Lumba-Lumba Kamikaze: Senjata Rahasia Uni Soviet yang Kini Dimiliki Iran dan Mengejutkan Pentagon

Suarakitanews – Pada konferensi pers Pentagon, Selasa (05/05/2025), sebuah pertanyaan tak biasa mengejutkan ruangan: apakah Iran benar-benar menggunakan lumba-lumba bunuh diri dalam peperangan? Pertanyaan itu bukan sekadar lelucon.

Di baliknya tersimpan sejarah panjang program senjata bawah laut paling rahasia di dunia — program yang berakar dari kejayaan militer Uni Soviet dan kini, menurut berbagai laporan, berada di tangan Iran.

Pertanyaan yang Mengejutkan Pentagon

Seorang reporter dari The Daily Wire meminta Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, untuk menanggapi laporan penggunaan lumba-lumba kamikaze oleh Iran. Jawabannya mengundang tawa sekaligus tanda tanya.

“Saya tidak dapat mengonfirmasi maupun menyangkal lumba-lumba bunuh diri milik kami sendiri, tetapi saya dapat mengonfirmasi bahwa mereka tidak memiliki hal seperti itu,” ujar Hegseth.

Sementara itu, Jenderal Dan Caine, Ketua Kepala Staf Gabungan AS, justru bertanya balik dengan sarkasme ringan: “Ini terdengar seperti cerita tentang hiu yang dilengkapi sinar laser, bukan?”

Namun demikian, pernyataan-pernyataan itu rupanya merespons laporan serius dari The Wall Street Journal yang terbit lima hari sebelumnya, berjudul “Iran is Looking for a Way to Counter a Blockade It Cannot Break.”

Ancaman di Selat Hormuz: Lumba-Lumba hingga Pemutusan Kabel Internet
Menurut laporan The Wall Street Journal, blokade angkatan laut AS telah mengekspos kelemahan besar dalam strategi Iran untuk menguasai Selat Hormuz — salah satu jalur pelayaran tersibuk dan terpenting di dunia.

Lebih lanjut, laporan itu menyebutkan bahwa pejabat Iran telah mengancam akan menggunakan senjata-senjata yang belum pernah dikerahkan sebelumnya. Mulai dari kapal selam, lumba-lumba yang membawa ranjau laut, hingga ancaman memutus kabel serat optik di Selat Hormuz — sebuah tindakan yang berpotensi mengganggu lalu lintas internet global.

Meski terdengar fantastis, praktik penggunaan mamalia laut untuk keperluan militer sebenarnya bukan hal baru. Program ini bahkan telah berlangsung selama puluhan tahun.

Asal-Usul: Program Rahasia Angkatan Laut Soviet

Untuk memahami konteksnya, kita perlu kembali ke era Perang Dingin. Uni Soviet mengembangkan program pelatihan mamalia laut militer yang sangat canggih, khususnya di pangkalan Angkatan Laut di Sevastopol, Semenanjung Krimea, dan di Samudra Pasifik.

Lumba-lumba, paus beluga, singa laut, walrus, dan anjing laut dilatih untuk menjalankan berbagai misi tempur, di antaranya:

  • Menyerang penyelam musuh menggunakan tombak yang dipasang di punggung mereka
  • Menyeret penyelam asing ke permukaan untuk ditangkap
  • Menyerang lambung kapal dalam misi bunuh diri dengan membawa ranjau yang meledak saat bersentuhan
  • Mendeteksi kapal selam musuh berdasarkan suara baling-balingnya

Yang menarik, kemampuan deteksi suara ini memungkinkan lumba-lumba membedakan kapal selam Soviet dari kapal selam asing — sebuah kemampuan yang sulit ditiru oleh teknologi konvensional mana pun pada masanya.

Boris Zhurid: Pelatih yang Menjual “Tentara Bayaran” ke Iran

Sosok kunci di balik program ini adalah Boris Zhurid, mantan perwira kapal selam Soviet yang kemudian meraih gelar dari akademi medis. Selama bertahun-tahun, Zhurid menjadi pelatih utama mamalia laut militer Soviet, baik selama era Uni Soviet maupun setelah keruntuhan negara tersebut.

Sayangnya, setelah pendanaan dihentikan pasca bubarnya Uni Soviet, Zhurid berjuang keras untuk membiayai perawatan hewan-hewan itu.

“Jika saya orang yang kejam, saya bisa saja tetap tinggal di Sevastopol.

Namun, saya tidak tahan melihat hewan-hewan saya kelaparan,” ungkap Zhurid kepada surat kabar Rusia Komsomolskaya Pravda.

Akibatnya, pada 8 Maret 2000, sekitar 26 tahun lalu, Zhurid mengambil keputusan yang menggemparkan dunia intelijen militer: ia menjual seluruh hewan peliharaannya kepada Iran.

