Kenaikan Suku Bunga BI Bikin Kelas Menengah Ketar-Ketir: Dari Cicilan hingga Harga Pangan

Suarakitanews – Bank Indonesia (BI) resmi menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25 persen pada Mei 2026. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus menahan laju inflasi akibat tekanan global dan konflik Timur Tengah.

Namun di balik upaya menjaga ekonomi nasional tersebut, masyarakat kelas menengah diperkirakan menjadi kelompok yang paling merasakan dampaknya. Pasalnya, kenaikan BI Rate biasanya diikuti naiknya bunga kredit rumah, cicilan kendaraan, hingga pinjaman modal usaha.

Gubernur Perry Warjiyo mengatakan langkah ini diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

“Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah dan menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027,” ujar Perry dalam konferensi pers, Rabu (20/05).

Apa Dampak Kenaikan BI Rate?

Kenaikan BI Rate memiliki dampak luas terhadap ekonomi masyarakat. Pertama, suku bunga yang lebih tinggi membuat investasi di Indonesia menjadi lebih menarik bagi investor asing. Akibatnya, aliran modal masuk meningkat dan rupiah berpotensi menguat.

Namun di sisi lain, bunga kredit perbankan juga ikut naik. Kondisi ini menyebabkan cicilan rumah, kredit kendaraan, hingga pinjaman usaha menjadi lebih mahal.

Selain itu, kenaikan suku bunga bertujuan menekan inflasi. Ketika bunga kredit naik, masyarakat cenderung mengurangi konsumsi sehingga permintaan barang menurun dan kenaikan harga dapat ditekan.

Sayangnya, efek ini justru menjadi beban berat bagi masyarakat kelas menengah yang hidupnya sangat dekat dengan cicilan.

Cicilan Rumah Naik, Warga Mulai Kurangi Pengeluaran

Dewi Warastuti, seorang karyawan swasta di Solo, Jawa Tengah, mengaku mulai cemas menghadapi kemungkinan kenaikan cicilan rumahnya.

Perempuan 45 tahun itu masih memiliki kredit rumah dengan sistem bunga floating yang mengikuti kebijakan suku bunga bank. Saat ini, ia harus membayar cicilan sekitar Rp3 juta per bulan dari total gaji Rp6 juta.

“Kalau kenaikannya masih Rp100 ribu mungkin masih aman. Tapi kalau sampai besar, pasti terasa banget,” katanya.

Karena khawatir pengeluaran membengkak, Dewi mulai menyusun strategi penghematan. Ia berencana mengurangi makan di luar, biaya hiburan, hingga pengeluaran rekreasi keluarga.

Hal serupa juga dirasakan Alpian, pemilik warung kopi di Makassar, Sulawesi Selatan. Pria 39 tahun itu masih memiliki cicilan rumah Rp2,6 juta per bulan.

Menurut Alpian, kenaikan suku bunga membuat keluarganya harus lebih hemat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Mungkin kita lebih menghemat makan lauk-pauk yang seadanya. Tidak lagi ada buah-buahan atau roti,” ujarnya.

Kelas Menengah Dinilai Paling Rentan

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), kelas menengah memiliki pengeluaran bulanan antara Rp2,1 juta hingga Rp10,3 juta per bulan.

Kelompok ini selama ini menjadi tulang punggung konsumsi nasional. Pada 2024, konsumsi kelas menengah dan calon kelas menengah menyumbang lebih dari 81 persen total konsumsi masyarakat Indonesia.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, jumlah kelas menengah terus menurun akibat tekanan ekonomi, inflasi, dan stagnasi pendapatan.

Ekonom dari UPN Veteran, Achmad Nur Hidayat menilai kenaikan BI Rate dapat memperparah tekanan terhadap kelompok ini.

“Kelas menengah sangat sensitif terhadap perubahan suku bunga karena hidup mereka ditopang kredit,” katanya.

Ia menjelaskan banyak masyarakat kelas menengah memiliki cicilan rumah, kendaraan, gadget, hingga pinjaman usaha yang seluruhnya berpotensi terdampak kenaikan bunga bank.

Ekonom Kritik Kebijakan Fiskal Pemerintah

Sejumlah ekonom menilai kenaikan BI Rate bukan solusi utama untuk memperkuat rupiah jika kebijakan fiskal pemerintah belum dibenahi.

Achmad Nur Hidayat bahkan menyebut langkah BI seperti “cuci piring” atas persoalan fiskal pemerintah yang dinilai kurang efisien.

Menurutnya, tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor global, tetapi juga dari belanja negara yang dianggap terlalu besar di tengah penerimaan negara yang melemah.

Sementara itu, ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky menilai Bank Indonesia terlambat menaikkan suku bunga sehingga rupiah sudah lebih dulu tertekan.

Di sisi lain, Kepala Ekonom Bank Central Asia atau BCA, David Sumual menilai kenaikan BI Rate tetap diperlukan agar tekanan ekonomi tidak semakin parah.
“Kalau tidak dilakukan, situasinya bisa lebih buruk,” katanya.

Kelas Menengah Mulai Turun Kelas

Tekanan ekonomi membuat banyak masyarakat kelas menengah mulai mengurangi kualitas hidup mereka. Pengeluaran hiburan, rekreasi, hingga konsumsi makanan mulai dipangkas demi menjaga kemampuan membayar cicilan.

Fenomena ini dinilai menjadi sinyal bahwa kelompok kelas menengah Indonesia semakin rentan turun kelas menjadi kelompok rentan miskin.

Selain kenaikan suku bunga, kelas menengah juga dibebani kenaikan harga kebutuhan pokok, minimnya lapangan kerja berkualitas, serta tekanan sebagai generasi sandwich yang harus menopang kebutuhan keluarga besar.

Jika kondisi ini terus berlangsung, para ekonom khawatir daya beli masyarakat akan semakin melemah dan pertumbuhan ekonomi nasional ikut melambat.

Presiden Prabowo Soroti Melemahnya Kelas Menengah

Presiden Prabowo Subianto mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia belum sepenuhnya dinikmati masyarakat.

Dalam pidatonya di DPR, Prabowo mengatakan dirinya terkejut melihat data bahwa jumlah masyarakat miskin meningkat di tengah pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) yang terus naik.

Menurut Prabowo, salah satu penyebabnya adalah kebocoran penerimaan negara dari sektor ekspor melalui praktik manipulasi faktur atau under invoicing.

Pemerintah kini berupaya memperbaiki tata kelola ekspor dan melakukan efisiensi anggaran, termasuk memangkas anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Meski begitu, masyarakat kelas menengah berharap pemerintah tidak hanya fokus menjaga stabilitas makro ekonomi, tetapi juga memberikan perlindungan nyata terhadap beban cicilan dan biaya hidup yang terus meningkat.

Penulis: Mita Putri

Mita Putri

Artikel Terkait

Paradoks Norwegia: Negara Hijau yang Kaya Raya dari Ekspor Minyak — Apa Dampak Perang Timur Tengah bagi Dana Triliunannya?

Suarakitanews — [Norwegia], Norwegia memimpin dunia dalam transisi energi bersih, namun di saat yang sama meraup triliunan rupiah dari ekspor minyak dan gas bumi. Paradoks ini kini kembali diuji oleh…

Lanjutkan Membaca

// // //
Dampak Perang AS-Iran terhadap Nilai Tukar Mata Uang Dunia: Rupiah, Rupee, hingga Rubel

Suarakitanews – Ketika konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran meletus pada akhir Februari 2025, dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah. Dampak perang AS-Iran terhadap nilai tukar mata…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri