Suarakitanews, Bekasi – Tragedi tabrakan kereta di Bekasi Timur menjadi perhatian nasional setelah kecelakaan maut yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek menewaskan sedikitnya 16 orang serta melukai lebih dari 80 penumpang. Kini, Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) mulai menyelidiki dugaan gangguan sinyal yang disebut menjadi salah satu faktor penyebab kecelakaan tersebut.
Insiden memilukan itu terjadi pada Senin malam (27/04), ketika KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL yang sedang berhenti di Stasiun Bekasi Timur. Sebelumnya, KRL tersebut sempat terhenti setelah menabrak taksi listrik yang mogok di perlintasan rel dekat stasiun.
Namun demikian, penyebab pasti kecelakaan hingga kini masih dalam proses investigasi.
Dugaan Gangguan Sinyal Jadi Fokus Investigasi KNKT
KNKT mengungkapkan bahwa sistem persinyalan kereta api menjadi salah satu aspek utama yang sedang didalami. Selain itu, kondisi perangkat komunikasi dan pengaturan lalu lintas kereta sebelum kecelakaan juga tengah diperiksa secara menyeluruh.
“Persinyalan juga menjadi salah satu aspek yang sedang kami dalami,” ujar Humas KNKT, Arif Iskandar.
Sementara itu, sejumlah laporan menyebutkan adanya dugaan gangguan pada sistem sinyal sebelum tabrakan terjadi. Bahkan, informasi awal dari pihak masinis KA Argo Bromo Anggrek juga mengarah pada kemungkinan adanya masalah teknis.
Di sisi lain, Polda Metro Jaya turut melakukan penyelidikan untuk memastikan apakah kecelakaan ini dipicu oleh human error atau kendala sistem.
Kronologi Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur
Berdasarkan keterangan PT KAI, kecelakaan bermula saat sebuah taksi listrik mogok di perlintasan tanpa palang pintu dekat Bulak Kapal. KRL yang melintas kemudian mengalami insiden temperan dan berhenti di jalur rel.
Tak lama kemudian, KA Argo Bromo Anggrek melaju di jalur yang sama dan menabrak bagian belakang KRL yang sedang berhenti.
Akibat benturan keras tersebut, sejumlah gerbong mengalami kerusakan parah. Bahkan, beberapa penumpang dilaporkan terjepit di dalam gerbong yang pengap dan gelap.
Kesaksian Penyintas: “Saya Pikir Saya Meninggal”
Salah satu penyintas, Sausan Sarifah, mengaku sempat berpikir dirinya akan meninggal dunia ketika tabrakan terjadi.
“Kejadiannya cepat banget. Sepersekian detik. Saya pikir saya meninggal,” ujarnya.
Saat itu, Sausan berada di gerbong belakang KRL. Benturan keras membuat tubuh penumpang bertumpuk satu sama lain hingga sulit bernapas.
Selain itu, ia juga menyaksikan sejumlah korban mengalami kejang akibat kehabisan oksigen sebelum akhirnya dievakuasi petugas.
Kesaksian memilukan juga datang dari keluarga korban bernama Nuryati (63). Nuryati menaiki kereta bersama anak dan cucunya. Akan tetapi, hanya anak dan cucunya yang berhasil menyelamatkan diri melalui jendela gerbong.
Nuryati ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa setelah proses evakuasi berlangsung.
Disebut Mirip Tragedi Petarukan 2010
Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) menilai kecelakaan ini memiliki pola serupa dengan tragedi tabrakan kereta di Petarukan, Pemalang pada 2010 silam.
Menurut Ketua Forum Perkeretaapian MTI, Deddy Herlambang, kecelakaan tersebut sama-sama melibatkan tabrakan dari belakang atau rear-end collision.
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa jalur Jatinegara-Cikarang menggunakan sistem persinyalan open block. Artinya, ketika ada kereta berhenti di jalur, sinyal otomatis berubah menjadi merah agar kereta di belakang berhenti.
Karena itu, dugaan kelalaian masinis dalam membaca sinyal merah menjadi salah satu sorotan utama investigasi.
Presiden Prabowo Janji Evaluasi Total Perlintasan Kereta
Presiden Prabowo Subianto turut meninjau korban luka di RSUD Bekasi dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban.
Selain itu, pemerintah juga berjanji melakukan evaluasi menyeluruh terhadap perlintasan kereta api di Indonesia, terutama yang belum memiliki pengamanan memadai.
Prabowo bahkan menyebut pemerintah telah menyiapkan anggaran hampir Rp4 triliun guna memperbaiki sistem keselamatan transportasi publik dan membangun flyover di sejumlah titik rawan kecelakaan.
“Sekarang saatnya kita lakukan perbaikan menyeluruh,” kata Prabowo.
Wacana Perubahan Posisi Gerbong Khusus Perempuan
Pasca kecelakaan, Menteri PPPA Arifah Fauzi mengusulkan agar gerbong khusus perempuan ditempatkan di bagian tengah rangkaian kereta.
Usulan itu muncul karena seluruh korban meninggal dunia dalam kecelakaan ini diketahui berada di gerbong perempuan yang terletak di bagian belakang rangkaian KRL.
Meski demikian, hingga kini belum ada regulasi khusus yang mengatur posisi gerbong perempuan di rangkaian kereta commuter line.
Evaluasi Sistem Keselamatan Kereta Api
Kecelakaan kereta Bekasi Timur kembali memunculkan desakan agar pemerintah melakukan modernisasi sistem keselamatan perkeretaapian nasional.
Tidak hanya itu, sejumlah pengamat juga meminta adanya:
- modernisasi sistem sinyal,
- penambahan flyover dan underpass,
- perbaikan SOP kendaraan mogok di rel,
- evaluasi jam kerja masinis,
- hingga peningkatan pengawasan perlintasan tanpa palang pintu.
Dengan investigasi KNKT yang masih berjalan, publik kini menunggu jawaban pasti mengenai penyebab tragedi yang mengguncang dunia transportasi Indonesia tersebut.
Penulis: Mita Putri








