Suarakitanews – Bagaimana mau sukses kalau hidup sejahtera saja makin sulit diakses?
Pertanyaan ini bukan sekadar keluhan, melainkan realitas yang dirasakan banyak masyarakat Indonesia hari ini.
Mulai dari harga BBM, LPG, hingga bahan makanan pokok—semuanya terus merangkak naik. Bahkan, untuk hal sederhana seperti ngopi pun kini terasa lebih mahal. Akibatnya, masyarakat dipaksa berpikir dua kali untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Kenaikan Harga yang Tak Terbendung
Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga komoditas penting seperti telur ayam ras dan cabai rawit merah mengalami lonjakan signifikan. Di satu sisi, kebutuhan terus meningkat. Namun di sisi lain, kemampuan membeli justru melemah.
Lebih lanjut, Bank Indonesia dan BPS mencatat bahwa inflasi pangan bergejolak (volatile food) sempat mencapai 4,64 persen pada Februari 2026. Sayangnya, kenaikan ini tidak diimbangi dengan pertumbuhan upah yang memadai.
Gaji Naik, Tapi Daya Beli Turun
Direktur Ekonomi Digital CELIOS, Nailul Huda, menyebut rata-rata kenaikan upah pada 2025 hanya sekitar 1,9 persen. Artinya, meskipun secara nominal penghasilan meningkat, daya beli masyarakat justru menurun.
Dengan kata lain, masyarakat harus mengeluarkan lebih banyak uang untuk mendapatkan kebutuhan yang sama. Kondisi ini secara perlahan menurunkan kualitas hidup.
Generasi Muda Tertekan: Kerja Lebih, Dapat Lebih Sedikit
Tidak seperti generasi sebelumnya, angkatan kerja saat ini harus bekerja ekstra keras hanya untuk bertahan hidup. Bahkan, survei Greenpeace Indonesia menunjukkan 46 persen responden memiliki lebih dari satu pekerjaan.
Ironisnya, memiliki pekerjaan tambahan bukan lagi pilihan untuk berkembang, melainkan kebutuhan untuk bertahan.
Hustle Culture yang Menjebak
Di tengah tekanan ekonomi, fenomena hustle culture semakin menguat.
Banyak orang rela bekerja tanpa henti demi mengejar kesuksesan.
Namun demikian, berbagai penelitian menunjukkan bahwa jam kerja berlebihan justru berdampak negatif, mulai dari penurunan kesehatan mental, kelelahan fisik, hingga rusaknya hubungan sosial.
Alih-alih sukses, yang muncul justru kelelahan berkepanjangan.
Krisis Iklim: Ancaman yang Sering Terlupakan
Tidak hanya inflasi, krisis iklim juga menjadi faktor besar yang memperburuk kondisi.
Misalnya, suhu yang semakin panas meningkatkan risiko kesehatan seperti heat stroke, sementara bencana alam dapat merusak pekerjaan dan sumber penghasilan.
Selain itu, biaya hidup juga meningkat akibat kebutuhan energi yang lebih tinggi. Akibatnya, beban ekonomi masyarakat semakin berat.
Saatnya Kebijakan Berpihak pada Pekerja
Melihat kondisi ini, berbagai pihak mendesak pemerintah untuk menetapkan sistem upah layak berbasis kebutuhan hidup.
Menurut Jeanny Sirait dari Greenpeace Indonesia, pekerja saat ini menghadapi tekanan berlapis—mulai dari inflasi, konflik geopolitik, hingga krisis iklim.
Oleh karena itu, kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan pekerja menjadi sangat mendesak.
Terlalu Banyak “Ah, Tapi…”
Pada akhirnya, realitas hari ini dipenuhi dengan banyak “ah, tapi…”
Mau hemat, tapi harga naik.
Mau sukses, tapi akses makin sempit.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kesuksesan bukan lagi soal usaha, melainkan soal siapa yang masih mampu bertahan.
Penulis: Mita Putri








