Suarakitanews — Selama bertahun-tahun, nama Mahmoud Ahmadinejad identik dengan retorika keras anti-Israel dan penolakan terhadap Holocaust. Namun kini, mantan presiden Iran itu justru disebut-sebut dalam laporan mengejutkan sebagai bagian dari rencana pascaperang Amerika Serikat dan Israel di Iran.
Pertanyaannya: siapa sebenarnya Ahmadinejad? Dan mengapa namanya tiba-tiba muncul di tengah konflik besar AS-Iran?
Sosok yang Membangun Reputasi dari Retorika Keras
Sebelum memahami kontroversi terkini, penting untuk menelusuri perjalanan politik Ahmadinejad sejak awal.
Pada 2003, ia terpilih sebagai Walikota Teheran meski sebelumnya hampir tidak dikenal di panggung politik nasional. Dua tahun kemudian, tepatnya 2005, ia melangkah ke kursi presiden dengan dukungan penuh dari Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei.
Namun yang membuat dunia mengenal namanya bukanlah kebijakan domestik, melainkan pernyataan-pernyataannya yang menggemparkan. Dalam konferensi bertajuk “Dunia Tanpa Zionisme” di Teheran pada Oktober 2005, Ahmadinejad secara terbuka menyatakan bahwa dunia tanpa Amerika dan Zionisme adalah sesuatu yang bisa diwujudkan.
Tak berhenti di situ. Ia juga menyelenggarakan Konferensi Internasional untuk Meninjau Visi Global Holocaust yang kontroversial di Teheran — sebuah forum yang mengundang para penyangkal Holocaust dari seluruh dunia dan memicu gelombang kecaman internasional.
“Rezim yang dibenci ini berada di jalur menuju kehancuran. Dengan kehendak Tuhan, rezim ini akan runtuh dan tidak ada faktor yang dapat menyelamatkannya.”
— Mahmoud Ahmadinejad
Ironisnya: Ahmadinejad Justru Menguntungkan Israel?
Menariknya, sejumlah pejabat dan analis Israel justru secara terbuka menyatakan bahwa Ahmadinejad menguntungkan Israel.
Pada 2008, Efraim Halevy, mantan Kepala Mossad, menyebut Ahmadinejad sebagai “hadiah terbesar Iran bagi Israel.” Alasannya sederhana namun tajam: retorika ekstrem Ahmadinejad memudahkan dunia internasional untuk mengambil ancaman Iran secara serius, sehingga legitimasi Israel dalam menghadapi Teheran semakin kuat.
Dengan kata lain, semakin keras Ahmadinejad berbicara, semakin besar dukungan internasional yang mengalir ke Israel. Ironisnya, musuh bebuyutan Israel itu tanpa sadar justru memperkuat posisi lawan.
Laporan New York Times yang Mengguncang
Situasi berubah dramatis ketika The New York Times merilis laporan mengejutkan yang menyebutkan bahwa AS dan Israel memiliki rencana pascaperang yang melibatkan Ahmadinejad sebagai calon pemimpin Iran di masa depan.
Dalam rencana tersebut, dipertimbangkan kemungkinan Ahmadinejad memisahkan diri dari struktur keamanan Iran dan tampil sebagai figur alternatif kepemimpinan.
Namun, laporan itu juga mencatat bahwa rencana ini gagal terlaksana karena serangan yang dimaksudkan untuk membebaskan Ahmadinejad dari tahanan rumah justru melukai dirinya. Hingga kini, keberadaan Ahmadinejad masih belum diketahui secara pasti.
Para Pakar Skeptis: Antara Fakta dan Narasi Politik
Laporan tersebut langsung disambut gelombang skeptisisme dari para analis terkemuka.
Max Abrahms, profesor ilmu politik di Northeastern University, menegaskan laporan itu harus diperlakukan dengan “skeptisisme yang sangat tinggi” mengingat tingginya tingkat misinformasi di tengah situasi perang.
