Suarakitanews, Somalia – Aksi perompakan di Somalia kembali meningkat tajam pada 2026. Kali ini, empat Warga Negara Indonesia (WNI) menjadi korban setelah kapal tanker MT Honour 25 dibajak saat berlayar dari Oman menuju Somalia.
Keempat WNI tersebut adalah Ashari Samadikun (kapten kapal), Adi Faizal (2nd Officer), Wahudinanto (Chief Officer), dan Fiki Mutakin. Selain itu, kapal tersebut juga membawa awak dari Pakistan, Sri Lanka, dan India.
Namun demikian, kasus ini bukan sekadar aksi kriminal biasa. Di baliknya, tersimpan cerita kompleks tentang kemiskinan, ketidakadilan, dan perebutan sumber daya laut.
Dari Nelayan Menjadi Perompak: “Laut adalah Bisnis Kami”
Di kota pesisir Eyl—yang dulu dijuluki “Ibu Kota Perompak”—dua pria nelayan mengaku kini memilih jalan berbahaya: menjadi perompak.
Awalnya, mereka hanyalah nelayan biasa. Akan tetapi, situasi berubah drastis ketika kapal asing mulai masuk dan diduga merampas hasil tangkapan mereka.
“Laut adalah bisnis kami. Jika dirampok, kami harus melawan,” ujar salah satu dari mereka.
Lebih jauh lagi, mereka mengaku mengalami intimidasi, perampasan alat tangkap, bahkan serangan bersenjata. Dalam beberapa kasus, nelayan ditemukan tewas dengan luka tembak.
Lonjakan Perompakan Sejak 2023
Setelah sempat mereda, aksi pembajakan kini kembali meningkat. Berdasarkan data terbaru:
- 2023: 6 insiden
- 2024: 22 insiden
- 2026: tren terus meningkat
Sebelumnya, patroli internasional seperti Operasi Atalanta Uni Eropa berhasil menekan aksi perompakan. Namun kini, tekanan ekonomi kembali memicu kebangkitan kelompok bajak laut.
Bisnis Besar di Balik Pembajakan
Meskipun berisiko tinggi, perompakan menawarkan keuntungan besar.
Sebagai contoh, kapal MV Abdullah dilaporkan dibebaskan setelah tebusan mencapai sekitar Rp 88 miliar.
Oleh karena itu, pembajakan tidak lagi dilakukan secara individu, melainkan melalui sindikat terorganisir. Para investor bahkan ikut mendanai:
- Pembelian kapal cepat
- Senjata seperti AK-47 dan RPG
- Logistik dan bahan bakar
Dengan kata lain, perompakan telah berubah menjadi “industri ilegal” yang menjanjikan keuntungan besar.
Akar Masalah: Penangkapan Ikan Ilegal
Di sisi lain, banyak pihak menilai akar masalahnya adalah praktik penangkapan ikan ilegal oleh kapal asing.
Menurut laporan internasional, Somalia kehilangan hingga US$ 300 juta per tahun akibat aktivitas ini. Kapal-kapal dari berbagai negara diduga beroperasi tanpa izin atau menggunakan izin palsu.
Akibatnya, nelayan lokal kehilangan sumber penghasilan utama mereka.
Dilema Moral: Salah Tapi Terpaksa
Meskipun terlibat dalam perompakan, sebagian pelaku mengaku sadar bahwa tindakan mereka salah. Namun, tekanan ekonomi membuat mereka merasa tidak punya pilihan lain.
“Jika ada pekerjaan, kami tidak akan melakukan ini,” kata seorang perompak.
Bahkan, ada yang menyembunyikan aktivitas tersebut dari keluarga karena rasa malu dan takut.
Solusi Jangka Panjang: Lapangan Kerja dan Keamanan Laut
Pemerintah Puntland dan pihak internasional sepakat bahwa solusi utama bukan hanya patroli militer, tetapi juga:
- Penciptaan lapangan kerja
- Pengawasan ketat terhadap kapal asing
- Perlindungan nelayan lokal
Tanpa itu, perompakan dikhawatirkan akan terus berulang.
Kebangkitan perompak Somalia bukan sekadar isu keamanan, melainkan cerminan krisis ekonomi dan ketidakadilan global. Kasus penyanderaan empat WNI menjadi pengingat bahwa konflik di laut lepas memiliki dampak nyata bagi banyak negara, termasuk Indonesia.
Penulis: Mita Putri








