Suarakitanews, China – Fenomena “orang tua virtual” di China kini semakin ramai diperbincangkan, terutama di kalangan generasi muda yang merasa kehilangan kehangatan dalam hubungan keluarga mereka.
Seperti yang dialami Vincent Zhang, seorang pengembang web di Shanghai, ia justru menemukan rasa nyaman bukan dari orang tuanya sendiri, melainkan dari pasangan influencer di platform Douyin.
Mencari Kehangatan di Dunia Digital
Alih-alih menonton hiburan biasa, Vincent rutin menyaksikan konten dari Pan Huqian dan Zhang Xiuping—pasangan paruh baya yang menyapa penonton layaknya anak sendiri.
Dalam salah satu video, mereka berkata: “Apakah kamu lelah? Jangan terlalu keras pada dirimu. Ibu dan Ayah tahu kamu sudah berjuang.”
Kalimat sederhana ini, di sisi lain, justru menyentuh banyak anak muda yang tidak pernah mendengar hal serupa dari orang tua mereka sendiri.
Vincent mengaku, percakapan dengan orang tuanya sering kali terasa menegangkan. Selain itu, tekanan budaya kerja seperti sistem 996—bekerja dari pagi hingga malam selama enam hari—membuat kondisi mental semakin berat.
Mengapa Fenomena Ini Terjadi?
Fenomena ini tidak muncul tanpa sebab. Ada beberapa faktor yang mendorongnya:
- Pertama, pola asuh tradisional di China lebih menekankan kewajiban dibandingkan ekspresi emosional.
- Kedua, dampak kebijakan satu anak membuat ekspektasi orang tua menjadi sangat tinggi.
- Ketiga, kondisi ekonomi yang melambat menambah tekanan hidup generasi muda.
Akibatnya, banyak Gen Z dan milenial merasa tidak dipahami oleh keluarga mereka sendiri.
Media Sosial Jadi Ruang Pelarian
Tidak hanya di Douyin, fenomena ini juga meluas ke platform lain seperti RedNote.
Tagar terkait “orang tua China” bahkan telah ditonton ratusan juta kali.
Lebih lanjut, kolom komentar di akun para “orang tua virtual” dipenuhi pesan emosional:
- curhat kehidupan
- permintaan ucapan ulang tahun
- bahkan ungkapan depresi
Hal ini menunjukkan bahwa media sosial kini berfungsi sebagai ruang emosional alternatif bagi generasi muda.
Sisi Gelap: Ketergantungan Emosional
Namun demikian, fenomena ini juga memiliki sisi yang mengkhawatirkan.
Dalam satu kasus, seorang pengguna mengaku ingin mengakhiri hidupnya saat berbicara dengan salah satu influencer. Meskipun akhirnya kondisi tersebut membaik, kejadian ini menyoroti pentingnya dukungan profesional dalam isu kesehatan mental.
Oleh karena itu, kehadiran “orang tua virtual” tidak bisa sepenuhnya menggantikan peran keluarga nyata.
Akar Masalah: Trauma Generasi Lama
Menurut peneliti gender di University of Toronto, dinamika ini tidak lepas dari sejarah panjang China.
Selama Revolusi Kebudayaan, ekspresi emosi pribadi ditekan, dan cinta diarahkan pada negara.
Akibatnya, banyak orang tua saat ini tumbuh tanpa contoh bagaimana menunjukkan kasih sayang secara terbuka.
Antara Realita dan Harapan
Meski begitu, generasi muda seperti Vincent tetap memilih menikmati kehangatan dari dunia digital.
Ia menyadari bahwa hubungan dengan orang tuanya tidak mudah diperbaiki.
Namun demikian, ia tetap membutuhkan dukungan emosional—meski datang dari orang asing di internet.
“Video mereka memberi saya kehangatan. Dan itu lebih baik daripada tidak sama sekali.”
Fenomena orang tua virtual di China bukan sekadar tren media sosial. Ini adalah cerminan dari perubahan sosial, tekanan generasi, dan kebutuhan manusia yang paling mendasar: didengar dan dicintai.
Pada akhirnya, pertanyaan besarnya bukan hanya tentang teknologi—tetapi tentang bagaimana hubungan keluarga dapat kembali menghadirkan kehangatan di dunia nyata.
Penulis: Mita Putri








