Suarakitanews – Sebulan Pembatasan Media Sosial Anak: Masih Banyak Celah yang Dimanfaatkan. Kebijakan pembatasan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun yang diterapkan pemerintah Indonesia ternyata belum sepenuhnya efektif. Setelah satu bulan diberlakukan, berbagai celah masih dimanfaatkan oleh anak-anak untuk tetap mengakses platform digital.
Salah satu cara yang paling umum digunakan adalah memalsukan usia saat mendaftar akun. Selain itu, sebagian anak juga memanfaatkan akun milik orang tua agar tetap bisa menikmati konten di media sosial.
Manipulasi Usia Jadi Cara Paling Mudah
Fenomena ini terlihat dari pengalaman Dhania (12), yang diam-diam membuat akun TikTok dengan usia palsu. Bahkan, teman-temannya juga melakukan hal serupa.
Dengan kata lain, aturan yang seharusnya membatasi justru bisa dengan mudah dilewati. Hal ini menunjukkan bahwa sistem verifikasi usia pada platform digital masih memiliki kelemahan.
Penggunaan Akun Orang Tua Semakin Marak
Tidak hanya memalsukan usia, anak-anak juga kerap menggunakan akun orang tua. Misalnya, Jahra yang mengakses TikTok dan YouTube melalui perangkat keluarga.
Di sisi lain, praktik ini juga terjadi di negara lain seperti Australia. Remaja di sana bahkan berbagi strategi untuk menghindari aturan, termasuk menggunakan akun bersama keluarga.
Peran Platform Digital dan Pemerintah
Pemerintah melalui PP Tunas 2025 sebenarnya telah mewajibkan platform digital menyediakan sistem verifikasi usia. Sejumlah platform besar seperti TikTok, Instagram, dan YouTube telah menyatakan kepatuhan.
Namun demikian, implementasinya masih belum optimal. Bahkan, pemerintah masih memberikan waktu hingga Juni 2026 untuk penyesuaian sistem.
Dampak Psikologis pada Anak
Pembatasan media sosial bukan hanya soal akses, tetapi juga berdampak pada kondisi psikologis anak.
Menurut para ahli, anak yang terbiasa dengan konten digital cenderung mengalami:
- Penurunan konsentrasi
- Ketergantungan terhadap dopamin instan
- Reaksi emosional seperti marah atau gelisah saat akses dibatasi
Oleh sebab itu, pembatasan yang dilakukan secara tiba-tiba tanpa strategi dapat memicu tantrum atau stres pada anak.
Orang Tua di Posisi Serba Sulit
Di lapangan, banyak orang tua mengaku kebingungan. Mereka setuju dengan pembatasan, tetapi kesulitan menerapkannya.
Selain itu, tidak semua orang tua memiliki literasi digital yang cukup. Faktor ekonomi juga menjadi kendala, karena tidak semua keluarga mampu menyediakan aktivitas alternatif bagi anak.
Solusi: Tidak Cukup Hanya Melarang
Para ahli menekankan bahwa pembatasan saja tidak cukup. Anak membutuhkan:
- Pendampingan aktif dari orang tua
- Aktivitas pengganti yang sehat
- Edukasi literasi digital sejak dini
Lebih lanjut, pendekatan yang bertahap dinilai lebih efektif dibandingkan pelarangan total.
Tantangan Sosial yang Lebih Besar
Masalah ini juga berkaitan dengan kondisi sosial yang lebih luas. Minimnya ruang bermain anak dan keterbatasan fasilitas publik membuat gadget menjadi “pelarian utama”.
Akibatnya, tanpa solusi menyeluruh, anak akan terus mencari cara untuk mengakses media sosial secara diam-diam.
Perlu Pendekatan Menyeluruh
Pembatasan media sosial untuk anak memang langkah penting. Namun, tanpa dukungan dari berbagai pihak, kebijakan ini berisiko tidak efektif.
Pada akhirnya, perlindungan anak di era digital tidak cukup hanya dengan aturan. Dibutuhkan sinergi antara:
- Pemerintah
- Platform digital
- Orang tua
- Lingkungan sosial
Dengan demikian, anak tidak hanya dibatasi, tetapi juga dibekali kemampuan untuk menggunakan teknologi secara sehat dan bijak.
Penulis: Mita Putri








