Bukan Sekadar Imbauan: Mengapa India Serius Larang Warganya Membeli Emas di Tengah Krisis Energi Global

Suarakitanews – Bagi sebagian besar keluarga India, emas bukan sekadar logam mulia. Ia adalah bagian dari ritual pernikahan, warisan turun-temurun, dan simbol kemakmuran yang sudah mengakar selama berabad-abad. Itulah mengapa imbauan Perdana Menteri Narendra Modi pada 10 Mei lalu terasa begitu mengejutkan — bahkan bagi banyak warganya sendiri.

“Demi kepentingan negara, kita harus memutuskan bahwa selama setahun, meskipun ada acara di rumah, kita tidak akan membeli perhiasan emas,” ujar Modi dalam pidatonya.

Pernyataan itu bukan tanpa konteks. India, seperti banyak negara lain, sedang merasakan hantaman keras dari lonjakan harga energi global yang dipicu oleh konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran — termasuk penutupan efektif Selat Hormuz, jalur laut yang selama ini menjadi nadi distribusi sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia.

Harga minyak sempat melonjak hingga 70 persen pada puncaknya.

Emas dan Minyak: Dua Beban Berat di Pundak Rupee

Masalahnya, India bukan negara yang bisa santai menghadapi guncangan semacam ini. Lebih dari 85 persen kebutuhan minyaknya bergantung pada impor. Dan di luar minyak, ada satu komoditas lain yang terus menguras devisa negara secara diam-diam: emas.

Pada tahun fiskal yang berakhir 31 Maret lalu, India mengimpor emas senilai sekitar US$ 72 miliar — angka yang setara dengan sekitar Rp 1.267 triliun. Lebih dari 90 persen emas yang beredar di India berasal dari luar negeri, dan hampir semuanya dibayar menggunakan dolar AS.

Di sinilah persoalan mulai menumpuk. Ketika permintaan dolar meningkat tajam — baik untuk membayar minyak maupun emas — nilai rupee ikut tertekan.

Tahun ini saja, rupee sudah terdepresiasi sekitar 5 persen terhadap dolar. Dan pelemahan mata uang, seperti yang sudah-sudah, berpotensi mendorong inflasi dari dalam.

“Emas menyumbang sekitar sembilan persen dari total impor negara ini,” kata Profesor Sundaravalli Narayanaswami dari India Gold Policy Centre, Indian Institute of Management Ahmedabad.

“Setiap tahun, 600 hingga 700 ton emas masuk, sementara ekspor sangat rendah — sehingga emas ini menumpuk di rumah-rumah tangga.”

Kebijakan yang Tidak Biasa di Tengah Krisis yang Tidak Biasa

Tiga hari setelah pidato Modi, pemerintah India mengambil langkah lebih konkret: menaikkan bea impor emas dari 6 persen menjadi 15 persen.

Kenaikan ini langsung terasa berat bagi pelaku industri.

Sebagai perbandingan, negara-negara lain yang juga terdampak krisis energi memilih jalur yang lebih konvensional. Sri Lanka memberlakukan kuota bahan bakar dan efisiensi energi di lembaga pemerintah. Thailand meminta warganya mengurangi penggunaan pendingin udara. Mesir mewajibkan toko dan restoran tutup lebih awal. Mozambik menyarankan kerja dari rumah.

India melakukan semua itu — ditambah satu hal yang tak lazim: meminta warganya berhenti membeli perhiasan.

“Seruan kepada publik untuk tidak membeli emas ini memang tidak cukup lazim,” kata Hamad Hussain dari lembaga riset Capital Economics.

“Tapi dalam kasus India, hal ini bisa dipahami. Emas menyumbang porsi besar dalam tagihan impor mereka, jadi kebijakan ini, dalam beberapa hal, masuk akal.”

Industri Perhiasan di Ujung Tanduk

Di balik angka-angka ekonomi itu, ada manusia-manusia yang kini was-was dengan nasib usahanya. Sanjeev Agarwal, perajin perhiasan berbasis di New Delhi, menyebut situasi saat ini “lebih buruk dibandingkan masa pandemi COVID.”

