Suarakitanews – Konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran membawa dampak besar bagi stabilitas ekonomi global. Selain memicu ketegangan geopolitik, perang ini juga mengguncang pasar energi dunia dan jalur perdagangan internasional.
Terlebih lagi, gangguan di jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz membuat harga minyak melonjak tajam dan meningkatkan biaya logistik global.
Namun demikian, di tengah krisis yang terjadi, beberapa negara justru berpotensi mendapatkan keuntungan strategis. Sementara itu, negara lain harus menghadapi dampak ekonomi yang lebih berat.
Lantas, negara mana yang paling diuntungkan dan siapa yang paling terdampak dari konflik ini?
Rusia Berpotensi Mendapat Keuntungan Energi
Salah satu negara yang berpotensi memperoleh keuntungan dari konflik ini adalah Rusia.
Pertama, lonjakan harga minyak global memberikan ruang fiskal yang lebih besar bagi Moskow. Selama ini, anggaran negara Rusia sangat bergantung pada ekspor minyak mentah.
Ketika harga minyak melonjak hingga mendekati US$120 per barel akibat ketegangan di Timur Tengah, Rusia berpotensi meningkatkan pendapatan ekspor energinya.
Selain itu, konflik ini juga berpotensi mengalihkan perhatian militer Amerika Serikat dari perang di Ukraina. Akibatnya, dukungan militer Barat kepada Kyiv bisa berkurang.
Di sisi lain, Rusia kini tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan drone dari Iran. Drone tempur seperti Shahed‑136 drone bahkan sudah mampu diproduksi sendiri oleh Rusia setelah memperoleh lisensi teknologi dari Teheran pada awal konflik Ukraina.
China Menghadapi Tekanan Perdagangan
Sementara itu, China berada dalam posisi yang lebih kompleks.
Di satu sisi, negara ini masih memiliki cadangan minyak yang cukup besar serta alternatif pasokan dari Rusia. Oleh karena itu, ketergantungan langsung terhadap minyak Iran relatif kecil.
Namun di sisi lain, perekonomian China sangat bergantung pada sektor ekspor. Gangguan jalur perdagangan global, terutama di kawasan Laut Merah dan Selat Bab el‑Mandeb, berpotensi meningkatkan biaya logistik bagi perusahaan China.
Akibatnya, banyak kapal kargo yang terpaksa mengalihkan rute pelayaran melalui Tanjung Harapan di Afrika Selatan. Rute tersebut dapat menambah waktu pelayaran hingga dua minggu dan meningkatkan biaya pengiriman jutaan dolar per kapal.
Meski demikian, konflik ini juga memberi peluang diplomatik bagi Beijing. Pemerintah China dapat memposisikan diri sebagai kekuatan global yang lebih stabil dan menjadi penyeimbang geopolitik terhadap Amerika Serikat.
Negara Berkembang Menghadapi Tekanan Energi
Di sisi lain, negara berkembang justru menjadi pihak yang paling rentan terhadap dampak konflik ini.
Beberapa negara di Asia Tenggara seperti Vietnam dan Filipina sangat bergantung pada impor minyak dari Timur Tengah.
Akibatnya, lonjakan harga energi langsung memukul perekonomian domestik mereka.
Sebagai contoh, harga solar di Vietnam dilaporkan melonjak hingga 60 persen sejak konflik dimulai. Sementara itu, pemerintah Filipina bahkan menerapkan kebijakan kerja empat hari seminggu bagi pegawai sektor publik untuk menghemat energi.
Kondisi serupa juga terjadi di Pakistan dan Bangladesh, di mana pemerintah mulai menerapkan pembatasan konsumsi bahan bakar serta sistem rasionalisasi distribusi energi.
Ancaman Krisis Pangan Global
Lebih jauh lagi, konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada energi, tetapi juga berpotensi memicu krisis pangan global.
Hal ini terjadi karena sekitar 30 persen perdagangan urea dunia melewati Selat Hormuz. Urea merupakan bahan baku utama dalam produksi pupuk pertanian.
Jika pasokan pupuk terganggu, maka produksi pangan global bisa ikut terdampak.
Situasi semakin rumit setelah perusahaan energi QatarEnergy menyatakan kondisi force majeure setelah fasilitasnya diserang. Langkah tersebut memungkinkan perusahaan menunda produksi dan pengiriman gas serta pupuk.
Akibatnya, para analis memperkirakan dampak nyata terhadap sektor pangan dan inflasi global dapat mulai terasa dalam enam hingga sembilan bulan ke depan.
Konflik Timur Tengah Mengubah Peta Ekonomi Dunia
Pada akhirnya, perang di Timur Tengah tidak hanya menjadi konflik militer semata. Lebih dari itu, konflik ini juga berpotensi mengubah peta ekonomi global.
Beberapa negara seperti Rusia mungkin memperoleh keuntungan dari lonjakan harga energi. Namun sebaliknya, banyak negara berkembang harus menghadapi tekanan ekonomi yang berat akibat mahalnya energi dan terganggunya rantai pasok global.
Jika konflik terus berlanjut, dampaknya bisa meluas tidak hanya pada sektor energi, tetapi juga perdagangan internasional, stabilitas ekonomi, hingga keamanan pangan dunia.
Penulis: Mita Putri








