Suarakitanews – Harga minyak dunia kembali mengguncang pasar global. Pada Kamis (30/04), harga minyak melonjak tajam dan bahkan menyentuh level tertinggi sejak tahun 2022. Lonjakan ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Awalnya, pasar bereaksi setelah muncul laporan bahwa Donald Trump akan menerima pemaparan opsi militer baru terkait konflik dengan Iran. Laporan tersebut menyebutkan bahwa United States Central Command telah menyiapkan rencana serangan “singkat namun kuat” untuk memecah kebuntuan diplomatik.
Harga Minyak Mentah Brent Melonjak 5%
Akibatnya, harga minyak mentah Brent crude oil langsung melonjak hingga 5% dan mencapai US$124 per barel. Angka ini merupakan level tertinggi sejak pecahnya Invasi Rusia ke Ukraina 2022.
Harga West Tezas Intermediate (WTI) Naik 2,3%
Sementara itu, harga West Texas Intermediate (WTI) juga ikut naik sekitar 2,3% ke kisaran US$109 per barel. Kenaikan ini menunjukkan bahwa pasar energi global tengah berada dalam tekanan serius.
Lebih lanjut, ketegangan semakin meningkat karena jalur vital distribusi energi dunia, yaitu Selat Hormuz, saat ini praktis tertutup. Padahal, jalur ini merupakan lintasan bagi hampir seperlima pasokan energi global.
Laporan Axios, Rencana Militer AS
Di sisi lain, laporan dari Axios menyebutkan bahwa rencana militer AS tidak hanya terbatas pada serangan udara. Bahkan, terdapat opsi untuk menguasai sebagian wilayah Selat Hormuz guna membuka kembali jalur pelayaran. Namun demikian, langkah ini berpotensi melibatkan pengerahan pasukan darat, yang tentu meningkatkan risiko konflik lebih luas.
Selain itu, Amerika Serikat juga dikabarkan tengah mempertimbangkan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran. Kebijakan ini diambil sebagai respons atas ancaman Teheran terhadap kapal-kapal yang melintas di kawasan tersebut.
Iran akan Balas dengan Menyerang Kapal yang Melewati Selat Hormuz
Sebagai balasan, Iran memperingatkan bahwa mereka siap menyerang kapal-kapal yang mencoba melewati Selat Hormuz. Oleh karena itu, situasi ini semakin memperbesar kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global dalam jangka panjang.
Pertemuan Para Petinggi Sektor Energi dengan Trump
Tidak hanya itu, lonjakan harga minyak juga dipicu oleh kekhawatiran investor setelah pertemuan antara para petinggi sektor energi dengan Trump.
Pertemuan tersebut membahas strategi untuk menekan dampak konflik terhadap konsumen di Amerika Serikat. Namun, justru hal ini memperkuat sinyal bahwa krisis energi bisa berlangsung lebih lama.
Dengan demikian, kombinasi antara konflik geopolitik, ancaman militer, dan gangguan distribusi energi telah menciptakan tekanan besar pada pasar minyak dunia. Jika situasi ini terus berlanjut, maka bukan tidak mungkin harga energi akan semakin melonjak dan berdampak langsung pada ekonomi global.
Penulis: Mita Putri








