Dampak Perang AS-Iran terhadap Nilai Tukar Mata Uang Dunia: Rupiah, Rupee, hingga Rubel

Suarakitanews – Ketika konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran meletus pada akhir Februari 2025, dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah. Dampak perang AS-Iran terhadap nilai tukar mata uang dunia langsung terasa — mulai dari rupiah Indonesia hingga rubel Rusia.

Pertanyaannya, siapa yang paling terpukul dan siapa yang justru diuntungkan?

Mengapa Perang Mengguncang Mata Uang Dunia?

Pertama, perang AS-Iran secara langsung mengganggu jalur distribusi minyak global, khususnya di Selat Hormuz — salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia. Akibatnya, harga minyak mentah melonjak tajam dan mendorong inflasi di berbagai negara.

Selain itu, ketidakpastian geopolitik mendorong para investor untuk mengalihkan dananya dari aset berisiko di pasar negara berkembang menuju dolar AS yang dianggap sebagai aset aman (safe haven). Hal ini meningkatkan permintaan dolar dan secara otomatis menekan nilai mata uang negara-negara lain.

“Harga minyak memengaruhi semua orang, namun fluktuasi mata uang dapat memperkuat atau justru meredam dampak tersebut,” ujar Andre Perfeito, ekonom asal Brasil yang memimpin firma konsultan APCE.

Negara Pengimpor Energi: Yang Paling Terpukul

Tidak semua negara merasakan dampak yang sama. Oleh karena itu, penting untuk memahami posisi masing-masing negara sebagai pengimpor atau pengekspor energi.

Negara-negara yang bergantung besar pada impor minyak — seperti India, Indonesia, Filipina, Thailand, dan Mesir — menghadapi tekanan ganda: kenaikan biaya bahan bakar sekaligus pelemahan mata uang.

Indonesia menjadi salah satu contoh nyata. Rupiah mengalami tekanan signifikan karena investor menarik dana dari pasar domestik. Lebih lanjut, Bank Indonesia merespons dengan menaikkan suku bunga sekaligus menjual cadangan dolar AS untuk menopang nilai tukar rupiah. Kebijakan ini di satu sisi melindungi rupiah, namun di sisi lain membuat cicilan KPR dan pinjaman masyarakat menjadi lebih mahal.

Di India, nilai tukar rupee bahkan sudah melemah sebelum konflik pecah, dan dampak perang semakin memperdalam tren tersebut — melemah sekitar lima persen terhadap dolar AS sejak awal konflik.

Ketika nilai mata uang turun, impor menjadi relatif lebih mahal. Dengan demikian, dampaknya langsung terasa pada harga BBM, plastik, pupuk, hingga kebutuhan pokok sehari-hari.

Mata Uang yang Bergejolak: Antara Melemah dan Menguat

Sementara itu, kelompok mata uang lain menunjukkan pola yang lebih fluktuatif. Negara-negara seperti Afrika Selatan, Kolombia, Chile, dan Meksiko termasuk dalam kategori ini — mata uang mereka melemah saat investor lari ke dolar, namun bisa pulih cepat ketika harga komoditas naik.

Sebaliknya, beberapa pengekspor energi seperti Brasil dan Malaysia justru diuntungkan dari kenaikan harga minyak. Pendapatan ekspor meningkat dan minat investor pun tumbuh.

Bahkan, bank-bank investasi besar seperti Goldman Sachs dan Bank of America menyoroti daya tarik obligasi pemerintah Brasil dalam laporan mereka kepada klien pada April 2025. Goldman Sachs menyebut Brasil sebagai “top pick” di pasar negara berkembang.

Meskipun demikian, inflasi yang dipicu harga energi tinggi tetap menjadi ancaman bagi Brasil, yang juga mengimpor produk olahan seperti bensin dan diesel.

Mata Uang yang Tangguh: China dan Rusia

Di sisi lain, sejumlah mata uang justru terbukti relatif tahan banting. Yuan China tetap stabil berkat kontrol modal ketat dan intervensi langsung bank sentral yang mengelola nilai tukar secara terstruktur.

Sebagai contoh, rubel Rusia bahkan menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terbaik sejak perang meletus. Penyebabnya adalah pendapatan energi yang tinggi dan kebijakan konversi devisa yang mewajibkan para eksportir mengubah penghasilan valuta asing mereka menjadi rubel.

Bagaimana Negara Maju Menghadapinya?

Dolar AS dan franc Swiss menguat pada awal krisis sebagai aset aman, namun kemudian kembali ke level sebelum perang. Krone Norwegia mendapat dorongan kuat dari kenaikan harga minyak, sementara yen Jepang justru melemah — tidak seperti mata uang negara maju lainnya — karena Jepang sangat bergantung pada impor energi.

Dolar Kanada dan Australia mendapat manfaat dari harga komoditas yang lebih kuat. Meskipun demikian, kekhawatiran atas pertumbuhan global membatasi kenaikan tersebut. Euro dan poundsterling pun mengalami volatilitas akibat lonjakan biaya energi dan ancaman inflasi di Eropa.

Proyeksi ke Depan: Antara Harapan dan Ancaman

Pada akhirnya, para ekonom mencatat bahwa dolar AS mulai melemah sejak konflik berlangsung — sebuah sinyal positif bagi pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Dolar yang lebih lemah biasanya berarti kondisi moneter yang lebih longgar, ruang lebih besar untuk pemotongan suku bunga di negara berkembang, dan penurunan penghindaran risiko — semuanya menguntungkan pasar negara berkembang,” kata ekonom dari AllianceBernstein.

Tidak hanya itu, IMF memperingatkan pada April 2025 bahwa jika gangguan akibat perang terus berlanjut, pertumbuhan ekonomi global bisa turun menjadi 2,5 persen dengan inflasi mencapai 5,4 persen — jauh di atas perkiraan sebelumnya. Skenario terburuk bahkan memproyeksikan pertumbuhan hanya 2,0 persen dengan inflasi melampaui 6 persen.

IMF diperkirakan akan memperbarui proyeksinya pada Juli 2025.

Kesimpulan

Dampak perang AS-Iran terhadap nilai tukar mata uang dunia bersifat kompleks dan tidak merata. Negara pengimpor energi seperti Indonesia dan India merasakan tekanan terbesar, sementara pengekspor energi seperti Brasil dan Rusia justru meraup keuntungan. Yang pasti, ketidakpastian global ini mengingatkan kita bahwa stabilitas ekonomi domestik sangat bergantung pada dinamika geopolitik internasional.

Penulis: Mita Putri

Mita Putri

Artikel Terkait

Paradoks Norwegia: Negara Hijau yang Kaya Raya dari Ekspor Minyak — Apa Dampak Perang Timur Tengah bagi Dana Triliunannya?

Suarakitanews — [Norwegia], Norwegia memimpin dunia dalam transisi energi bersih, namun di saat yang sama meraup triliunan rupiah dari ekspor minyak dan gas bumi. Paradoks ini kini kembali diuji oleh…

Lanjutkan Membaca

// // //
Kenaikan Suku Bunga BI Bikin Kelas Menengah Ketar-Ketir: Dari Cicilan hingga Harga Pangan

Suarakitanews – Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada Mei 2026. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri