Suarakitanews, Teheran – Pemimpin tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei, menyampaikan pesan publik pertamanya sejak ditunjuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei. Dalam pidato yang disiarkan melalui televisi pemerintah Iran, ia menegaskan bahwa negaranya akan tetap memblokir jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Namun demikian, Khamenei tidak tampil secara langsung di layar televisi. Pernyataannya dibacakan oleh seorang pembaca berita dari stasiun televisi pemerintah Iran.
Iran Bersumpah Membalas Serangan
Dalam pesannya, Mojtaba Khamenei menegaskan bahwa Iran akan membalas kematian warga negaranya yang tewas dalam konflik melawan Amerika Serikat dan Israel.
Selain itu, ia juga memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak mengizinkan wilayah mereka digunakan sebagai pangkalan militer Amerika Serikat. Menurutnya, langkah tersebut dapat memperluas konflik di kawasan Teluk.
“Negara-negara ini harus menjelaskan sikap mereka terhadap para agresor yang menyerang tanah air kami dan para pembunuh rakyat kami,” kata Khamenei dalam pernyataan yang disiarkan televisi pemerintah.
Mojtaba Khamenei Ditunjuk Setelah Serangan AS-Israel
Sebelumnya, Mojtaba Khamenei ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran pada 8 Maret 2026 setelah ayahnya, Ali Khamenei, meninggal dunia pada hari pertama serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
Serangan tersebut juga menewaskan sejumlah anggota keluarganya. Bahkan, laporan menyebutkan bahwa istri serta seorang putra Mojtaba Khamenei turut menjadi korban dalam serangan terhadap kompleks pemimpin tertinggi Iran.
Sementara itu, kantor berita Reuters mengutip seorang pejabat Iran yang menyatakan bahwa Mojtaba Khamenei mengalami luka ringan dalam serangan tersebut. Meski demikian, hingga kini belum ada foto maupun rekaman video yang menunjukkan kemunculannya di publik.
Penutupan Selat Hormuz Jadi “Tuas Kekuatan”
Dalam pidatonya, Khamenei menegaskan bahwa Iran harus memanfaatkan penutupan Selat Hormuz sebagai “tuas kekuatan” menghadapi musuh-musuhnya.
Perlu diketahui, Selat Hormuz merupakan jalur vital bagi perdagangan energi global. Sekitar sepertiga perdagangan minyak dunia melewati kawasan tersebut setiap hari.
Oleh karena itu, penutupan jalur ini berpotensi memicu krisis energi global dan lonjakan harga minyak.
Selain itu, Khamenei juga menegaskan bahwa Iran akan terus menyerang pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Teluk jika konflik terus berlanjut.
Israel Tanggapi Keras
Menanggapi pernyataan tersebut, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberikan komentar tajam. Ia menyebut pemimpin baru Iran itu sebagai “boneka” dari Garda Revolusi Iran.
Netanyahu bahkan menyindir bahwa Mojtaba Khamenei tidak berani tampil di depan publik sejak ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Harga Minyak Dunia Terancam Melonjak
Sementara itu, ketegangan di kawasan Teluk memicu kekhawatiran di pasar energi global. Iran sebelumnya telah mengancam akan menyerang kapal-kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz, khususnya yang menuju Amerika Serikat, Israel, dan sekutu mereka.
Akibatnya, harga minyak dunia mulai mengalami lonjakan tajam.
Bahkan, Iran memperingatkan bahwa harga minyak dapat mencapai 200 dolar AS per barel jika konflik terus meningkat.
Selain itu, International Energy Agency juga memperingatkan bahwa pasar minyak saat ini sedang menghadapi gangguan pasokan terbesar dalam sejarah.
Dengan demikian, situasi geopolitik di Timur Tengah diperkirakan akan terus memengaruhi stabilitas ekonomi dan energi global dalam waktu dekat.
Penulis: Mita Putri