Senada dengan itu, Ilan Berman dari American Foreign Policy Council menepis dugaan rencana penempatan Ahmadinejad kembali ke tampuk kekuasaan. Menurutnya, sekalipun nama Ahmadinejad sempat dipertimbangkan, ia bukanlah kandidat yang diunggulkan.
Sementara itu, Michael Rubin dari American Enterprise Institute menyebut laporan New York Times tersebut “fantastis” dan mengkritik ketergantungan surat kabar itu pada sumber-sumber anonim.
Namun demikian, The New York Times tetap bersikukuh dengan laporannya, menyatakan bahwa informasi tersebut didasarkan pada percakapan langsung dengan pejabat Amerika, Israel, dan Iran.
Reaksi dari Israel: “Dunia Fantasi”
Dari sisi Israel, respons para pakar keamanan tak kalah tajam.
Danny Citrinowics dari Institute for National Security Studies menulis bahwa setiap upaya “menobatkan” Ahmadinejad mencerminkan kesalahpahaman mendalam terhadap sistem politik Iran. Ia menegaskan, Ahmadinejad tidak memiliki basis kekuatan nyata dan tidak akan pernah mendapat dukungan dari IRGC — pasukan elite Iran.
Lebih jauh, analis keamanan senior Yossi Melman menyebut kisah ini “gila dalam banyak hal” dan menilai bahwa pemikiran tentang keruntuhan rezim Iran melalui serangan udara menunjukkan para perencana AS dan Israel “hidup dalam dunia fantasi.”
Perubahan Citra: Dari Presiden Keras ke Penggemar Tupac?
Selepas masa jabatannya pada 2013, Ahmadinejad mulai menunjukkan wajah yang berbeda — setidaknya di media sosial.
Ia aktif menulis dalam bahasa Inggris, memberi selamat kepada tim football Universitas Michigan, mengutip rapper legendaris Tupac Shakur, bahkan memuji Presiden Donald Trump sebagai sosok yang “memerangi korupsi politik di Amerika.”
Pergeseran citra ini, menurut Raz Zimmt dari Institute for National Security Studies Israel, merupakan upaya Ahmadinejad untuk membangun persona yang lebih demokratis — baik di dalam negeri maupun di hadapan audiens Barat.
Kendati demikian, Zimmt menegaskan bahwa Ahmadinejad tidak pernah memiliki tingkat dukungan yang cukup untuk merebut kekuasaan di negara berpenduduk lebih dari 90 juta jiwa.
Mengapa Nama Ahmadinejad Tetap Relevan?
Di tengah semua skeptisisme ini, satu pertanyaan tetap menggantung: mengapa nama Ahmadinejad terus muncul?
Jawabannya kemungkinan terletak pada kombinasi tiga hal yang dimilikinya secara bersamaan:
- Ketenaran luas — ia dikenal hampir di seluruh lapisan masyarakat Iran
- Pengalaman memerintah — ia memahami mekanisme kekuasaan Iran dari dalam
- Jarak dengan Khamenei — perselisihannya dengan pemimpin tertinggi membuatnya tidak dianggap sebagai bagian dari rezim yang ada
Kombinasi ini, menurut sejumlah pakar kebijakan luar negeri, mungkin menjadikannya figur yang dipandang berguna dalam masa kekacauan — bukan sebagai sekutu sejati, melainkan sebagai alat sementara untuk menciptakan perpecahan dalam struktur kekuasaan Iran.
Misteri yang Belum Terpecahkan
Hingga saat ini, tidak ada bukti konkret yang mengaitkan Ahmadinejad dengan Israel maupun Amerika Serikat secara langsung.
Namun kontradiksi tetap nyata: seorang politikus yang selama puluhan tahun membangun reputasinya di atas retorika anti-Israel kini justru disebut-sebut sebagai opsi potensial bagi masa depan Iran versi Washington dan Tel Aviv.
Apakah ini strategi geopolitik yang nyata, operasi disinformasi, atau sekadar spekulasi di tengah kekacauan perang — jawaban atas misteri Ahmadinejad tampaknya belum akan terungkap dalam waktu dekat.
Penulis: Mita Putri








