Suarakitanews – Jumlah korban meninggal dunia akibat tabrakan antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, kembali bertambah menjadi 16 orang. Korban terbaru dilaporkan meninggal dunia saat menjalani perawatan intensif di ICU RSUD Kota Bekasi pada Rabu (29/04) pagi.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkapkan kabar duka tersebut usai menjenguk para korban luka di rumah sakit.
“Satu pasien yang dirawat di ICU sudah meninggal,” ujar Dedi kepada wartawan.
Sementara itu, Direktur RSUD Kota Bekasi, Ellya Niken Prastiwi, membenarkan bahwa satu korban tabrakan kereta yang sebelumnya berada dalam kondisi kritis akhirnya meninggal dunia.
Gerbong Khusus Perempuan Jadi Lokasi Terparah
Sebagian besar korban meninggal dan luka-luka diketahui merupakan penumpang perempuan. Hal ini karena gerbong khusus perempuan di bagian belakang rangkaian KRL menjadi titik benturan paling parah saat KA Argo Bromo Anggrek menghantam dari belakang.
Selain itu, sebanyak 84 korban luka saat ini masih menjalani perawatan di sejumlah rumah sakit di wilayah Bekasi, termasuk RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Hermina, hingga RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat.
Di sisi lain, seluruh penumpang KA Argo Bromo Anggrek yang berjumlah 240 orang berhasil dievakuasi dalam kondisi selamat.
Proses Evakuasi Berlangsung Dramatis
Basarnas memastikan proses evakuasi korban telah selesai dilakukan pada Selasa (28/04) pagi sekitar pukul 08.00 WIB. Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, mengatakan tidak ada lagi korban yang terjebak di dalam rangkaian kereta.
“Seluruh Tim SAR sudah kembali ke homebase masing-masing,” katanya dalam konferensi pers.
Sebelumnya, proses penyelamatan berlangsung dramatis sejak dini hari. Tim SAR beberapa kali berhasil mengevakuasi korban selamat maupun korban meninggal dari gerbong yang ringsek parah.
Beberapa korban selamat yang berhasil dievakuasi antara lain Nurul (26), Ata (30), Mia (26), Siti Fatonah (47), dan Endang Kuswati (40).
Kronologi Tabrakan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek
Menurut Manager Humas Daop 1 KAI, Franoto Wibowo, kecelakaan bermula ketika sebuah KRL Commuter Line menabrak taksi di perlintasan dekat Stasiun Bekasi Timur sekitar pukul 20.40 WIB.
Akibat insiden tersebut, perjalanan KRL terganggu dan kereta berhenti di stasiun. Namun, beberapa saat kemudian KA Argo Bromo Anggrek rute Gambir–Surabaya datang dari arah belakang dan langsung menghantam rangkaian KRL.
Seorang saksi mata bernama Munir mengatakan benturan terjadi sangat keras hingga bagian depan kereta jarak jauh menembus gerbong belakang KRL.
“Gerbong masinis kereta jarak jauh itu sampai tembus gerbong KRL,” ujarnya.
Selain itu, saksi lain menyebut gerbong perempuan hampir hancur setengah bagian akibat kerasnya tabrakan.
Dugaan Penyebab Kecelakaan Masih Diselidiki
PT KAI menyebut kecelakaan diduga dipicu gangguan sistem setelah KRL menabrak sebuah taksi hijau di perlintasan rel JPL 85.
Direktur Utama KAI, Bobby Rasyidin, mengatakan gangguan tersebut kemungkinan memengaruhi sistem operasional di area emplasemen Bekasi Timur.
Meski demikian, penyebab pasti kecelakaan masih menunggu hasil investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Sementara itu, Kementerian Perhubungan memastikan investigasi akan dilakukan secara menyeluruh guna mengetahui faktor utama penyebab tabrakan maut tersebut.
Dampak Tabrakan terhadap Perjalanan Kereta
Akibat kecelakaan ini, PT KAI membatalkan total 27 perjalanan kereta jarak jauh pada Selasa (28/04). Selain itu, operasional KRL untuk sementara hanya melayani perjalanan sampai Stasiun Bekasi.
Dengan demikian, perjalanan menuju Cikarang maupun sebaliknya sempat dihentikan sementara demi proses evakuasi dan perbaikan jalur rel.
PT KAI juga menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan atas gangguan perjalanan yang terjadi akibat insiden tersebut.
Penulis: Mita Putri








