Mati Listrik Jakarta Kembali Terjadi: Ancaman Blackout 2019 Terulang Akibat Ketergantungan Energi Fosil

Suarakitanews, Jakarta – Mati listrik Jakarta kembali menjadi perbincangan hangat publik. Setelah sempat mengalami blackout besar pada tahun 2019, gangguan listrik yang terjadi pada 23 April lalu kembali menimbulkan kekhawatiran: apakah kejadian serupa akan terulang?

Kemarin, sejumlah wilayah di Jakarta dan Tangerang mengalami pemadaman listrik selama 4 hingga 6 jam. Dampaknya pun cukup luas. Mulai dari aktivitas kampus, perkantoran, hingga layanan publik seperti Transjakarta ikut terganggu. Selain itu, pelaku usaha kecil dan menengah juga harus menanggung kerugian akibat terhentinya operasional.

Menurut PLN, gangguan ini disebabkan oleh masalah suplai listrik di beberapa gardu induk. Namun demikian, kejadian ini langsung mengingatkan publik pada blackout besar Agustus 2019 yang melumpuhkan Jabodetabek dan sebagian Pulau Jawa selama 8 hingga 12 jam.

Ketergantungan Energi Fosil Jadi Akar Masalah

Jika melihat ke belakang, blackout 2019 disebut-sebut terjadi akibat gangguan pada sistem pembangkit, termasuk PLTU Suralaya. Meskipun penjelasan resmi sempat berubah, satu hal yang jelas adalah lemahnya sistem kelistrikan yang terlalu bergantung pada energi fosil.

Saat ini pun, kondisi tersebut belum banyak berubah. Jakarta masih sangat bergantung pada pembangkit berbasis fosil seperti PLTU Suralaya dan PLTGU Muara Karang. Bahkan, hampir 30 persen kebutuhan listrik Jakarta masih ditopang oleh pembangkit gas tersebut.

Akibatnya, ketika terjadi gangguan kecil sekalipun, dampaknya bisa langsung meluas. Oleh karena itu, risiko pemadaman besar tetap menghantui.

Potensi Energi Terbarukan Sangat Besar

Di tengah kondisi tersebut, sebenarnya Jakarta memiliki peluang besar untuk beralih ke energi terbarukan. Berdasarkan laporan Greenpeace “Jakarta Solar City” tahun 2021, potensi energi surya—khususnya PLTS atap rumah tangga—sangat tinggi.

Selain itu, hasil survei menunjukkan bahwa:

  • Sekitar 60,85% warga Jakarta sudah mengenal energi surya
  • Sebanyak 50,73% tertarik memasang PLTS atap jika ada dukungan pemerintah

Artinya, secara kesiapan masyarakat, Jakarta sudah selangkah lebih maju.

Kebijakan Justru Menghambat

Sayangnya, alih-alih mempercepat transisi energi, kebijakan terbaru justru menjadi hambatan. Revisi Peraturan Menteri ESDM tahun 2024 dinilai mengurangi insentif bagi pengguna PLTS atap.

Akibatnya, adopsi energi terbarukan di tingkat rumah tangga melambat.

Padahal, jika didukung secara optimal, sistem energi berbasis komunitas dapat meningkatkan ketahanan listrik secara signifikan.

Jakarta Sebenarnya Sudah Siap Bertransisi

Menariknya, laporan terbaru dari CELIOS dan Greenpeace Indonesia menyebutkan bahwa Jakarta memiliki indeks kesiapan transisi energi tertinggi di Indonesia.

Hal ini didukung oleh beberapa faktor:

  • Infrastruktur yang memadai
  • Tingkat elektrifikasi tinggi
  • Akses finansial yang luas
  • Tata kelola yang relatif stabil

Bahkan, wilayah Jakarta Utara—lokasi PLTGU Muara Karang—masuk kategori kesiapan tinggi.

Dengan kata lain, secara sistem dan masyarakat, Jakarta sebenarnya sudah siap. Namun, implementasi kebijakan masih menjadi tantangan utama.

Saatnya Beralih atau Mengulang Krisis

Pada akhirnya, kejadian mati listrik terbaru ini menjadi pengingat penting. Jika ketergantungan pada energi fosil terus dipertahankan, maka risiko blackout besar seperti tahun 2019 bukan tidak mungkin akan terjadi lagi.

Sebaliknya, dengan dukungan kebijakan yang tepat, energi terbarukan dapat menjadi solusi jangka panjang. Tidak hanya lebih ramah lingkungan, tetapi juga lebih tangguh dalam menghadapi gangguan.

Seperti yang disampaikan Yuyun Harmono dari Greenpeace Indonesia, Jakarta tidak bisa terus bergantung pada energi fosil yang rapuh. Dengan insentif yang tepat, energi terbarukan berbasis rumah tangga dan komunitas dapat menjadi kunci masa depan energi ibu kota.

Penulis: Mita Putri

Mita Putri

Artikel Terkait

Viral! Menteri Kerap “Melapor” ke Seskab Teddy yang Setara Eselon II, Pengamat: Ini Tidak Tepat

Jakarta, Suarakitanews – Kebiasaan sejumlah menteri yang kerap “melapor” kepada Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menuai polemik di tengah masyarakat. Pengamat birokrasi dan administrasi negara dari Universitas Indonesia, Dian…

Lanjutkan Membaca

// // //
Reshuffle Kabinet Prabowo 2026: Daftar Lengkap Pejabat Baru, Jumhur Hidayat Jadi Menteri Lingkungan Hidup

Suarakitanews, Jakarta – Reshuffle Kabinet Prabowo 2026: Daftar Lengkap Pejabat Baru dan Posisi Strategis yang Berubah. Prabowo Subianto kembali melakukan reshuffle kabinet pada Senin (27/04) di Istana Negara, Jakarta. Langkah…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri