iran Balas dengan Targetkan Pangkalan AS
Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengaku telah membalas dengan menargetkan pangkalan udara yang digunakan Amerika Serikat untuk melancarkan serangan terhadap menara komunikasi Iran di Pulau Sirri, yang berjarak sekitar 65 kilometer dari garis pantai selatan Iran.
Selain itu, IRGC memberikan peringatan keras bahwa respons mereka akan “sepenuhnya berbeda” apabila agresi AS kembali terjadi. Pernyataan ini dilaporkan oleh kantor berita semi-resmi Iran, Fars, dan menunjukkan bahwa Tehran tidak akan tinggal diam menghadapi tekanan militer dari Washington.
Di sisi lain, Kepala Perunding Iran menegaskan bahwa negosiasi tidak akan membuahkan hasil kecuali hak-hak Iran sepenuhnya dijamin dalam setiap kesepakatan yang dicapai.
Kuwait Hadapi Serangan Rudal dan Drone
Lebih lanjut, Kuwait — negara yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS — melaporkan bahwa sistem pertahanan udaranya menghadapi serangan rudal dan drone yang bersifat permusuhan pada Senin. Sirene peringatan serangan udara dilaporkan berbunyi di seluruh penjuru negeri, sebagaimana dilaporkan kantor berita negara Kuwait, KUNA.
Namun demikian, pihak berwenang Kuwait tidak merinci lokasi pencegatan maupun asal serangan tersebut. Ini bukan pertama kalinya Kuwait menjadi sasaran. Sebelumnya, Iran juga menargetkan pangkalan udara di Kuwait sebagai respons atas serangan udara AS sebelumnya.
Trump: “Semuanya Akan Berakhir Baik”
Akibatnya, tekanan diplomatik pun meningkat. Presiden Donald Trump merespons situasi ini melalui unggahan di Truth Social, meminta para pengkritiknya untuk “duduk santai dan tenang”, seraya menegaskan bahwa semua hal “akan berakhir dengan baik pada akhirnya”.
Trump juga mengklaim bahwa Iran “sangat ingin mencapai kesepakatan” dan bahwa kesepakatan tersebut akan menguntungkan Amerika Serikat. Meskipun demikian, hingga kini belum ada kesepakatan resmi yang berhasil dicapai antara kedua pihak.
Laporan CBS News mengungkapkan bahwa perubahan yang diminta Trump mencakup pengaturan jalur pelayaran di Selat Hormuz serta penghapusan uranium yang telah diperkaya pada tingkat tinggi — dua poin yang menjadi hambatan utama dalam negosiasi.
Dampak Global: Harga Minyak Terancam Naik
Pada akhirnya, eskalasi ini tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, tetapi juga mengancam stabilitas ekonomi global. Pasalnya, sekitar seperlima dari total pengiriman minyak dunia dan gas alam cair (LNG) biasanya melewati jalur pelayaran di Teluk Persia.
Embargo perdagangan de facto yang saat ini terjadi akibat ketegangan AS-Iran telah mendorong kenaikan harga bahan bakar di seluruh dunia, yang berpotensi memperburuk kondisi ekonomi global yang sudah rapuh.
Gencatan Senjata Terancam Runtuh
Meskipun gencatan senjata antara AS dan Iran mulai berlaku sejak 8 April, ketegangan terus meningkat tanpa tanda-tanda mereda. Trump dan para penasihat seniornya memang telah bertemu pada Jumat untuk mengambil “keputusan akhir” mengenai kerangka perpanjangan gencatan senjata, namun pertemuan tersebut berakhir tanpa kejelasan.
Selain itu, negosiasi mengenai program nuklir Iran juga belum menunjukkan kemajuan berarti, sehingga situasi di Selat Hormuz tetap dalam kondisi yang sangat rentan dan mudah tersulut kembali.
Penulis: Mita Putri








