Venezuela, Suarakitanews — Sebuah pesan suara singkat di WhatsApp menjadi awal dari berjam-jam kecemasan yang tak terlupakan. “Baru saja terjadi gempa yang sangat hebat, saat ini masih terasa gunangannya,” demikian isi pesan dari Veronica, yang dikirim kepada saudarinya, Herma, tepat pukul 18.06 waktu Caracas.
Suara Veronica terdengar terengah-engah, seolah baru saja berlari menyelamatkan diri. Di baliknya, sayup-sayup terdengar suara sang ibu, meski tak jelas apa yang diucapkannya. Selanjutnya, jaringan komunikasi pun terputus—dan dari situlah kisah penantian panjang seorang perempuan mencari kabar keluarganya di tengah bencana dimulai.
Kronologi Gempa Bumi yang Mengguncang Venezuela
Berdasarkan data resmi Survei Geologi Amerika Serikat (USGS), gempa pertama tercatat berkekuatan magnitudo 7,2. Tak sampai satu menit kemudian, gempa susulan yang lebih dahsyat—magnitudo 7,5—kembali mengguncang wilayah tersebut. Kombinasi dua gempa besar dalam rentang waktu sangat singkat inilah yang membuat dampaknya begitu masif dan mengejutkan warga Caracas.
Selanjutnya, kepanikan pun menyebar dengan cepat. Warga Los Palos Grandes, kawasan tempat tinggal ibu dan saudari Herma, termasuk salah satu area yang terdampak signifikan. Padahal, wilayah ini sebelumnya dikenal sebagai kawasan dengan riwayat seismik tinggi, mengingatkan generasi tua warga Caracas pada gempa besar tahun 1967 yang jauh lebih ringan dibandingkan kejadian kali ini.
Kebetulan, hari terjadinya gempa bertepatan dengan hari libur nasional di Venezuela, sehingga Veronica dan ibunya sedang berkumpul di apartemen yang sama. Jika bukan karena momen tersebut, keduanya kemungkinan besar berada di lokasi berbeda saat bencana terjadi.
Komunikasi Lumpuh, Kecemasan Memuncak
Setelah mendengarkan pesan suara tersebut, Herma segera mencoba menelepon balik. Namun, panggilannya tak pernah terjawab. Begitu pula saat ia mencoba menghubungi sang ibu—tidak ada respons sama sekali.
Karena itu, ia beralih ke sebuah grup percakapan berisi rekan-rekan jurnalis yang tinggal di Caracas, berharap mendapat gambaran lebih jelas mengenai skala bencana. Tanggapan yang masuk pun beragam, mulai dari ungkapan kekacauan hingga kepanikan yang ditulis dengan huruf kapital sebagai tanda keseriusan situasi.
Sayangnya, pesan-pesan pribadi yang dikirim Herma kepada Veronica tak kunjung terkirim—hanya menampilkan tanda centang satu, tanda bahwa jaringan telepon dan internet di Caracas sedang lumpuh total. Di sisi lain, peringatan resmi mulai berdatangan: dampak gempa dilaporkan turut dirasakan hingga Kolombia, Trinidad dan Tobago, serta Antillen Belanda, disertai peringatan potensi tsunami.
Bangunan Runtuh, Kekhawatiran akan Korban Jiwa
Selagi menunggu kabar, video-video amatir mulai membanjiri media sosial dan grup percakapan. Rekaman memperlihatkan warga yang berteriak dan menangis sambil berusaha menyelamatkan diri keluar gedung, sebagian bahkan menggendong hewan peliharaan mereka di tengah reruntuhan dinding yang berjatuhan.
Kabar yang lebih mengejutkan datang ketika seorang teman menyebut adanya bangunan yang runtuh total di First Avenue, Los Palos Grandes—lokasi yang hanya berjarak beberapa meter dari apartemen keluarga Herma. Sebuah video memperlihatkan gedung tersebut hancur hingga menyerupai serpihan biskuit, membuat kekhawatiran semakin memuncak.
Tidak hanya di Los Palos Grandes, laporan kerusakan serupa juga muncul dari kawasan San Bernardino, Bandara Internasional Simón Bolívar di Negara Bagian La Guaira, hingga sejumlah wilayah pedalaman Venezuela lainnya. Meski begitu, pemerintah setempat belum merilis data resmi mengenai jumlah korban jiwa maupun luka-luka.
Kabar Baik di Tengah Kepanikan
Setelah penantian yang menegangkan, akhirnya seorang rekan jurnalis berhasil menyambungkan panggilan dengan Veronica melalui jaringan lokal Venezuela. Dengan suara lega, Veronica mengonfirmasi bahwa ia dan sang ibu selamat, meski dalam kondisi trauma.
“Kami sedang berada di sudut jalan di luar rumah. Bangunan apartemen hancur berantakan, dinding-dindingnya retak. Saya tidak mendapatkan sinyal, saya tidak bisa berkomunikasi,” ungkapnya melalui sambungan telepon.
Kabar tersebut sontak melegakan Herma, yang sebelumnya sempat kebingungan mencocokkan lokasi gedung-gedung yang runtuh melalui Google Maps. Namun, di sisi lain, seorang teman lainnya mengabarkan bahwa apartemennya sendiri kemungkinan besar sudah tidak layak huni akibat kerusakan struktural yang parah.
“Saya Mengira Kami Akan Mati”
Mereka memilih berlindung di bagian rumah yang dianggap paling aman, sembari menyelamatkan kucing peliharaan yang bersembunyi di bawah tempat tidur.
Dengan suara bergetar menahan tangis, ia berkata bahwa ia tak pernah membayangkan akan mengalami kejadian seburuk ini.
Keesokan harinya, ia berencana kembali ke apartemennya untuk memastikan apakah masih ada tempat yang bisa ia tinggali.
Penulis: Mita Putri








