Suarakitanews – Pulau Sumba dikenal sebagai salah satu destinasi wisata eksotis di Indonesia. Pantai indah, budaya yang unik, serta resort mewah menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. Namun di balik keindahan tersebut, Sumba masih menghadapi tantangan kesehatan serius, yaitu tingginya kasus malaria.
Di tengah kondisi itu, hadir sosok tenaga kesehatan yang memilih mengabdikan diri untuk kampung halamannya. Ia adalah Hapu Ammah atau yang akrab disapa Endy, seorang perawat asal Sumba yang telah lebih dari satu dekade bekerja dalam penanganan malaria.
Menariknya, Endy pernah menempuh pendidikan hingga ke Australia. Meski demikian, ia justru memilih kembali ke tanah kelahirannya untuk membantu masyarakat melawan penyakit mematikan tersebut.
Berada di Garis Depan Penanganan Malaria
Selama bekerja bersama Yayasan Sumba, Endy menjadi salah satu tenaga kesehatan yang berada di garis depan penanganan malaria. Setiap hari ia menangani pasien dengan gejala penyakit tersebut.
Menurutnya, kasus malaria masih sering ditemukan di wilayah itu.
“Di kelima klinik malaria yang dioperasikan oleh Yayasan Sumba, hampir setiap hari ditemukan infeksi malaria,” jelas Endy.
Untuk memastikan diagnosis, pasien biasanya menjalani pemeriksaan darah.
Melalui proses ini, tenaga kesehatan akan memeriksa sampel darah menggunakan mikroskop untuk mendeteksi parasit malaria.
Profesi ini dikenal sebagai ahli mikroskopis malaria, yaitu tenaga kesehatan yang terlatih mengidentifikasi parasit malaria di bawah mikroskop.
Selain menangani pasien, Endy juga berperan sebagai pelatih di Pusat Pelatihan Mikroskopik Malaria. Program ini bertujuan meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan agar mampu mendiagnosis malaria secara akurat sesuai standar organisasi kesehatan dunia.
“Kita masih memiliki tanggung jawab untuk memastikan adanya ahli mikroskopis yang terampil dalam mendiagnosis malaria,” ujarnya.
Tumbuh dari Keluarga Sederhana
Perjalanan hidup Endy menuju dunia kesehatan tidaklah mudah. Ia lahir dari keluarga sederhana di Sumba Timur. Kehidupan keluarga mereka bergantung pada kebun kecil milik ibunya, ternak unggas, serta penghasilan yang terbatas.
Selain itu, ayahnya meninggal dunia pada tahun 1997 ketika Endy masih kecil. Kondisi tersebut membuat perjalanan pendidikan menjadi penuh tantangan.
Meski demikian, Endy memiliki tekad kuat untuk mengubah masa depannya melalui pendidikan.
“Saat itu saya tahu bahwa satu-satunya cara untuk mengubah hidup saya adalah melalui pendidikan,” katanya.
Namun, akses pendidikan di daerahnya sangat terbatas. Bahkan, di desa tempat ia tinggal tidak tersedia sekolah menengah pertama.
Akibatnya, setelah lulus SD ia harus meninggalkan rumah untuk melanjutkan sekolah di tempat lain.
Pilihan Hidup yang Mengubah Masa Depan
Setelah lulus SMA, Endy sempat merasa bingung menentukan masa depan. Awalnya, ia bercita-cita menjadi seorang guru.
Akan tetapi, pilihan pendidikan tinggi di Sumba saat itu sangat terbatas.
“Pada tahun 2000, satu-satunya sekolah yang tersedia di Sumba adalah akademi keperawatan,” kenangnya.
Akhirnya ia memutuskan melanjutkan pendidikan di Akademi Keperawatan Waingapu. Tanpa disadari, keputusan tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya.
Setelah lulus, Endy bergabung dengan Yayasan Sumba dan mulai bekerja dalam program penanggulangan malaria.
Perjuangan Mendapatkan Beasiswa ke Melbourne
Setelah lebih dari sepuluh tahun bekerja di klinik malaria, Endy mulai ingin memahami masalah kesehatan secara lebih luas, terutama pada tingkat masyarakat.
Karena itu, ia mencoba mendaftar Beasiswa Afirmasi LPDP, yang diperuntukkan bagi putra daerah dari wilayah tertinggal.
Namun perjalanan menuju beasiswa tersebut tidaklah mudah. Endy harus menghadapi tantangan besar dalam kemampuan bahasa Inggris.
Ia bahkan gagal dalam tes IELTS sebanyak dua kali.
Meski begitu, Endy tidak menyerah.
“Saya belajar dari kegagalan itu dan terus mendorong diri untuk menjadi lebih baik,” katanya.
Akhirnya, pada tahun 2023 ia berhasil menjadi penerima beasiswa dan melanjutkan studi Master of Public Health di University of Melbourne.
Dari Melbourne Kembali ke Sumba
Selama menempuh pendidikan di Australia, Endy juga aktif memperkenalkan kondisi kesehatan masyarakat di Sumba kepada dunia internasional.
Ia bahkan pernah menjadi pembicara dalam forum Rotary Club of Melbourne, di mana ia mempresentasikan program penanggulangan malaria serta temuan kasus kusta di daerahnya.
Setelah menyelesaikan studinya pada Agustus 2025, Endy tidak memilih bekerja di luar negeri. Sebaliknya, ia langsung kembali ke Sumba.
Kini ia kembali menjalani perannya sebagai tenaga kesehatan, pelatih mikroskopis malaria, serta pegawai negeri sipil.
Selain itu, Endy juga sering mengajak anak-anak desa untuk belajar membaca dan berlatih bahasa Indonesia.
Pendidikan untuk Masa Depan Desa
Bagi Endy, pendidikan bukan hanya tentang meraih gelar akademik. Lebih dari itu, pendidikan adalah cara membuka peluang baru bagi generasi berikutnya.
“Saya tahu bahwa ketika seorang anak desa meraih pendidikan tinggi, dampaknya akan jauh melampaui dirinya sendiri,” katanya.
Karena itulah, Endy memilih kembali ke tanah kelahirannya. Baginya, pengabdian terbesar bukanlah pergi jauh, melainkan kembali dan membantu tempat ia berasal.
“Pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tetapi tentang membuka pintu yang sebelumnya tertutup bagi keluarga dan komunitas kita,” tutupnya.
Penulis: Mita Putri








