Suarakitanews, Lebanon – Kisah pilu datang dari Lebanon Selatan. Sebuah keluarga Kristen harus menerima kenyataan pahit setelah rumah mereka hancur akibat serangan Israel, yang kemudian terungkap melalui citra satelit independen. Tragedi ini kembali menegaskan bahwa dalam konflik bersenjata, warga sipil sering kali menjadi korban utama.
Joe Elias dan istrinya, Diana, hingga kini belum dapat kembali ke rumah mereka di desa Qouzah sejak pecahnya pertempuran terbaru antara Hizbullah dan Israel pada awal Maret. Padahal, sebelumnya mereka berharap dapat menjalani hidup damai di desa mayoritas Kristen tersebut.
Namun demikian, harapan itu berubah menjadi duka. Berdasarkan analisis citra satelit, rumah yang mereka bangun dengan penuh perjuangan kini telah rata dengan tanah. Bahkan, sejumlah pohon zaitun yang menjadi sumber penghidupan keluarga tersebut ikut hancur.
Lokasi Rumah Elias yang Hancur
Di sisi lain, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa lokasi rumah Elias diduga digunakan untuk meluncurkan lima misil anti-tank pada 6 Maret. Oleh karena itu, mereka mengklaim serangan tersebut dilakukan untuk mencegah ancaman lebih lanjut. Meski begitu, IDF tidak memberikan bukti rinci atas klaim tersebut.

Sementara itu, konflik kembali memanas setelah Hizbullah menembakkan roket ke wilayah Israel sebagai respons atas pembunuhan pemimpin tinggi Iran. Akibatnya, serangan balasan Israel menghancurkan sejumlah desa di Lebanon Selatan.
Penghancuran yang Terkontrol
Lebih lanjut, bukti visual menunjukkan bahwa penghancuran terkontrol terjadi di sedikitnya 12 desa sejak awal Maret. Bahkan, menurut data dari Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), lebih dari 1,2 juta warga Lebanon terpaksa mengungsi sejak konflik kembali memanas.
Tak hanya itu, analisis terbaru mengungkap bahwa hampir sepertiga bangunan di Qouzah telah hancur dalam kurun waktu 3 Maret hingga 16 April. Kondisi ini memperlihatkan betapa besar dampak konflik terhadap infrastruktur dan kehidupan masyarakat sipil.
Akhirnya, Warga Sipil yang Menanggung Akibat
Meski IDF menegaskan bahwa Hizbullah beroperasi di kawasan sipil, Joe Elias memiliki pandangan berbeda. Ia mengakui adanya aktivitas milisi di desa tersebut, tetapi menilai respons Israel berlebihan.
“Pada akhirnya, warga sipil yang menanggung akibatnya,” ujar Elias dengan nada getir.
Kehilangan Rumah dan Sumber Mata Pencaharian
Selain kehilangan rumah, keluarga ini juga kehilangan sumber mata pencaharian. Sebelum konflik, mereka mampu menghasilkan sekitar 1.000 liter minyak zaitun organik setiap tahun. Akan tetapi, kini kebun mereka telah hancur, menyisakan kenangan yang sulit tergantikan.
Lebih jauh lagi, rumah tersebut bukan sekadar bangunan. Di sanalah tersimpan cerita kehidupan mereka selama puluhan tahun, termasuk masa ketika Elias dan keluarganya kembali dari Amerika Serikat demi membangun kehidupan di tanah leluhur.
Kini, dengan kondisi yang belum pasti meskipun gencatan senjata sementara telah diberlakukan, keluarga Elias dihadapkan pada pilihan sulit: kembali dan membangun ulang, atau meninggalkan segalanya demi keamanan.
Dengan demikian, kisah ini menjadi pengingat kuat bahwa di balik konflik geopolitik yang kompleks, terdapat penderitaan manusia yang nyata—dan sering kali terabaikan.
Penulis: Mita Putri








