Suarakitanews, Aceh – Di tengah ancaman deforestasi, banjir, longsor, hingga ekspansi industri, nama Farwiza Farhan menjadi salah satu sosok penting dalam perjuangan menjaga Kawasan Ekosistem Leuser.
Leuser bukan sekadar hutan tropis biasa. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu benteng terakhir keanekaragaman hayati dunia karena menjadi habitat gajah, harimau, badak, dan orangutan yang hidup berdampingan. Oleh sebab itu, menjaga Leuser sama artinya dengan menjaga masa depan bumi.
Namun demikian, perjuangan mempertahankan hutan tidak pernah mudah.
Farwiza harus menghadapi tekanan kebijakan, ancaman deforestasi, hingga stigma terhadap aktivis lingkungan.
Banjir Aceh dan Kekhawatiran Farwiza Farhan
Menjelang akhir 2025, Aceh dilanda banjir dan longsor besar yang mengguncang berbagai wilayah di Sumatera. Bencana tersebut membuat Farwiza panik karena sejumlah rekan kerjanya di Yayasan Hutan Alam dan Lingkungan Aceh (HAkA) sulit dihubungi akibat listrik dan akses jalan terputus.
Selain itu, masyarakat di desa-desa sekitar kawasan hutan juga mengalami dampak paling parah. Situasi tersebut membuat Farwiza mempertanyakan kesiapan pemerintah dalam memberikan peringatan dini terhadap potensi bencana.
Menurutnya, hilangnya tutupan hutan di Aceh menjadi salah satu faktor yang memperparah banjir dan longsor. Karena itulah, Farwiza bersama HAkA bergerak cepat menjadi “first responders” dengan membuka donasi, mendata kebutuhan korban, dan menyalurkan bantuan ke wilayah terdampak.
Awal Farwiza Jatuh Cinta pada Alam dan Leuser
Ketertarikan Farwiza terhadap alam sudah muncul sejak kecil. Saat tumbuh di Aceh, ia terbiasa bermain di sungai, pantai, hingga memanjat pohon selepas sekolah.
Tidak hanya itu, kecintaannya terhadap alam semakin kuat setelah sering menonton dokumenter David Attenborough dalam tayangan Blue Planet.
Karena rasa ingin tahunya besar, Farwiza kemudian memilih jurusan biologi saat kuliah. Awalnya, ia bercita-cita menjadi ahli biologi laut. Akan tetapi, perjalanan kariernya justru membawanya masuk ke dunia konservasi hutan.
Momen penting terjadi ketika Farwiza pertama kali menginjakkan kaki di Leuser pada 2010. Saat itu, ia bertemu langsung dengan orangutan Sumatera di hutan Ketambe. Pengalaman tersebut membuatnya sadar bahwa hutan merupakan rumah bagi banyak makhluk hidup yang harus dijaga.
“Leuser punya sangat banyak sisi indah yang belum kita jelajahi,” ujar Farwiza.
Ancaman Deforestasi di Kawasan Ekosistem Leuser
Di sisi lain, ancaman terhadap Leuser terus meningkat. Pembukaan lahan, perkebunan sawit, pertambangan, hingga pembangunan infrastruktur menjadi tekanan besar bagi kawasan konservasi tersebut.
Bahkan, data HAkA menunjukkan angka deforestasi di Leuser kembali meningkat pada 2024 dan 2025 setelah sempat menurun sebelumnya.
Akibatnya, bencana ekologis semakin sering terjadi. Pada 2023 misalnya, hilangnya tutupan hutan memicu banjir bandang yang merendam puluhan desa di Aceh Tenggara.
Tidak hanya berdampak bagi manusia, kerusakan hutan juga mengancam habitat satwa langka seperti orangutan Sumatera, harimau Sumatera, gajah, dan badak.
Karena itu, Farwiza menilai ancaman terbesar terhadap Leuser bukan hanya perusahaan pembabat hutan, melainkan kebijakan yang membuka ruang eksploitasi alam.
Farwiza Farhan dan Tuduhan terhadap Aktivis Lingkungan
Sebagai perempuan yang aktif bersuara soal lingkungan, Farwiza mengaku sering diremehkan. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, ia mendapat ancaman dan cap negatif karena mengkritik kebijakan pemerintah.
Tidak hanya itu, organisasi HAkA juga pernah dituduh sebagai “antek asing” karena menerima pendanaan luar negeri untuk advokasi lingkungan.
Meski demikian, Farwiza tetap memilih bertahan. Baginya, perjuangan menjaga hutan adalah upaya menyelamatkan kehidupan generasi mendatang.
Penghargaan Internasional untuk Farwiza Farhan
Dedikasi Farwiza terhadap konservasi lingkungan mendapat perhatian dunia internasional. Pada 2016 dan 2025, ia menerima Whitley Gold Award atas perjuangannya menjaga Leuser.
Selain itu, pada 2022, majalah TIME memasukkan namanya dalam daftar tokoh dunia paling berpengaruh.
Namun bagi Farwiza, penghargaan tersebut bukan pencapaian pribadi. Ia menganggap semua itu sebagai hasil kerja kolektif bersama masyarakat dan tim HAkA.
Menjaga Leuser demi Membantu Bumi Sembuh
Bagi masyarakat Aceh, Leuser bukan hanya kawasan konservasi, melainkan identitas dan rumah kehidupan. Oleh karena itu, menjaga Leuser berarti menjaga keseimbangan bumi.
Farwiza percaya bahwa memulihkan hutan sama dengan membantu bumi sembuh dari “penyakitnya” berupa krisis lingkungan dan perubahan iklim.
Meski tantangan terus datang, ia yakin perjuangan melindungi hutan tidak dilakukan sendirian.
“Ada jutaan masyarakat adat dan pejuang lingkungan yang bersama-sama berupaya memulihkan kesehatan bumi,” kata Farwiza.
Karena itulah, perjuangan menjaga Leuser akan terus berjalan demi masa depan anak cucu dan kelangsungan hidup planet ini.
Penulis: Mita Putri








