Suarakitanews, BEIJING – Pertemuan bersejarah antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping di Beijing resmi berakhir dengan sejumlah kesepakatan strategis yang menarik perhatian dunia. Mulai dari isu Selat Hormuz, pembelian minyak Amerika Serikat, hingga peringatan tegas soal Taiwan, pertemuan dua hari ini dinilai sebagai salah satu diplomasi paling berpengaruh di tahun 2026.
Pertemuan “Bersejarah” yang Disambut Meriah
Trump menyebut kunjungannya ke Beijing sebagai “sangat sukses, diakui dunia, dan tak terlupakan”. Sementara itu, Xi Jinping menyebutnya sebagai kunjungan “bersejarah dan menjadi tonggak penting” dalam hubungan bilateral kedua negara adidaya tersebut.
Sebagai bentuk penghormatan, China menyambut Trump dengan tembakan kehormatan, sorak-sorai anak-anak, hingga kunjungan ke Kuil Surga abad ke-15 yang megah — sebuah gestur diplomatik yang sarat makna.
Kesepakatan Selat Hormuz dan Minyak AS
Salah satu poin terpenting yang disepakati adalah terkait Selat Hormuz.
Dalam wawancara dengan Fox News, Trump mengungkapkan bahwa Xi berkomitmen untuk menahan pengiriman peralatan militer ke Iran.
“Kami ingin Selat Hormuz tetap terbuka,” tegas Trump.
Selain itu, kedua pemimpin juga sepakat bahwa Selat Hormuz “harus tetap terbuka untuk mendukung kelancaran arus energi” global. Sebagai langkah konkret, Xi menyatakan minatnya untuk membeli lebih banyak minyak dari Amerika Serikat, termasuk kesepakatan pembelian 200 pesawat Boeing — sebuah langkah yang dinilai signifikan bagi perekonomian AS.
Iran Tidak Boleh Miliki Senjata Nuklir
Lebih jauh lagi, kedua negara juga mencapai kesepakatan soal Iran. Baik Washington maupun Beijing sepakat bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. Hal ini menjadi sinyal kuat bagi komunitas internasional bahwa AS dan China, meski bersaing di banyak bidang, masih bisa bersatu dalam isu keamanan global.
Trump juga menegaskan bahwa China setuju untuk tidak memasok peralatan militer kepada Iran — sebuah komitmen yang selama ini menjadi salah satu tuntutan utama Washington.
Peringatan Xi soal Taiwan: Ancaman “Konflik” Terbuka
Namun, tidak semua isu berjalan mulus. Di tengah suasana diplomatik yang hangat, Xi Jinping melontarkan peringatan keras soal Taiwan. Menurut laporan media pemerintah China, Xi menyebut isu Taiwan sebagai “masalah paling penting dalam hubungan China–AS”.
“Jika tidak ditangani dengan tepat, kedua negara bisa berbenturan atau bahkan jatuh ke dalam konflik,” ujar Xi, seperti dikutip media pemerintah China.
Xi menambahkan bahwa kemerdekaan Taiwan “secara fundamental tidak sejalan” dengan perdamaian di Selat Taiwan. Menariknya, Trump tidak secara langsung menjawab pertanyaan wartawan mengenai apakah isu Taiwan turut dibahas dalam pertemuan tersebut.
Para analis pun memperingatkan kemungkinan Trump mengalah dalam isu penjualan senjata ke Taiwan. Julian Gewirtz, mantan Direktur Senior untuk Urusan China dan Taiwan di Dewan Keamanan Nasional AS, menyatakan bahwa Trump “tidak melihat Taiwan dengan sudut pandang yang sama” seperti para presiden AS sebelumnya.
Kerja Sama Ekonomi dan Fentanil
Tidak hanya isu keamanan, kerja sama ekonomi juga menjadi agenda utama.
Kedua pemimpin membahas perluasan akses perusahaan-perusahaan AS ke pasar China, investasi China di industri Amerika, serta upaya bersama menghentikan aliran prekursor fentanil ke AS — isu yang telah lama menjadi duri dalam hubungan bilateral.
Trump hadir di Beijing bersama sejumlah petinggi perusahaan teknologi ternama, termasuk Elon Musk dari Tesla dan Jensen Huang dari Nvidia, yang turut mengikuti sebagian sesi pertemuan untuk mendorong kesepakatan bisnis.
“Mitra, Bukan Rival”
Menutup rangkaian pertemuan, Xi Jinping menegaskan filosofi yang ingin ia tanamkan dalam hubungan kedua negara:
“China dan AS sama-sama akan memperoleh manfaat dari kerja sama dan menderita kerugian dari konfrontasi. Kita seharusnya menjadi mitra, bukan pesaing.”
Senada dengan itu, Trump menyebut Xi sebagai “teman lama” dan menyatakan kesiapannya untuk menyambut Xi di Washington dalam waktu dekat.
Kesimpulan
Pertemuan Trump dan Xi di Beijing menghasilkan sejumlah kesepakatan penting yang mencakup stabilitas energi global, keamanan nuklir Iran, kerja sama ekonomi, sekaligus menyimpan ketegangan yang belum tuntas soal Taiwan.
Dunia kini menunggu apakah konsensus yang dicapai benar-benar akan diimplementasikan, atau hanya menjadi janji diplomatik semata.
Penulis: Mita Putri








