Suarakitanews – Berbagai negara kini berpacu dengan waktu untuk melacak para penumpang dan awak kapal pesiar MV Hondius setelah wabah hantavirus terdeteksi di atas kapal tersebut. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengonfirmasi sedikitnya enam kasus hantavirus, termasuk satu kasus kematian yang telah dipastikan terkait virus tersebut.
Sementara itu, dua kematian lainnya masih dalam proses investigasi untuk memastikan apakah berkaitan langsung dengan infeksi hantavirus galur Andes.
WHO menegaskan bahwa wabah ini tidak akan berkembang menjadi pandemi seperti COVID-19. Meski demikian, otoritas kesehatan internasional tetap meningkatkan kewaspadaan karena masa inkubasi hantavirus dapat berlangsung hingga enam minggu.
Akibatnya, kemungkinan munculnya kasus baru masih terbuka lebar.
Kronologi Wabah Hantavirus di MV Hondius
Kapal pesiar mewah MV Hondius yang dioperasikan oleh Oceanwide Expeditions memulai pelayaran dari Ushuaia, Argentina, pada 1 April 2026. Kapal tersebut membawa 178 penumpang dan awak dari 28 negara.
Namun, situasi berubah dramatis ketika seorang penumpang meninggal dunia pada 11 April di tengah perjalanan.
Setelah itu, istri korban diterbangkan dari Pulau St Helena menuju Johannesburg, Afrika Selatan. Akan tetapi, perempuan tersebut meninggal dunia pada 26 April dan dinyatakan positif terinfeksi hantavirus.
Di sisi lain, seorang penumpang pria lainnya juga jatuh sakit dan harus menjalani perawatan intensif di Afrika Selatan.
Kemudian, pada 2 Mei, seorang penumpang lain dilaporkan meninggal dunia di atas kapal sebelum MV Hondius tiba di Tanjung Verde sehari setelahnya.
WHO Sebut Penularan Antar Manusia Sangat Langka
Menurut WHO, hantavirus umumnya menyebar melalui hewan pengerat. Manusia dapat terinfeksi setelah menghirup partikel virus yang berasal dari urin, air liur, atau kotoran tikus yang terkontaminasi.
Namun demikian, galur Andes dari hantavirus diketahui memiliki kemampuan langka untuk menular antar manusia melalui kontak dekat dan intens.
WHO juga menyebut wabah di MV Hondius menjadi kasus pertama penularan hantavirus yang diketahui terjadi di dalam kapal pesiar.
Karena itu, otoritas kesehatan di sedikitnya 12 negara kini melakukan pelacakan terhadap warga mereka yang berada di kapal maupun yang telah kembali ke negara asal masing-masing.
Inggris Jadi Negara dengan Kasus Terbanyak
Inggris menjadi salah satu negara yang paling terdampak dalam wabah ini. Tiga warga negara Inggris diduga terinfeksi hantavirus.
Salah satunya adalah Martin Anstee, pensiunan perwira polisi berusia 56 tahun, yang kini dirawat di Belanda setelah dievakuasi dari kapal.
Selain itu, seorang pria Inggris lainnya masih menjalani perawatan intensif di Afrika Selatan.
Sementara itu, dua warga Inggris lain memilih melakukan isolasi mandiri sepulang dari perjalanan tersebut meski belum menunjukkan gejala.
Amerika Serikat dan Eropa Tingkatkan Pengawasan
Di Amerika Serikat, otoritas kesehatan di beberapa negara bagian seperti Georgia, Texas, Arizona, Virginia, dan California mulai memantau warga yang pernah berada di kapal tersebut.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) bahkan menetapkan respons darurat level 3 terhadap wabah ini.
Di Eropa, Belanda, Jerman, Prancis, dan Swiss juga meningkatkan pengawasan kesehatan terhadap warga yang sempat melakukan kontak dengan para pasien.
Prancis, misalnya, telah mengidentifikasi delapan orang yang melakukan kontak dengan perempuan Belanda yang meninggal dalam penerbangan menuju Johannesburg.
Spanyol Izinkan Kapal Bersandar Meski Ditolak Warga
MV Hondius dijadwalkan tiba di Tenerife, Kepulauan Canary, Spanyol, pada 9 Mei waktu setempat.
Pemerintah Spanyol akhirnya mengizinkan kapal tersebut bersandar. Akan tetapi, keputusan itu menuai penolakan dari pemerintah lokal Kepulauan Canary dan sebagian warga setempat.
Mereka khawatir kedatangan kapal dapat meningkatkan risiko penyebaran virus di wilayah tersebut.
Meski begitu, pemerintah Spanyol memastikan seluruh penumpang non-Spanyol yang masih sehat akan dipulangkan ke negara masing-masing, sedangkan warga Spanyol akan menjalani karantina dan pemeriksaan kesehatan lebih lanjut.
Risiko Umum Disebut Masih Rendah
Sejumlah pakar kesehatan menilai respons internasional terhadap wabah ini masih terlihat tidak terkoordinasi. Meski demikian, WHO menegaskan bahwa risiko penularan luas kepada masyarakat umum tetap rendah.
Hingga kini, investigasi mengenai sumber awal wabah masih berlangsung.
Argentina juga tengah menyelidiki kemungkinan bahwa virus berasal dari wilayah yang sebelumnya dikunjungi pasangan asal Belanda sebelum menaiki kapal.
Dengan masih adanya penumpang dan awak yang belum menyelesaikan masa observasi, dunia kini terus memantau perkembangan wabah hantavirus di MV Hondius secara ketat.
Penulis: Mita Putri








