Suarakitanews — Meski isu kesetaraan terus digaungkan setiap tahun, kenyataannya perempuan, terutama di tingkat akar rumput masih menghadapi ketimpangan serius. Terlebih lagi, dalam situasi krisis seperti bencana alam dan konflik sosial, perempuan sering kali menjadi kelompok paling terdampak, namun justru paling tidak terlihat.
Di satu sisi, mereka memikul beban domestik dan ekonomi sekaligus. Namun di sisi lain, suara mereka kerap tidak diperhitungkan dalam pengambilan keputusan. Akibatnya, ketidakadilan ini terus berulang tanpa solusi yang menyentuh akar persoalan.
Beban Ganda dan Minimnya Akses Hak Dasar
Dalam berbagai situasi darurat, kebutuhan spesifik perempuan sering terabaikan. Misalnya, akses terhadap air bersih, rasa aman di pengungsian, hingga kebutuhan dasar seperti kesehatan reproduksi.
Lebih dari itu, budaya patriarki memperparah keadaan. Perempuan tidak hanya diabaikan, tetapi juga kerap menjadi objek stigma dan ejekan. Kondisi ini membuat mereka semakin terpinggirkan, baik secara sosial maupun struktural.
Sekolah Perempuan: Harapan dari Akar Rumput
Namun demikian, di tengah berbagai keterbatasan, muncul inisiatif yang menjadi titik terang: Sekolah Perempuan.
Program ini hadir untuk meningkatkan kesadaran, kapasitas, dan kepemimpinan perempuan desa. Melalui pembelajaran rutin, para peserta tidak hanya memahami isu gender, tetapi juga belajar tentang:
- kesehatan reproduksi
- hak sosial dan politik
- advokasi kebijakan
- hingga kemandirian ekonomi
Dengan demikian, perempuan tidak lagi hanya menjadi objek pembangunan, melainkan subjek yang aktif menentukan arah perubahan.
Dicap Ajaran Sesat, Namun Tetap Bertahan
Perjalanan Sekolah Perempuan tidak selalu mulus. Pada tahap awal, banyak peserta menghadapi penolakan, bahkan dari keluarga sendiri.
Bahkan, program ini sempat dicap sebagai “ajaran sesat” karena dianggap mendorong perempuan melawan norma lama.
Namun demikian, pendekatan dialog perlahan membuka pemahaman. Para perempuan mulai menunjukkan perubahan nyata—baik dalam keluarga maupun masyarakat.
Dari Rumah ke Ruang Kebijakan
Seiring waktu, dampak Sekolah Perempuan mulai terlihat. Perempuan yang sebelumnya tidak percaya diri kini berani berbicara di ruang publik.
Sebagai hasilnya, mereka mulai:
- terlibat dalam musyawarah desa
- mengadvokasi kebijakan publik
- membantu administrasi kependudukan
- hingga mendampingi korban kekerasan
Tidak hanya itu, beberapa di antaranya bahkan dipercaya menjadi bagian dari struktur pemerintahan desa.
Mendorong Kepemimpinan dan Kemandirian Ekonomi
Selain advokasi, Sekolah Perempuan juga memperkuat aspek ekonomi. Perempuan didorong untuk mengembangkan usaha berbasis komunitas, seperti:
- pengolahan pangan lokal
- kerajinan daur ulang
- hingga ekowisata
Oleh karena itu, mereka tidak hanya mandiri secara ekonomi, tetapi juga mampu membantu perempuan lain di sekitarnya.
Representasi Bukan Sekadar Formalitas
Meski perempuan mulai hadir dalam ruang kebijakan, tantangan belum sepenuhnya selesai. Kehadiran mereka sering kali hanya dianggap formalitas.
Padahal, representasi sejati berarti perempuan memiliki suara dan pengaruh dalam pengambilan keputusan.
Tanpa itu, kebijakan yang dihasilkan akan terus bias dan tidak menyentuh kebutuhan nyata perempuan.
Suara Perempuan adalah Kunci Perubahan
Sekolah Perempuan membuktikan bahwa perubahan bisa dimulai dari bawah. Dari ruang sederhana, lahir gerakan yang mampu mengubah cara pandang, membangun keberanian, dan memperjuangkan keadilan.
Pada akhirnya, ketika perempuan diberi ruang untuk belajar, bersuara, dan memimpin, maka perubahan sosial yang lebih adil dan setara bukan lagi sekadar harapan, melainkan kenyataan.
Penulis: Mita Putri








