Suarakitanews – Sebuah rudal Tomahawk dilaporkan menghantam pangkalan militer di dekat sebuah sekolah dasar putri di Minab, Iran Selatan.
Insiden tragis tersebut menewaskan 168 orang, termasuk sekitar 110 anak-anak, menurut keterangan pemerintah Iran.
Namun demikian, penyelidikan internasional kini mengarah pada kemungkinan bahwa rudal tersebut merupakan bagian dari operasi militer Amerika Serikat.
Analisis Video Mengarah ke Rudal Tomahawk

Rekaman video yang dirilis kantor berita semi-resmi Mehr dan telah diverifikasi oleh BBC Verify memperlihatkan detik-detik sebuah rudal menghantam pangkalan militer Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) yang berada tepat di samping Sekolah Dasar Shajareh Tayebeh di kota Minab.
Selain itu, analisis citra satelit serta sejumlah video terverifikasi menunjukkan bahwa area sekitar sekolah mengalami serangkaian serangan udara dalam waktu yang hampir bersamaan.
Beberapa pakar persenjataan bahkan mengidentifikasi amunisi dalam rekaman tersebut sebagai rudal Tomahawk buatan Amerika Serikat.
Seorang analis senior dari Mackenzie Intelligence Services mengatakan bahwa rudal dalam video tersebut memiliki “ciri khas Tomahawk pada fase akhir penerbangan.”
Serangan Berulang di Kompleks IRGC

Di sisi lain, analisis tambahan menunjukkan bahwa beberapa bangunan di kompleks militer IRGC turut menjadi sasaran serangan.
Bahkan, sebuah klinik medis milik Angkatan Laut IRGC yang berada sekitar 200 meter dari sekolah kemungkinan besar terkena hantaman rudal yang sama.
Lebih lanjut, pakar keamanan nasional sekaligus mantan personel Angkatan Udara AS, Wes Bryant, menyatakan bahwa pola serangan yang terlihat dalam rekaman menunjukkan operasi militer presisi yang disengaja.
Dengan kata lain, serangan tersebut kemungkinan merupakan bagian dari operasi militer yang lebih luas terhadap fasilitas IRGC.
Pernyataan Berbeda dari Para Pejabat
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat saat itu, Donald Trump, justru menuding Iran sebagai pihak yang bertanggung jawab atas serangan tersebut.
“Kami pikir itu dilakukan oleh Iran karena mereka sangat tidak akurat dengan persenjataan mereka,” ujar Trump kepada wartawan di dalam Air Force One.
Namun demikian, laporan dari CBS News menyebutkan bahwa penilaian awal pemerintah AS justru menyatakan bahwa serangan tersebut kemungkinan besar dilakukan oleh pihak Amerika, meskipun tidak secara sengaja menargetkan sekolah.
Dengan kata lain, kemungkinan terjadi kesalahan target dalam operasi militer tersebut.
Israel Bantah Terlibat
Di sisi lain, sumber pemerintah Israel menyatakan bahwa negaranya tidak terlibat dalam serangan tersebut dan militernya tidak beroperasi di wilayah sekitar sekolah pada saat kejadian.
Meski demikian, pemerintah Iran tetap menuding Amerika Serikat dan Israel bertanggung jawab atas tragedi tersebut.
Investigasi Masih Berlangsung
Mereka menegaskan bahwa penyelidikan masih berlangsung dan belum mencapai kesimpulan akhir.
Sementara itu, Pentagon menolak memberikan komentar lebih lanjut karena investigasi masih berjalan.
Di sisi lain, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak pernah secara sengaja menargetkan warga sipil.
“Kami sedang menyelidikinya. Tentu saja kami tidak pernah menargetkan sasaran sipil,” katanya.
Verifikasi Independen Terhambat
Sayangnya, upaya verifikasi independen atas insiden tersebut masih menghadapi kendala. Hal ini disebabkan oleh pemadaman internet di Iran serta pembatasan terhadap jurnalis internasional yang meliput di wilayah tersebut.
Akibatnya, detail pasti mengenai apa yang terjadi di Minab pada 28 Februari masih sulit dipastikan secara menyeluruh.
Penulis: Mita Putri