Rekannya, Abhishek Agarwal, mengatakan para pelaku usaha “khawatir” tak akan mampu bertahan jika masyarakat benar-benar menghentikan pembelian emas.

Yang paling mengena mungkin adalah ucapan Shweta Gupta, seorang pengrajin perhiasan lain: “Kalau hanya dua bulan, mungkin kami bisa bertahan. Tapi satu tahun penuh terlalu berat. Bagaimana kami bisa membayar karyawan?”

Sejumlah asosiasi industri perhiasan kini mendesak pertemuan langsung dengan pemerintah untuk mencari jalan tengah.

Akankah Ini Efektif?

Para ekonom pun belum sepakat soal dampak nyata dari kebijakan ini.

Di satu sisi, Hussain berpendapat bahwa penurunan permintaan dari India — sebagai konsumen emas terbesar kedua di dunia — berpotensi menekan harga emas global dan menggeser keseimbangan pasar menuju kelebihan pasokan.

Di sisi lain, Sebastien Tillett dari Oxford Economics justru skeptis.

Menurutnya, harga emas saat ini lebih digerakkan oleh permintaan investor dan ketidakpastian geopolitik — bukan oleh konsumsi perhiasan rumah tangga. Ia juga meragukan efektivitas imbauan Modi.

“Seruan kepada publik mungkin ada dampaknya, tapi lebih mungkin hanya menunda atau mengalihkan pembelian, bukan menghapusnya sama sekali,” kata Tillett. “Emas terlalu melekat pada budaya India dan tabungan rumah tangga.”

Ada juga faktor musiman yang perlu diperhitungkan. Permintaan emas di India memang cenderung lebih rendah di luar periode puncak seperti musim pernikahan dan festival besar — artinya, sebagian perlambatan yang mungkin terjadi bisa saja bukan semata-mata karena imbauan pemerintah.

Yang juga patut diingat: kenaikan bea impor emas pada 2013 silam justru memicu lonjakan penyelundupan dan perdagangan tidak resmi. Sejarah ini membuat sejumlah pihak mempertanyakan apakah kebijakan serupa akan benar-benar efektif kali ini.

Satu Negara, Satu Beban Budaya yang Berat

Di India, emas bukan sekadar investasi. Ia adalah bahasa kasih sayang yang dituturkan dalam pernikahan, kelahiran, dan perayaan. Perempuan India, menurut estimasi yang beredar — meski sulit diverifikasi — memegang sekitar 11 persen cadangan emas dunia.

Meminta masyarakat melepaskan tradisi itu, bahkan untuk sementara, adalah tantangan yang jauh melampaui sekadar kebijakan ekonomi. Modi sendiri tampaknya sadar akan hal ini, dan ia membingkainya sebagai soal patriotisme.

“Patriotisme tidak hanya tentang kesiapan mengorbankan nyawa di perbatasan,” katanya. “Dalam situasi seperti ini, hal itu berarti hidup secara bertanggung jawab dan menjalankan kewajiban kita kepada negara dalam kehidupan sehari-hari.”

Apakah rakyat India akan mendengarkan? Itu pertanyaan yang jawabannya baru akan terlihat dalam beberapa bulan ke depan — bersama dampak nyata dari salah satu imbauan paling tidak biasa yang pernah dilontarkan seorang pemimpin negara di tengah krisis energi global.

Penulis: Mita Putri

Mita Putri

Artikel Terkait

Krisis Migran Ceuta dan Melilla: Pengerahan Militer Spanyol di Tengah Sengketa Kedaulatan Berabad-Abad

Suarakitanews – Tegangan diplomatik kembali memanas di Selat Gibraltar setelah Pemerintah Spanyol mengerahkan pasukan militer tambahan ke Ceuta, sebuah wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara. Langkah drastis ini diambil sebagai…

Lanjutkan Membaca

// // //
Detik-Detik Mencekam Gempa Venezuela: Kisah Perempuan Berjam-jam Mencari Kabar Keluarganya di Caracas

Venezuela, Suarakitanews — Sebuah pesan suara singkat di WhatsApp menjadi awal dari berjam-jam kecemasan yang tak terlupakan. “Baru saja terjadi gempa yang sangat hebat, saat ini masih terasa gunangannya,” demikian…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri