Suarakitanews – Kasus hantavirus kembali menjadi perhatian publik setelah wabah virus tersebut ditemukan di kapal pesiar MV Hondius yang berlayar dari Argentina. Bahkan, wabah itu dilaporkan menyebabkan sedikitnya tiga orang meninggal dunia.
Di Indonesia sendiri, Kementerian Kesehatan memastikan dua kasus suspek hantavirus di Jakarta dan Yogyakarta dinyatakan negatif dan pasien telah sembuh. Meski demikian, masyarakat diminta tetap waspada karena virus ini termasuk penyakit zoonosis yang dapat menimbulkan komplikasi serius.
Selain itu, pemerintah juga mulai memperkuat sistem deteksi dini guna mencegah penyebaran hantavirus varian Andes yang dikenal lebih berbahaya dibanding jenis lainnya.
Apa Itu Hantavirus?
Mengutip informasi dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO, hantavirus adalah virus yang secara alami dibawa oleh hewan pengerat seperti tikus.
Virus ini dapat menular ke manusia melalui urine, air liur, maupun kotoran tikus yang terhirup bersama debu di lingkungan sekitar.
Namun demikian, tidak semua jenis hantavirus berbahaya bagi manusia.
Epidemiolog Masdalina Pane menjelaskan bahwa hanya beberapa varian tertentu yang memiliki tingkat fatalitas tinggi, terutama varian Andes yang banyak ditemukan di kawasan Amerika Selatan.
Bagaimana Cara Penularan Hantavirus?
Hantavirus umumnya menyebar melalui kontak dengan hewan pengerat yang terinfeksi. Berikut cara penularannya:
- Menghirup partikel virus dari urine atau kotoran tikus.
- Kontak langsung dengan air liur hewan pengerat.
- Gigitan tikus atau hewan pengerat lainnya.
- Virus masuk melalui luka terbuka atau mata.
Selain itu, khusus varian Andes, penularan juga bisa terjadi dari manusia ke manusia melalui kontak erat. Meski begitu, penularannya tidak semudah COVID-19.
Karena itu, kontak langsung seperti berciuman, hubungan seksual, atau paparan cairan tubuh dalam waktu lama menjadi faktor risiko utama.
Gejala Hantavirus yang Harus Diwaspadai
Gejala hantavirus biasanya muncul dalam waktu 9 hingga 40 hari setelah terpapar virus. Sementara itu, gejala awal sering menyerupai flu biasa sehingga kerap tidak disadari.
Beberapa gejala hantavirus antara lain:
- Demam tinggi
- Nyeri otot
- Sakit kepala
- Mual dan muntah
- Sesak napas
- Gangguan paru-paru
- Pendarahan internal
- Gagal ginjal
Apabila tidak segera ditangani, infeksi hantavirus dapat berkembang menjadi kondisi serius yang mengancam nyawa.
Kasus Hantavirus di Indonesia
Kementerian Kesehatan mencatat terdapat 23 kasus positif hantavirus di Indonesia sepanjang 2024 hingga 2026. Dari jumlah tersebut, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia.
Kasus tersebar di beberapa daerah, antara lain:
- Jakarta
- Yogyakarta
- Jawa Barat
- Banten
- Jawa Timur
- Sumatera Barat
- Kalimantan Barat
- Sulawesi Utara
- Nusa Tenggara Timur
Meski jumlahnya masih relatif kecil, pemerintah tetap meningkatkan kewaspadaan karena mobilitas internasional berpotensi membawa virus masuk ke Indonesia.
Seberapa Berbahaya Hantavirus?
Menurut epidemiolog Masdalina Pane, tingkat kematian hantavirus berbeda-beda tergantung jenis virus dan kondisi pasien.
Varian Andes diketahui memiliki tingkat fatalitas sekitar 12 hingga 60 persen. Sementara itu, jenis hantavirus yang ditemukan di Indonesia umumnya menyebabkan demam berdarah dengan sindrom ginjal dan tingkat fatalitas sekitar 10 hingga 15 persen.
Selain menyerang ginjal, virus ini juga dapat merusak paru-paru, jantung, dan pembuluh darah apabila infeksi semakin parah.
Oleh sebab itu, kelompok lansia dan orang dengan daya tahan tubuh lemah perlu lebih berhati-hati.
Apakah Hantavirus Andes Bisa Masuk ke Indonesia?
Para ahli menyebut kemungkinan tersebut tetap ada, terutama melalui perjalanan internasional. Akan tetapi, penyebarannya dinilai lebih sulit dibanding virus COVID-19.
Di sisi lain, jenis tikus di Indonesia berbeda dengan hewan pengerat pembawa utama virus Andes di Amerika Selatan. Karena itu, risiko penyebaran luas masih tergolong rendah.
Meski demikian, masyarakat tetap diminta waspada terhadap pendatang dari wilayah dengan kasus hantavirus aktif.
Cara Mencegah Hantavirus
Untuk mencegah penularannya, masyarakat dianjurkan menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi kontak dengan tikus maupun hewan pengerat lainnya.
Berikut langkah pencegahan yang bisa dilakukan:
- Membersihkan rumah secara rutin
- Menutup makanan agar tidak dihinggapi tikus
- Menghindari kontak dengan kotoran tikus
- Menggunakan masker saat membersihkan area kotor
- Menjaga daya tahan tubuh
- Memastikan hewan peliharaan tetap sehat
Selain itu, pemerintah juga terus memperkuat sistem surveilans dan pemeriksaan laboratorium agar kasus ini dapat dideteksi lebih cepat.
Pemerintah Perkuat Deteksi Dini
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengatakan pemerintah telah berkoordinasi dengan WHO terkait penanganannya.
Bahkan, Indonesia kini menyiapkan sistem skrining berupa rapid test dan reagen PCR untuk mendeteksi virus tersebut lebih cepat.
Menurut Menkes, kesiapan laboratorium di Indonesia saat ini jauh lebih baik dibanding sebelumnya karena fasilitas PCR sudah tersedia di berbagai daerah.
Dengan langkah tersebut, pemerintah berharap penyebarannya dapat dicegah sedini mungkin.
Meski virus ini belum menyebar luas di Indonesia, masyarakat tetap perlu meningkatkan kewaspadaan. Menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari kontak dengan hewan pengerat menjadi langkah paling penting untuk mencegah penularan.
Selain itu, masyarakat diminta tidak panik, tetapi tetap mengikuti informasi resmi dari pemerintah dan tenaga kesehatan terkait perkembangan kasus hantavirus di Indonesia.
Penulis: Mita Putri