Secara total, sebanyak 27 hewan dipindahkan dari Sevastopol ke Teluk Persia menggunakan pesawat kargo, termasuk walrus, singa laut, anjing laut, seekor paus beluga putih, dan beberapa lumba-lumba terlatih.

“Pada kenyataannya, Iran telah membeli senjata rahasia kami yang dahulu dari Ukraina dengan harga murah,” tulis Komsomolskaya Pravda saat itu.

Bahkan, Zhurid mengakui tidak mengetahui misi apa yang akan dijalankan hewan-hewan itu.

Ia hanya berkata: “Saya siap pergi kepada Tuhan atau bahkan kepada iblis, asalkan hewan-hewan saya diperlakukan dengan baik di sana.”

Kesaksian Rafsanjani: Lumba-Lumba di Pulau Kish

Menariknya, mantan Presiden Iran Akbar Hashemi Rafsanjani secara tidak langsung mengonfirmasi kedatangan hewan-hewan ini dalam memoarnya berjudul Reform in Crisis.

Rafsanjani menulis tentang kunjungannya pada 2 April 2000 ke pulau Kish, di mana ia menyaksikan kolam-kolam hewan laut yang hampir selesai dibangun.

“Beberapa kolam telah dioperasikan, dan sejumlah walrus, singa laut, anjing laut, serta lumba-lumba telah diimpor dari Ukraina,” tulisnya.

Selain itu, Rafsanjani menyebutkan bahwa sekelompok orang Ukraina ikut hadir untuk menyiapkan fasilitas dan melatih personel Iran. Ia juga membantah klaim media Barat bahwa hewan-hewan tersebut mendapat pelatihan militer.

Menurut keterangan Rafsanjani, lumba-lumba-lumba itu terbukti cerdas dan responsif terhadap perintah pelatih, kecuali satu hal: ketika diminta “menampilkan musik”, mereka tidak mengikuti perintah tersebut.

Rafsanjani bahkan memprediksi bahwa fasilitas ini akan menjadi salah satu daya tarik wisata paling populer di Kish.

Program Serupa: AS, Rusia, hingga Korea Utara

Perlu diketahui, hingga saat ini hanya dua negara yang secara resmi diakui memiliki program mamalia laut militer yang mapan dan lanjutan:

Amerika Serikat menjalankan program mamalia laut di San Diego, California. Pada 2003, AS menggunakan lumba-lumba terlatih untuk mendeteksi dan membersihkan ranjau di Teluk Persia pasca invasi Irak.

Rusia dilaporkan telah meningkatkan penggunaan lumba-lumba militer di pelabuhan Sevastopol sejak invasinya ke Ukraina, untuk menghadapi penyelam musuh dan melindungi armada laut di Laut Hitam.

Di samping itu, laporan tidak resmi menyebutkan beberapa negara lain tengah mengembangkan program serupa.

Yang paling mengejutkan, citra satelit diklaim menunjukkan keberadaan kandang lumba-lumba di Korea Utara, memicu spekulasi bahwa Pyongyang juga tengah membangun program sejenis.

Antara Mitos dan Ancaman Nyata

Pada akhirnya, pertanyaan tentang lumba-lumba kamikaze Iran — yang awalnya terdengar seperti lelucon di Pentagon — ternyata menyimpan latar belakang sejarah yang sangat nyata dan kompleks.

Program pelatihan mamalia laut militer bukan dongeng fiksi ilmiah, melainkan bagian dari sejarah perang modern yang telah berlangsung selama lebih dari setengah abad.

Dengan demikian, apakah Iran benar-benar akan menggunakan lumba-lumba bersenjata di Selat Hormuz masih menjadi tanda tanya besar. Namun satu hal yang pasti: program ini ada, dan dunia tidak boleh menganggapnya sebelah mata.

Penulis: Mita Putri

Mita Putri

Artikel Terkait

Krisis Migran Ceuta dan Melilla: Pengerahan Militer Spanyol di Tengah Sengketa Kedaulatan Berabad-Abad

Suarakitanews – Tegangan diplomatik kembali memanas di Selat Gibraltar setelah Pemerintah Spanyol mengerahkan pasukan militer tambahan ke Ceuta, sebuah wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara. Langkah drastis ini diambil sebagai…

Lanjutkan Membaca

// // //
Detik-Detik Mencekam Gempa Venezuela: Kisah Perempuan Berjam-jam Mencari Kabar Keluarganya di Caracas

Venezuela, Suarakitanews — Sebuah pesan suara singkat di WhatsApp menjadi awal dari berjam-jam kecemasan yang tak terlupakan. “Baru saja terjadi gempa yang sangat hebat, saat ini masih terasa gunangannya,” demikian…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri