Suarakitanews – Cadangan bahan bakar minyak (BBM) nasional yang hanya cukup untuk sekitar 20 hari dinilai sangat berisiko, terutama di tengah meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah serta lonjakan kebutuhan energi menjelang Idul Fitri.
Sejumlah pengamat energi menilai kondisi tersebut dapat memicu ketidakpastian pasokan energi nasional jika konflik global terus berlanjut.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya menyebutkan bahwa stok BBM nasional saat ini masih aman.
Namun, ia juga mengungkapkan bahwa cadangan tersebut hanya cukup untuk sekitar 20 hari, karena kapasitas tangki penyimpanan milik Pertamina masih terbatas.
Konflik Timur Tengah Picu Kekhawatiran Pasokan Minyak
Di sisi lain, konflik yang memanas antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran turut meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas pasokan minyak dunia.
Berdasarkan data Marine Traffic yang dianalisis media Rusia RIA Novosti, sekitar 300 kapal tanker dilaporkan tertahan di jalur pelayaran Selat Hormuz, salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia.
Bahkan, dua di antaranya merupakan kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping.
Sebelumnya, pejabat militer Iran sempat menyatakan bahwa negaranya tidak akan membiarkan minyak keluar dari kawasan tersebut. Meski demikian, pemerintah Iran kemudian menegaskan bahwa Selat Hormuz tidak ditutup, tetapi hanya menerapkan protokol keamanan selama situasi konflik.
Meski begitu, ketegangan tersebut tetap menimbulkan ketidakpastian terhadap rantai pasokan energi global.
Cadangan Energi Indonesia Masih Jauh dari Standar Dunia
Sementara itu, jika dibandingkan dengan negara lain, cadangan energi Indonesia tergolong rendah.
Berdasarkan standar International Energy Agency (IEA), negara anggota dianjurkan memiliki cadangan minyak minimal untuk 90 hari.
Sebagai perbandingan:
- Jepang memiliki cadangan minyak hingga 254 hari
- China sekitar 200 hari
- India sekitar 75 hari
- Thailand sekitar 60 hari
- Filipina sekitar 51 hari
Sedangkan Indonesia hanya memiliki cadangan operasional sekitar 20 hari.
Oleh karena itu, banyak pihak menilai kondisi ini dapat mengancam ketahanan energi nasional jika terjadi gangguan pasokan global.
Mengapa Indonesia Tidak Memiliki Cadangan Besar?
Pengamat energi Khomaidi Notonegoro menjelaskan bahwa salah satu alasan utama terbatasnya cadangan energi nasional adalah biaya yang sangat besar.
Menurutnya, satu hari cadangan minyak dapat bernilai sekitar Rp3 triliun. Artinya, jika Indonesia ingin memiliki cadangan hingga 90 hari, pemerintah harus menyiapkan dana sekitar Rp270 triliun.
Selain faktor biaya, ia juga menilai adanya kurangnya kemauan politik dalam membangun fasilitas penyimpanan energi skala besar.
Padahal, pemerintah sebenarnya telah mengeluarkan Perpres Nomor 96 Tahun 2024 tentang Cadangan Penyangga Energi yang menargetkan pembangunan cadangan bensin, LPG, dan minyak mentah untuk menghadapi krisis energi.
Panic Buying Mulai Terjadi di Aceh
Di tengah kondisi tersebut, kekhawatiran masyarakat mulai terlihat di sejumlah daerah.
Di Aceh Tengah, misalnya, antrean panjang kendaraan terjadi di beberapa SPBU setelah pernyataan mengenai stok BBM nasional hanya cukup untuk 20 hari beredar luas.
Bahkan, antrean kendaraan dilaporkan mencapai hingga 3 kilometer untuk sepeda motor dan sekitar 1 kilometer untuk mobil.
Fenomena ini diduga dipicu oleh panic buying, di mana masyarakat membeli BBM dalam jumlah besar karena khawatir akan kelangkaan.
Pemerintah Siapkan Alternatif Impor Minyak
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah berencana mengalihkan sebagian impor minyak dari Timur Tengah ke negara lain, termasuk Amerika Serikat.
Namun demikian, sejumlah pengamat menilai langkah tersebut belum tentu menjadi solusi jangka panjang.
Pasalnya, negara produsen minyak juga dapat memprioritaskan kebutuhan domestiknya sendiri jika krisis energi global terjadi.
Selain itu, minyak mentah dari Amerika Serikat belum tentu sepenuhnya cocok dengan spesifikasi kilang yang dimiliki Pertamina.
Pentingnya Ketahanan Energi Nasional
Para ahli menilai situasi ini seharusnya menjadi momentum bagi Indonesia untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Selain membangun fasilitas penyimpanan minyak yang lebih besar, pemerintah juga didorong untuk mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan guna mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil.
Dengan demikian, Indonesia dapat lebih siap menghadapi krisis energi global di masa depan.
Penulis: Mita Putri








