Suarakitanews – Aksi solidaritas untuk Andrie Yunus terus meluas. Kali ini, puluhan ibu-ibu dan mahasiswa menggelar aksi di Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Sabtu (14/03). Mereka mendesak aparat penegak hukum agar segera mengungkap pelaku dan aktor intelektual di balik kasus penyiraman air keras tersebut.
Selain itu, para peserta aksi membawa poster berisi tuntutan keadilan. Mereka juga menyerukan agar tidak ada lagi intimidasi terhadap aktivis dan pembela hak asasi manusia (HAM) di Indonesia.
Salah satu peserta aksi, Naysilla Rose, menegaskan bahwa negara harus hadir dalam menjamin kebebasan berpendapat. Menurutnya, kasus yang menimpa Andrie Yunus merupakan ancaman nyata bagi masyarakat sipil.
“Teror bisa menimpa siapa saja. Oleh karena itu, sudah saatnya kita membangun kekuatan bersama,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menyebut solidaritas publik sangat penting untuk mengawal kasus ini. Massa aksi juga membawa bunga serta membagikan takjil sebagai simbol kepedulian dan kebersamaan.
Teror terhadap Aktivis Bukan yang Pertama
Di sisi lain, kasus teror terhadap aktivis bukanlah hal baru. Sebelumnya, sejumlah tokoh yang mengkritik isu publik juga mengalami intimidasi, mulai dari kiriman bangkai hingga ancaman kekerasan.
Bahkan, hingga kini, banyak kasus pelanggaran HAM yang belum terselesaikan. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bahwa negara belum sepenuhnya serius dalam menuntaskan kasus-kasus tersebut.
“Dari dulu sampai sekarang, banyak yang belum terjawab. Ini yang membuat publik semakin resah,” kata Naysilla.
310 Organisasi Kecam Serangan
Sementara itu, sebanyak 310 organisasi dan individu yang tergabung dalam Koalisi Masyarakat Sipil turut mengecam keras serangan terhadap Andrie Yunus.
Mereka menilai penyiraman air keras tersebut bukan sekadar tindakan kriminal biasa, melainkan serangan yang terencana dan terorganisir.
Berdasarkan rekaman CCTV, pelaku berjumlah dua orang dan melakukan aksinya secara cepat sebelum melarikan diri. Akibat serangan itu, Andrie Yunus mengalami luka bakar serius di sejumlah bagian tubuh.
Lebih jauh, koalisi menilai serangan ini berkaitan erat dengan aktivitas advokasi korban sebagai pembela HAM yang kerap mengkritik penyalahgunaan kekuasaan.
Desakan Usut Aktor Intelektual
Oleh sebab itu, Koalisi Masyarakat Sipil mendesak aparat penegak hukum untuk tidak hanya menangkap pelaku lapangan, tetapi juga mengungkap aktor intelektual di balik serangan tersebut.
Selain itu, mereka juga meminta pemerintah menjamin pemulihan korban, termasuk perawatan medis dan rehabilitasi secara menyeluruh.
“Tidak boleh ada ruang bagi teror terhadap pembela HAM di negara demokrasi,” tegas koalisi.
Polri dan Pemerintah Beri Perhatian Khusus
Menanggapi hal ini, Kapolri Listyo Sigit Prabowo disebut telah memberikan atensi khusus terhadap kasus Andrie Yunus.
Penyelidikan pun dilakukan secara berlapis, mulai dari Polres Jakarta Pusat hingga Bareskrim Mabes Polri.
Sementara itu, Menteri Koordinator Hukum dan HAM Yusril Ihza Mahendra menegaskan bahwa kasus ini diduga kuat dilakukan secara terencana.
Ia pun meminta aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas hingga ke dalang utama di balik serangan tersebut.
Solidaritas dan Tekanan Publik Terus Menguat
Dengan meningkatnya aksi solidaritas dan tekanan publik, harapan agar kasus Andrie Yunus segera terungkap semakin besar. Namun demikian, masyarakat tetap menuntut transparansi dan keseriusan aparat dalam menegakkan keadilan.
Jika tidak, kekhawatiran akan berulangnya teror terhadap aktivis dan pembela HAM akan terus menghantui ruang demokrasi di Indonesia.
Penulis: Mita Putri








