Sebelum IKN, Bandung Nyaris Jadi Ibu Kota Baru Hindia Belanda

Suarakitanews – Bandung Pernah Dipersiapkan Jadi Ibu Kota Hindia Belanda, Namun Gagal karena Krisis Ekonomi

Keputusan Mahkamah Konstitusi yang kembali menegaskan Jakarta sebagai Ibu Kota Negara membuat sejarah lama kembali menjadi perhatian publik. Jauh sebelum Indonesia merdeka, pemerintah kolonial Belanda ternyata pernah merancang pemindahan pusat pemerintahan dari Batavia ke Bandung.

Kala itu, Batavia dianggap sudah tidak layak menjadi pusat administrasi Hindia Belanda. Selain sering dilanda banjir, kota pesisir tersebut juga dikenal memiliki sanitasi yang buruk dan menjadi sarang berbagai wabah penyakit seperti malaria, kolera, hingga disentri.

Karena kondisi tersebut, muncul gagasan untuk memindahkan ibu kota ke wilayah yang lebih sehat dan nyaman. Bandung pun menjadi pilihan utama karena memiliki udara sejuk, lingkungan yang lebih baik, serta letak strategis di kawasan Priangan.

Batavia Dinilai Tidak Sehat untuk Pemerintahan Modern

Pada awal abad ke-20, ahli kesehatan Belanda bernama H.F. Tillema menjadi salah satu tokoh yang paling vokal mendorong pemindahan pusat pemerintahan dari Batavia. Menurutnya, kondisi kesehatan di Batavia sangat buruk untuk mendukung aktivitas pemerintahan modern.

Selain itu, kawasan Priangan saat itu berkembang menjadi pusat perkebunan teh dan ekonomi penting di Hindia Belanda. Tidak heran jika banyak pejabat serta pengusaha Eropa mulai menetap di Bandung karena suasananya dianggap menyerupai kota-kota di Eropa.

Kemudian, pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal J.P. Graaf van Limburg Stirum, rencana pemindahan ibu kota mulai dibahas secara serius.

Pemerintah kolonial bahkan menyusun proyek besar untuk menjadikan Bandung sebagai pusat pemerintahan baru Hindia Belanda.

Bandung Bersolek Menjadi Kota Modern

Memasuki dekade 1920-an, Bandung berkembang sangat pesat. Pemerintah kolonial mulai membangun berbagai fasilitas penting guna mendukung fungsi administratif pemerintahan.

Salah satu proyek terbesar adalah pembangunan Gedung Sate yang dipersiapkan sebagai kompleks kantor pusat pemerintahan Hindia Belanda. Selain itu, jalur kereta api dari Batavia menuju Bandung juga diperkuat untuk memperlancar mobilitas pejabat dan masyarakat Eropa.

Tidak hanya itu, taman kota dibangun, jalan-jalan diperluas, dan fasilitas komunikasi mulai dipindahkan dari Batavia ke Bandung. Bahkan Museum Geologi turut dipindahkan ke Bandung pada 1924 sebagai bagian dari proyek besar tersebut.

Di sisi lain, transformasi Bandung melibatkan banyak arsitek ternama Hindia Belanda seperti Maclaine Pont, Thomas Karsten, dan Wolff Schoemaker.

Mereka membentuk wajah Bandung dengan gaya arsitektur art deco dan modern tropis yang masih menjadi ciri khas kota hingga saat ini.

Berkat perkembangan yang begitu cepat, Bandung akhirnya mendapat julukan “Paris van Java”. Kota ini dianggap sebagai salah satu kota modern paling maju di Hindia Belanda.

Depresi Ekonomi Menghentikan Ambisi Besar Bandung

Meski sudah dipersiapkan secara besar-besaran, rencana menjadikan Bandung sebagai ibu kota Hindia Belanda akhirnya gagal terlaksana.

Penyebab utamanya adalah depresi ekonomi dunia pada dekade 1930-an.

Saat itu, harga komoditas ekspor anjlok dan perdagangan global melemah drastis. Akibatnya, banyak perusahaan di Jawa dan Sumatera mengalami kebangkrutan.

Karena tekanan ekonomi yang semakin berat, pemerintah kolonial Belanda terpaksa menghentikan berbagai proyek pembangunan, termasuk rencana pemindahan ibu kota ke Bandung.

Namun demikian, situasi dunia kembali memburuk ketika Perang Dunia II pecah. Pada 1940, Belanda jatuh ke tangan Jerman Nazi, sementara Jepang mulai melakukan ekspansi militer ke Asia Tenggara.

Perang Dunia II Mengubur Rencana Pemindahan Ibu Kota

Pada awal 1942, pemerintah kolonial sempat memindahkan sebagian aktivitas pemerintahan ke Bandung. Akan tetapi, langkah tersebut terlambat.

Jepang berhasil menguasai Bandung dan memaksa Belanda menyerah melalui Perjanjian Kalijati pada 8 Maret 1942. Sejak saat itu, ambisi menjadikan Bandung sebagai ibu kota Hindia Belanda resmi berakhir.

Kini, jejak sejarah tersebut masih dapat ditemukan melalui berbagai bangunan bersejarah di Bandung. Gedung Sate, Museum Geologi, kawasan Braga, hingga deretan bangunan art deco menjadi saksi bahwa Bandung pernah dipersiapkan sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda.

Meski gagal menjadi ibu kota, Bandung tetap dikenang sebagai kota dengan sejarah besar yang pernah menyimpan ambisi menjadi pusat pemerintahan kolonial di Indonesia.

Penulis: Mita Putri

Mita Putri

Artikel Terkait

Ketika Sang Perintis Disingkirkan Pewarisnya—Kisah Tragis Tiga Serangkai PKI

Narasi arus utama sejarah Indonesia kerap mereduksi dinamika Partai Komunis Indonesia (PKI) hanya seputar figur D.N. Aidit dan tragedi berdarah tahun 1965. Padahal, jauh sebelum era kepemimpinan Aidit yang radikal,…

Lanjutkan Membaca

// // //
Laporan Khusus: Jejak Sunyi Sang “Manusia Bayangan Republik” Zulkifli Lubis

Suara Kita News. Com, Dalam lembaran sejarah Indonesia, panggung utama kerap dikuasai oleh mereka yang bersuara lantang di atas mimbar. Namun, di balik layar sejarah kemerdekaan, terdapat figur-figur yang memilih…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri