Suarakitanews — Citra satelit dari berbagai sumber internasional mengungkap fakta mengejutkan: sejak perang meletus pada akhir Februari 2026, Iran telah berhasil menghancurkan atau merusak sedikitnya 20 fasilitas militer Amerika Serikat yang tersebar di delapan negara kawasan Timur Tengah. Angka ini jauh melampaui pengakuan resmi yang selama ini disampaikan pihak Pentagon kepada publik.
Temuan ini semakin memperkuat kekhawatiran para analis pertahanan global bahwa dampak nyata dari konflik Iran–AS jauh lebih serius daripada yang tampak di permukaan.
Iran Targetkan 8 Negara Sekaligus, Kerusakan Capai Miliaran Dolar
Berdasarkan analisis citra satelit yang dikombinasikan dari berbagai penyedia internasional, serangan Iran menyasar fasilitas-fasilitas militer AS dan pangkalan bersama di Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Kuwait, Irak, Yordania, Bahrain, dan Oman.
Sementara itu, sejumlah analis memperkirakan jumlah pangkalan yang terdampak bisa mencapai 28 titik, lebih banyak dari angka 20 yang telah terkonfirmasi secara visual.
Akibatnya, kerugian material yang ditimbulkan sangat signifikan — mulai dari sistem pertahanan udara canggih, radar, hingga pesawat pengisian bahan bakar senilai ratusan juta hingga miliaran dolar AS.
Sistem Rudal THAAD Bernilai Rp17,8 Triliun Ikut Jadi Sasaran
Salah satu temuan paling mengejutkan adalah rusaknya tiga sistem peluncur rudal anti-balistik THAAD (Terminal High Altitude Area Defense) — masing-masing bernilai sekitar US$1 miliar atau setara Rp17,8 triliun per unit.
Ketiga sistem tersebut teridentifikasi hancur di Pangkalan Udara Al Ruwais dan Al Sader di UEA, serta Pangkalan Udara Muwaffaq Salti di Yordania.
Yang perlu diketahui, AS hanya mengoperasikan delapan sistem THAAD di seluruh dunia. Setiap peluncur membutuhkan sekitar 100 personel untuk dioperasikan, sementara setiap rudal yang ditembakkan berharga US$12,7 juta (Rp226 miliar) per unit.
Lebih lanjut, Laksamana Madya Mark Mellett, mantan kepala staf Angkatan Bersenjata Irlandia, menegaskan bahwa sistem ini merupakan inti dari jaringan pertahanan regional yang “sangat kompleks” dan tidak dapat digantikan dengan cepat maupun mudah.
Pentagon Klaim Kemenangan, Tapi Fakta di Lapangan Bicara Lain
Di sisi lain, Pentagon mengklaim telah menyerang lebih dari 13.000 target di Iran sejak dimulainya Operasi Epic Fury. Gedung Putih pun berulang kali menyebut bahwa militer Iran “hampir sepenuhnya dilumpuhkan.”
Namun, para analis independen yang menelaah citra satelit menemukan gambaran yang sangat berbeda. Kerusakan yang terlihat pada fasilitas-fasilitas AS justru menunjukkan bahwa serangan balasan Iran lebih tepat sasaran dan lebih luas dari yang diakui pejabat Amerika.
Tidak hanya itu, Pentagon dalam laporan bulan Mei 2026 mengalokasikan total biaya Operasi Epic Fury sebesar US$29 miliar — sebagian besar diperkirakan untuk biaya perbaikan dan penggantian peralatan yang hancur. Sejumlah politisi Partai Demokrat bahkan menyebut angka tersebut sebagai perkiraan yang terlalu rendah.
Pesawat Tempur F-35 hingga Drone MQ-9 Reaper Ikut Hancur
Selain sistem rudal, laporan tersebut juga mengidentifikasi setidaknya:
- 42 pesawat termasuk jet tempur F-15 dan F-35
- 24 drone MQ-9 Reaper
- 1 pesawat serang A-10
…yang dilaporkan hancur atau mengalami kerusakan parah sejak Februari 2026.
Salah satunya, sebuah pesawat pengintai E-3 Sentry yang teridentifikasi oleh analis MAIAR hancur di Pangkalan Udara Prince Sultan, Arab Saudi. Biaya penggantinya diperkirakan mencapai US$700 juta.
Selain itu, di Pangkalan Camp Arifjan, Kuwait, perusahaan intelijen pertahanan Janes mengidentifikasi kerusakan luas pada perangkat komunikasi satelit milik AS.
Taktik Iran Berubah: Dari Gelombang Massal ke Serangan Presisi
Menariknya, para ahli mencatat bahwa taktik serangan Iran telah berevolusi secara signifikan selama jalannya konflik.
“Serangan awal Iran dirancang mengandalkan gelombang massal yang bertujuan melumpuhkan sistem pertahanan udara melalui jumlah besar,” ungkap Dr. Kelly Grieco, analis dari lembaga pemikir Stimson Center yang berbasis di AS.
“Namun, dalam beberapa hari, Iran beralih ke rentetan yang lebih kecil dan lebih tepat sasaran. Mereka menghemat rudal dan drone yang tersisa untuk target bernilai tinggi,” tambahnya.
Sementara itu, analis MAIAR menilai militer AS “tampaknya lengah pada tahap awal perang” karena gagal mengalihkan pesawat tepat waktu dari jangkauan serangan Iran yang terus berkembang.
AS Batasi Akses Citra Satelit, Ada Apa?
Yang tidak kalah mengejutkan, AS secara aktif berupaya membatasi akses publik terhadap citra satelit di wilayah konflik. Planet, salah satu penyedia citra satelit terbesar dunia, diminta melakukan pembatasan “tanpa batas waktu” terhadap gambar baru dari Iran dan sebagian besar kawasan Timur Tengah.
Planet membenarkan langkah ini dengan alasan mencegah citra digunakan “oleh pihak lawan untuk menargetkan personel dan warga sipil sekutu serta mitra NATO.”
Khamenei: AS Tidak Akan Lagi Punya Tempat Aman di Timur Tengah
Di tengah situasi yang kian memanas, Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei pada 26 Mei 2026 bersumpah bahwa Timur Tengah tidak lagi menjadi “tempat yang aman” bagi pangkalan militer Amerika.
“AS tidak akan lagi memiliki tempat aman di kawasan ini, bahkan untuk mendirikan pangkalan militer. Dan dari hari ke hari akan semakin menjauh dari posisinya sebelumnya,” tegasnya.
Pernyataan ini muncul hanya beberapa hari sebelum Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) kembali menyatakan melancarkan serangan ke sebuah pangkalan AS — menyusul serangan baru Amerika di wilayah selatan Iran pada 28 Mei 2026.
Jika Gencatan Senjata Runtuh, AS Makin Rentan
Akibatnya, Dr. Grieco memperingatkan konsekuensi serius jika gencatan senjata yang kini berjalan rapuh itu runtuh kembali.
“Konflik saat ini telah menghabiskan stok pertahanan udara AS dan sekutunya dalam jumlah besar. Tidak ada cara cepat untuk mengisi kembali persediaan tersebut,” ujarnya.
“Artinya, serangan baru dari Iran akan dihadapi dengan hanya sebagian kecil dari jumlah pertahanan yang tersedia saat konflik dimulai,” pungkasnya.
Berdasarkan seluruh data dan analisis di atas, satu hal menjadi jelas: gambaran resmi yang disajikan Washington kepada publik belum sepenuhnya mencerminkan kenyataan di lapangan — dan citra satelit terus membuktikannya.
Penulis: Mita Putri








