Narasi arus utama sejarah Indonesia kerap mereduksi dinamika Partai Komunis Indonesia (PKI) hanya seputar figur D.N. Aidit dan tragedi berdarah tahun 1965. Padahal, jauh sebelum era kepemimpinan Aidit yang radikal, partai ini dilahirkan oleh anak-anak muda didikan guru bangsa yang memiliki trajektori pemikiran jauh berbeda.
Mereka adalah Semaun, Darsono, dan Alimin—Tiga Serangkai generasi pertama yang menanam benih komunisme di Nusantara, ironisnya justru tersingkir dan terbuang oleh kader-kader muda yang mereka saksikan sendiri kebangkitannya.
Jejak sejarah mencatat bahwa akar gerakan kiri di Indonesia tidak lahir dari ruang hampa. Semaun, yang didapuk sebagai ketua pertama partai pada tahun 1920 di usia yang masih sangat muda, bersama Darsono, merupakan produk intelektual dari indische social-democratische vereeniging (ISDV) serta murid-murid didikan ideologis H.O.S. Tjokroaminoto di Surabaya. Menariknya, mereka juga dikenal sebagai sahabat diskusi yang dekat dengan K.H. Ahmad Dahlan, sang pendiri Muhammadiyah.
Sementara itu, Alimin melengkapi trio tersebut sebagai tokoh pergerakan senior—sebuah dedikasi yang kemudian diganjar dengan gelar Pahlawan Nasional Indonesia oleh Presiden Soekarno.
Titik balik kehancuran generasi pertama ini bermula pada tahun 1926. Sebuah pemberontakan prematur terhadap pemerintah kolonial Hindia Belanda meletus, berujung pada penangkapan massal dan pembuangan para tokoh tua tersebut ke luar negeri.
Puluhan tahun hidup di pengasingan membuat Semaun, Darsono, dan Alimin terputus total dari akar rumput dan basis massa riil di tanah air. Di saat mereka terisolasi di negeri orang, roda zaman berputar cepat di dalam negeri yang tengah merintis kemerdekaan.
Kudeta Politik Internal: Datangnya Era Aidit
Ketika Indonesia akhirnya merdeka, panggung politik kiri diambil alih oleh generasi baru yang lebih agresif, digawangi oleh D.N. Aidit, Nyoto, dan M.H. Lukman.
Pada awal tahun 1950-an, Aidit melancarkan manuver politik berupa pembersihan internal. Ia secara sistematis merebut estafet kepemimpinan dari tangan tokoh-tokoh sepuh seperti Alimin, dengan alasan bahwa strategi perjuangan kaum tua sudah usang, moderat, dan terlalu pasif.
Bagi Aidit, PKI harus bertransformasi menjadi mesin politik modern yang agresif dan menancapkan pengaruh kuat di lingkaran kekuasaan pusat. Akibatnya, para pendiri awal ini terpinggirkan dan kehilangan kendali atas partai yang mereka dirikan sendiri.
Tersingkirnya para pendiri awal dari struktur kekuasaan PKI ternyata menjadi bentuk “penyelamatan tak terduga” di kemudian hari.
Di masa tua mereka, Semaun memilih jalan hidup yang jauh dari hingar-bingar politik radikal, mengabdikan diri sebagai dosen ilmu ekonomi di Universitas Padjadjaran, Bandung. Ketika badai sejarah 1965 menerjang dan menghancurkan total PKI bentukan Aidit, para tokoh sepuh ini justru selamat dari pusaran eksekusi dan konflik berdarah karena mereka sudah lama diasingkan dari tubuh partai.
Kisah Tiga Serangkai ini meninggalkan ironi abadi: bahwa dalam panggung politik revolusi, para perintis kerap kali dikorbankan oleh ambisi para pewarisnya sendiri.
penulis : Red






