Suarakitanews – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi perhatian publik setelah Badan Gizi Nasional (BGN) menggandeng lembaga pemasyarakatan (lapas) untuk mengelola dapur penyedia makanan bagi siswa sekolah.
Setidaknya, sebanyak 36 dapur MBG ditargetkan mulai beroperasi di berbagai lapas pada akhir Mei 2026. Salah satu yang menjadi sorotan adalah dapur MBG di Lapas Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat.
Selain melibatkan narapidana sebagai pekerja dapur, program ini juga menuai kritik karena dianggap tidak sesuai dengan fungsi utama lembaga pemasyarakatan.
BGN Sebut Lapas Punya Fasilitas Memadai
Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengatakan pelibatan lapas dilakukan karena fasilitas yang dimiliki dinilai memadai dan strategis untuk mendukung program MBG.
Selain itu, menurutnya, lapas berada di tengah masyarakat sehingga dapat mempercepat distribusi makanan bergizi gratis kepada para penerima manfaat.
“Lapas adalah salah satu institusi yang memiliki fasilitas memadai dan ada di tengah masyarakat,” ujar Dadan.
Ia juga menyebut Lapas Sukamiskin menjadi pionir pelaksanaan dapur MBG sejak uji coba dilakukan pada akhir 2024 dan resmi berjalan pada Januari 2025.
Narapidana Terlibat dalam Pengolahan Menu MBG
Di dapur MBG Lapas Sukamiskin, sejumlah warga binaan terlihat memasak berbagai menu seperti nasi, bihun sayur, ayam berbumbu, telur, hingga tempe goreng.
Selanjutnya, makanan tersebut dikemas ke dalam ompreng sebelum dikirim ke sekolah-sekolah penerima manfaat.
Menurut pihak lapas, dapur MBG ini terpisah dari dapur khusus makanan narapidana sehingga operasionalnya berjalan secara mandiri.
Saat ini, dapur MBG Sukamiskin melayani sekitar 1.698 porsi makanan per hari untuk lima sekolah dan satu puskesmas di wilayah Arcamanik, Bandung.
Menu MBG Dinilai Bergizi, Namun Kurang Variatif

Salah satu sekolah penerima manfaat mengaku menu yang diberikan cukup memenuhi kebutuhan gizi siswa.
Menu yang disajikan umumnya terdiri dari nasi, telur, ayam, ikan, sayuran, buah, dan susu dalam waktu tertentu.
Namun demikian, beberapa orang tua siswa menilai variasi makanan masih tergolong standar sehingga anak-anak mulai merasa bosan.
“Kalau kualitasnya baik, tapi menunya kurang variatif,” ujar salah satu wali murid.
Meski begitu, hingga kini belum ada laporan kasus keracunan makanan dari dapur MBG Lapas Sukamiskin.
Pelibatan Lapas Dipertanyakan
Di sisi lain, pelibatan lapas sebagai dapur MBG mendapat kritik dari sejumlah pihak.
Peneliti Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Isnawati Hidayah, menilai fungsi utama lapas adalah rehabilitasi narapidana, bukan memproduksi makanan untuk masyarakat umum.
Selain itu, ia mempertanyakan sistem pengawasan hingga kompetensi tenaga pengolah makanan di dalam lapas.
Sementara itu, Indonesia Corruption Watch (ICW) menduga pelibatan lapas dalam proyek MBG berpotensi menjadi ajang “bagi-bagi proyek”.
Apalagi, program MBG memiliki nilai anggaran yang sangat besar dan melibatkan banyak pihak.
BGN Klaim Program Berdampak Positif
Meski menuai kritik, BGN tetap menilai program ini memberikan dampak positif, terutama bagi warga binaan yang ikut bekerja di dapur MBG.
Menurut pihak lapas, para narapidana yang terlibat mendapatkan pelatihan soal higienitas, sanitasi, hingga pengemasan makanan.
Selain itu, mereka juga menerima upah harian yang sebagian disimpan sebagai tabungan untuk bekal setelah bebas nanti.
Karena itu, pemerintah berharap program ini tidak hanya mendukung pemenuhan gizi siswa, tetapi juga menjadi bagian dari pembinaan narapidana.
Penulis: Mita Putri








