Suarakitanews – Ketegangan militer di kawasan Teluk Persia semakin menimbulkan ketakutan bagi para pelaut yang bekerja di kapal tanker minyak dan kapal kargo. Di tengah meningkatnya konflik di Selat Hormuz, ribuan awak kapal kini hidup dalam bayang-bayang ancaman drone, rudal jelajah, hingga jet tempur yang setiap saat melintas di langit.
Situasi ini terjadi setelah Iran mengancam akan menyerang kapal yang mencoba melintasi Selat Hormuz sebagai respons atas serangan militer yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel. Akibatnya, jalur pelayaran strategis tersebut berubah menjadi kawasan berisiko tinggi bagi para pelaut.
Pelaut Menyaksikan Drone dan Jet Tempur di Langit
Amir, seorang pelaut asal Pakistan yang bekerja di kapal tanker di Uni Emirat Arab, mengaku sering melihat drone dan rudal terbang rendah di atas laut.
“Saya melihat drone dan rudal jelajah Iran terbang sangat rendah,” ujarnya.
Selain itu, ia juga kerap mendengar suara jet tempur yang melintas. Namun, para awak kapal tidak dapat memastikan dari negara mana pesawat-pesawat tersebut berasal.
Lebih mengkhawatirkan lagi, Amir mengatakan bahwa drone atau rudal yang dicegat di udara bisa saja jatuh ke kapal tempat mereka bekerja.
Baku Tembak Terjadi Hampir Setiap Hari
Sementara itu, Hein, pelaut asal Myanmar, mengungkapkan bahwa baku tembak antar pesawat tempur kerap terjadi di sekitar kapal mereka.
“Baru pagi ini dua jet tempur saling menembak ketika kami masih bekerja,” katanya.
Karena kapal tidak memiliki bunker atau tempat perlindungan khusus, para awak hanya bisa berlari masuk ke dalam ruangan kapal untuk menyelamatkan diri.
Sekitar 20.000 Pelaut Terjebak di Kawasan Teluk
Menurut Kapten Anam Chowdhury dari Asosiasi Perwira Angkatan Laut Niaga Bangladesh, diperkirakan sekitar 20.000 pelaut saat ini berada di kapal-kapal yang terjebak di wilayah konflik.
Sebagian berada di laut lepas, sementara lainnya tertahan di pelabuhan.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa berada di pelabuhan tidak selalu lebih aman.
“Beberapa kapal bahkan diserang ketika sedang berlabuh,” jelasnya.
Organisasi tersebut juga mencatat setidaknya tujuh kapal telah terkena proyektil sejak konflik meningkat.
Insiden Ledakan Kapal, Tiga WNI Masih Hilang
Di sisi lain, tragedi juga menimpa kapal tunda Musaffah 2 yang berbendera Uni Emirat Arab. Kapal tersebut mengalami ledakan ketika melintas di Selat Hormuz pada Jumat dini hari.
Ledakan itu menyebabkan kapal terbakar dan akhirnya tenggelam.
Kapal tersebut diawaki tujuh orang, terdiri dari empat warga negara Indonesia serta tiga awak dari India dan Filipina.
Akibat insiden tersebut:
- 3 WNI dinyatakan hilang
- 1 WNI mengalami luka-luka
Hingga saat ini, nasib ketiga WNI tersebut masih belum diketahui.
Komunikasi Terputus dan Keluarga Diliputi Kecemasan
Selain ancaman serangan, para pelaut juga menghadapi kesulitan komunikasi dengan keluarga mereka.
Pasalnya, pembatasan akses internet dan jaringan telepon di beberapa wilayah membuat keluarga sulit mendapatkan kabar terbaru dari para awak kapal.
Akibatnya, banyak keluarga hidup dalam kecemasan dan ketidakpastian.
Gangguan GPS Menambah Risiko Pelayaran
Masalah lain yang muncul adalah gangguan pada sistem navigasi satelit GPS.
Seo-jun, kapten kapal yang membawa lebih dari 20 awak, mengatakan gangguan tersebut semakin sering terjadi sejak konflik meningkat.
“Dalam beberapa hari terakhir gangguan GPS menjadi jauh lebih buruk,” ujarnya.
Bahkan ketika kapal mereka memasuki Dubai, para awak harus bernavigasi tanpa bantuan GPS.
Persediaan Makanan dan Air Mulai Menipis
Selain keselamatan, para pelaut kini juga khawatir terhadap persediaan logistik di kapal.
Beberapa kapal sudah berbulan-bulan tidak dapat mengisi ulang bahan makanan maupun air minum.
Akibatnya, sebagian awak hanya mendapatkan satu kali makan sehari dengan porsi terbatas.
Nyawa Pelaut Tidak Bisa Digantikan Asuransi
Meski kapal dan kargo dapat ditanggung oleh perusahaan asuransi, para pelaut menegaskan bahwa nyawa manusia tidak dapat digantikan oleh apa pun.
“Ketika kapal terkena serangan drone atau rudal, yang menanggung risikonya adalah manusia,” kata Amir.
Menurutnya, konflik di Selat Hormuz kemungkinan akan memberikan dampak besar terhadap industri pelayaran global dan perdagangan internasional di masa depan.
Penulis: Mita Putri








