Ekonomi Indonesia Masuk “Mode Bertahan”: Harga Naik, Daya Beli Turun, Rakyat dan Pemerintah Sama-Sama Tertekan

Suarakitanews – Kenaikan harga kebutuhan pokok, melemahnya daya beli, hingga tekanan ekonomi global membuat banyak masyarakat Indonesia kini hidup dalam “mode bertahan”. Namun, yang mengejutkan, kondisi ini tidak hanya dirasakan rakyat—pemerintah pun mengakui berada dalam situasi serupa.

Rakyat Mulai Mengencangkan Ikat Pinggang

Di berbagai daerah, realitas ekonomi terasa semakin berat. Misalnya, Dwiki, seorang pedagang kacamata di Solo, harus mengurangi pengeluaran karena penjualannya turun hingga 50 persen.

Tidak hanya itu, ia bahkan terpaksa menggadaikan sertifikat rumah demi mempertahankan usahanya.

Sementara itu, Paijan, pedagang bakso dan mie ayam, menghadapi situasi yang lebih pelik. Harga bahan baku naik, namun penjualan justru anjlok, membuatnya harus nombok hingga Rp 2 juta per minggu.

Selain itu, kondisi serupa juga terjadi di Bali. Ratna, yang bekerja di kafe sekaligus spa, harus mencari pekerjaan tambahan karena penghasilannya tidak lagi mencukupi kebutuhan keluarga.

Dengan kata lain, masyarakat kini tidak lagi berbicara soal menabung atau investasi, melainkan bertahan hidup dari hari ke hari.

Pemerintah Ikut Masuk “Mode Bertahan”

Di sisi lain, pemerintah menyatakan bahwa Indonesia masih dalam kondisi ekonomi yang aman. Namun demikian, pernyataan Menteri terkait yang menyebut pemerintah sedang dalam “mode bertahan” justru menimbulkan pertanyaan.

Menurut pemerintah, langkah ini diambil untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap tinggi di tengah tekanan global.

Selain itu, berbagai strategi mulai diterapkan, seperti:

  • efisiensi anggaran
  • pembentukan satgas ekonomi
  • penguatan sektor energi
  • pembangunan infrastruktur

Meski begitu, fokus utama tetap pada menjaga daya beli masyarakat, karena sekitar 90 persen ekonomi Indonesia bergantung pada konsumsi domestik.

Apa Arti “Mode Bertahan” Menurut Ahli?

Namun demikian, para ekonom memiliki pandangan yang lebih kritis.
Menurut mereka, istilah “mode bertahan” justru mengindikasikan bahwa kondisi ekonomi sedang tidak baik-baik saja.

Sebagai contoh, ekonom menyoroti:

  • nilai tukar rupiah yang melemah hingga di atas Rp17.000 per dolar AS
  • tekanan terhadap APBN akibat subsidi energi
  • meningkatnya beban utang negara

Di satu sisi, ada yang menilai langkah pemerintah ini sebagai bentuk kehati-hatian fiskal.

Akan tetapi, di sisi lain, beberapa pakar menganggap pernyataan tersebut hanya bersifat normatif dan belum diikuti langkah konkret seperti pemangkasan program besar atau restrukturisasi anggaran.

Paradoks Kebijakan: Hemat tapi Tetap Boros?

Lebih lanjut, muncul kritik terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai kontradiktif.

Di tengah narasi “mode bertahan”, pemerintah justru tetap menjalankan program besar dengan risiko tinggi, seperti proyek ekonomi desa skala nasional.

Padahal, dalam kondisi bertahan, seharusnya negara:

  • mengurangi pengeluaran berisiko
  • memprioritaskan program yang berdampak langsung
  • memperkuat jaring pengaman sosial

Dengan demikian, muncul pertanyaan besar: apakah pemerintah benar-benar sedang bertahan, atau hanya mengubah narasi?

Proyeksi Ekonomi: Tidak Seoptimis Target

Sementara itu, berbagai lembaga memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan setinggi target pemerintah.
Sebagai gambaran:

  • proyeksi lembaga independen: sekitar 5 persen
  • Bank Dunia: sekitar 4,7 persen
  • Bank Indonesia: 4,9–5,7 persen

Artinya, meskipun pemerintah menargetkan pertumbuhan hingga 8 persen, realitas di lapangan menunjukkan tantangan yang cukup berat.

Bertahan atau Bertumbuh?

Pada akhirnya, kondisi saat ini menunjukkan satu hal yang jelas:
ketika rakyat dan pemerintah sama-sama masuk “mode bertahan”, itu adalah sinyal bahwa ekonomi sedang tidak baik-baik saja.

Namun demikian, situasi ini juga bisa menjadi momentum untuk berbenah.

Jika dikelola dengan tepat—melalui kebijakan yang tepat sasaran, efisiensi anggaran, dan perlindungan daya beli—Indonesia masih memiliki peluang untuk kembali tumbuh lebih kuat.

Sebaliknya, tanpa langkah nyata, “mode bertahan” bisa berubah menjadi kondisi yang berkepanjangan.

Penulis: Mita Putri

Mita Putri

Artikel Terkait

Paradoks Norwegia: Negara Hijau yang Kaya Raya dari Ekspor Minyak — Apa Dampak Perang Timur Tengah bagi Dana Triliunannya?

Suarakitanews — [Norwegia], Norwegia memimpin dunia dalam transisi energi bersih, namun di saat yang sama meraup triliunan rupiah dari ekspor minyak dan gas bumi. Paradoks ini kini kembali diuji oleh…

Lanjutkan Membaca

// // //
Dampak Perang AS-Iran terhadap Nilai Tukar Mata Uang Dunia: Rupiah, Rupee, hingga Rubel

Suarakitanews – Ketika konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran meletus pada akhir Februari 2025, dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah. Dampak perang AS-Iran terhadap nilai tukar mata…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri