Kisah Inspiratif Perawat Sumba: Kuliah di Melbourne Lalu Kembali Mengabdi Lawan Malaria

  • News
  • March 16, 2026

Suarakitanews – Pulau Sumba dikenal sebagai salah satu destinasi wisata eksotis di Indonesia. Pantai indah, budaya yang unik, serta resort mewah menjadi daya tarik utama bagi wisatawan. Namun di balik keindahan tersebut, Sumba masih menghadapi tantangan kesehatan serius, yaitu tingginya kasus malaria.

Di tengah kondisi itu, hadir sosok tenaga kesehatan yang memilih mengabdikan diri untuk kampung halamannya. Ia adalah Hapu Ammah atau yang akrab disapa Endy, seorang perawat asal Sumba yang telah lebih dari satu dekade bekerja dalam penanganan malaria.

Menariknya, Endy pernah menempuh pendidikan hingga ke Australia. Meski demikian, ia justru memilih kembali ke tanah kelahirannya untuk membantu masyarakat melawan penyakit mematikan tersebut.

Berada di Garis Depan Penanganan Malaria

Selama bekerja bersama Yayasan Sumba, Endy menjadi salah satu tenaga kesehatan yang berada di garis depan penanganan malaria. Setiap hari ia menangani pasien dengan gejala penyakit tersebut.

Menurutnya, kasus malaria masih sering ditemukan di wilayah itu.

“Di kelima klinik malaria yang dioperasikan oleh Yayasan Sumba, hampir setiap hari ditemukan infeksi malaria,” jelas Endy.

Untuk memastikan diagnosis, pasien biasanya menjalani pemeriksaan darah.

Melalui proses ini, tenaga kesehatan akan memeriksa sampel darah menggunakan mikroskop untuk mendeteksi parasit malaria.

Profesi ini dikenal sebagai ahli mikroskopis malaria, yaitu tenaga kesehatan yang terlatih mengidentifikasi parasit malaria di bawah mikroskop.

Selain menangani pasien, Endy juga berperan sebagai pelatih di Pusat Pelatihan Mikroskopik Malaria. Program ini bertujuan meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan agar mampu mendiagnosis malaria secara akurat sesuai standar organisasi kesehatan dunia.

“Kita masih memiliki tanggung jawab untuk memastikan adanya ahli mikroskopis yang terampil dalam mendiagnosis malaria,” ujarnya.

Tumbuh dari Keluarga Sederhana

Perjalanan hidup Endy menuju dunia kesehatan tidaklah mudah. Ia lahir dari keluarga sederhana di Sumba Timur. Kehidupan keluarga mereka bergantung pada kebun kecil milik ibunya, ternak unggas, serta penghasilan yang terbatas.

Selain itu, ayahnya meninggal dunia pada tahun 1997 ketika Endy masih kecil. Kondisi tersebut membuat perjalanan pendidikan menjadi penuh tantangan.
Meski demikian, Endy memiliki tekad kuat untuk mengubah masa depannya melalui pendidikan.

“Saat itu saya tahu bahwa satu-satunya cara untuk mengubah hidup saya adalah melalui pendidikan,” katanya.

Namun, akses pendidikan di daerahnya sangat terbatas. Bahkan, di desa tempat ia tinggal tidak tersedia sekolah menengah pertama.

Akibatnya, setelah lulus SD ia harus meninggalkan rumah untuk melanjutkan sekolah di tempat lain.

Pilihan Hidup yang Mengubah Masa Depan

Setelah lulus SMA, Endy sempat merasa bingung menentukan masa depan. Awalnya, ia bercita-cita menjadi seorang guru.

Akan tetapi, pilihan pendidikan tinggi di Sumba saat itu sangat terbatas.

“Pada tahun 2000, satu-satunya sekolah yang tersedia di Sumba adalah akademi keperawatan,” kenangnya.

Akhirnya ia memutuskan melanjutkan pendidikan di Akademi Keperawatan Waingapu. Tanpa disadari, keputusan tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya.

Setelah lulus, Endy bergabung dengan Yayasan Sumba dan mulai bekerja dalam program penanggulangan malaria.

Perjuangan Mendapatkan Beasiswa ke Melbourne

Setelah lebih dari sepuluh tahun bekerja di klinik malaria, Endy mulai ingin memahami masalah kesehatan secara lebih luas, terutama pada tingkat masyarakat.

Karena itu, ia mencoba mendaftar Beasiswa Afirmasi LPDP, yang diperuntukkan bagi putra daerah dari wilayah tertinggal.

Namun perjalanan menuju beasiswa tersebut tidaklah mudah. Endy harus menghadapi tantangan besar dalam kemampuan bahasa Inggris.

Ia bahkan gagal dalam tes IELTS sebanyak dua kali.

Meski begitu, Endy tidak menyerah.

“Saya belajar dari kegagalan itu dan terus mendorong diri untuk menjadi lebih baik,” katanya.

Akhirnya, pada tahun 2023 ia berhasil menjadi penerima beasiswa dan melanjutkan studi Master of Public Health di University of Melbourne.

Dari Melbourne Kembali ke Sumba

Selama menempuh pendidikan di Australia, Endy juga aktif memperkenalkan kondisi kesehatan masyarakat di Sumba kepada dunia internasional.

Ia bahkan pernah menjadi pembicara dalam forum Rotary Club of Melbourne, di mana ia mempresentasikan program penanggulangan malaria serta temuan kasus kusta di daerahnya.

Setelah menyelesaikan studinya pada Agustus 2025, Endy tidak memilih bekerja di luar negeri. Sebaliknya, ia langsung kembali ke Sumba.

Kini ia kembali menjalani perannya sebagai tenaga kesehatan, pelatih mikroskopis malaria, serta pegawai negeri sipil.

Selain itu, Endy juga sering mengajak anak-anak desa untuk belajar membaca dan berlatih bahasa Indonesia.

Pendidikan untuk Masa Depan Desa

Bagi Endy, pendidikan bukan hanya tentang meraih gelar akademik. Lebih dari itu, pendidikan adalah cara membuka peluang baru bagi generasi berikutnya.

“Saya tahu bahwa ketika seorang anak desa meraih pendidikan tinggi, dampaknya akan jauh melampaui dirinya sendiri,” katanya.

Karena itulah, Endy memilih kembali ke tanah kelahirannya. Baginya, pengabdian terbesar bukanlah pergi jauh, melainkan kembali dan membantu tempat ia berasal.

“Pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan gelar, tetapi tentang membuka pintu yang sebelumnya tertutup bagi keluarga dan komunitas kita,” tutupnya.

Penulis: Mita Putri

Mita Putri

Artikel Terkait

Laporan Khusus: Jejak Sunyi Sang “Manusia Bayangan Republik” Zulkifli Lubis

Suara Kita News. Com, Dalam lembaran sejarah Indonesia, panggung utama kerap dikuasai oleh mereka yang bersuara lantang di atas mimbar. Namun, di balik layar sejarah kemerdekaan, terdapat figur-figur yang memilih…

Lanjutkan Membaca

// // //
  • News
  • July 1, 2026
  • //
Biaya Visa Jepang Resmi Naik 5 Kali Lipat per 1 Juli 2026, Turis Indonesia Wajib Tahu!

Suarakitanews — Kabar penting bagi Anda yang berencana liburan ke Negeri Sakura: biaya visa Jepang naik secara signifikan mulai 1 Juli 2026. Kenaikan ini bukan sekadar penyesuaian kecil, melainkan lonjakan…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri