Suarakitanews – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan ancaman El Nino 2026 mulai memberikan tekanan besar terhadap sektor pertanian nasional. Kenaikan harga bahan bakar, bibit, hingga pestisida membuat biaya produksi petani melonjak, sementara ancaman kemarau panjang meningkatkan risiko gagal panen di berbagai daerah.
Sejumlah petani di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Jawa Tengah mengaku mulai kesulitan menghadapi kondisi ekonomi dan cuaca yang tidak menentu.
Di sisi lain, para ahli mengingatkan pemerintah agar tidak menganggap situasi pangan nasional aman meski stok beras disebut mencapai rekor tertinggi.
Harga Produksi Pertanian Naik, Pendapatan Petani Menurun
Roni Nubatonis, petani asal Desa Bena, Amanuban Selatan, Timor Tengah Selatan, NTT, mengaku biaya produksi pertanian meningkat tajam dalam beberapa bulan terakhir. Menurutnya, kelangkaan solar membuat harga bahan bakar eceran melonjak hingga sekitar 50 persen.
Akibatnya, keuntungan petani terus tergerus karena hasil panen tidak mengalami peningkatan. Selain itu, harga pestisida juga naik, meski pupuk subsidi masih membantu menekan biaya produksi.
“Biaya produksi tinggi dengan hasil panen tetap sama membuat pendapatan petani berkurang. Kalau panas berkepanjangan, kami bahkan tidak bicara untung lagi,” ujarnya.
Selain tekanan ekonomi, ancaman kekeringan akibat El Nino mulai membuat petani khawatir. Sebab, sebagian besar lahan pertanian di wilayah tersebut masih bergantung pada aliran sungai sebagai sumber irigasi.
Ancaman El Nino 2026 Diprediksi Lebih Parah
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika atau BMKG memprediksi puncak musim kemarau akan terjadi pada Agustus 2026. Bahkan, sebagian besar wilayah di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, hingga Papua diperkirakan mengalami musim kering lebih panjang dibanding kondisi normal.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, menyebut peluang El Nino berkembang pada semester kedua 2026 berada pada kategori lemah hingga moderat dengan kemungkinan menguat.
Sementara itu, lembaga cuaca Amerika Serikat, National Oceanic and Atmospheric Administration atau NOAA, memperingatkan potensi munculnya El Nino kuat atau “super El Nino” apabila suhu permukaan laut terus meningkat secara signifikan.
Jika kondisi ini terjadi, maka Indonesia berisiko mengalami kekeringan panjang, penurunan produksi pangan, hingga ancaman kebakaran hutan di sejumlah wilayah.
Petani Mulai Bersiasat Hadapi Kemarau
Menghadapi ancaman kekeringan, sejumlah petani mulai mengubah pola tanam. Katarina Dima, petani di Desa Oefafi, Kupang, memilih menanam komoditas yang lebih tahan terhadap cuaca kering seperti terung dan kacang-kacangan.
Selain itu, ia juga mengurangi luas tanam untuk menghemat penggunaan air. Menurutnya, kondisi ekonomi saat ini memaksa petani untuk lebih berhati-hati agar tidak mengalami kerugian besar.
“Kami tetap menanam karena hidup dari lahan pertanian. Tapi sekarang harus lebih waspada karena air mulai berkurang,” katanya.
Hal serupa juga dirasakan Hardiono, petani asal Grobogan, Jawa Tengah. Ia menyebut harga benih jagung mengalami kenaikan lebih dari Rp10 ribu per kilogram dibanding tahun sebelumnya.
Tidak hanya itu, biaya pestisida dan kebutuhan produksi lainnya juga ikut naik. Meski demikian, petani tetap harus membeli karena menjadi kebutuhan utama dalam menjaga hasil panen.
Pemerintah Diminta Siapkan Mitigasi Tepat Sasaran
Guru Besar IPB University, Dwi Andreas Santosa, menilai pemerintah harus menyiapkan langkah taktis menghadapi ancaman krisis pangan akibat kombinasi pelemahan rupiah, konflik geopolitik global, dan El Nino.
Menurutnya, pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan stok beras nasional tanpa memastikan kualitas dan ketahanan stok tersebut.
“Situasi saat ini tidak baik-baik saja. Pemerintah harus ekstra hati-hati karena ancamannya datang bersamaan,” ujar Dwi.
Kementerian Pertanian menyatakan telah menyiapkan berbagai langkah mitigasi seperti bantuan pompa air, rehabilitasi irigasi, pembangunan embung, sampai penyediaan benih tahan kekeringan.
Direktur Sayuran dan Tanaman Obat Kementerian Pertanian, Muhammad Agung Sunusi, menyebut distribusi pompa air akan dilakukan di berbagai daerah rawan kekeringan untuk membantu petani menghadapi musim kemarau.
Ketahanan Pangan Nasional Terancam
Para ahli menilai kombinasi krisis iklim dan tekanan ekonomi global dapat menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan nasional. Selain berdampak pada produksi pertanian, kondisi ini juga berpotensi memicu kenaikan harga pangan di pasar.
Dekan Fakultas Pertanian IPB, Suryo Wiyono, menegaskan bahwa ketahanan pangan tidak cukup hanya melalui program cetak sawah baru. Menurutnya, pembangunan ekosistem pertanian membutuhkan waktu panjang dan dukungan infrastruktur yang memadai.
Di sisi lain, Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menilai Indonesia sedang menghadapi “perfect storm” karena krisis energi, tekanan ekonomi, dan ancaman pangan terjadi secara bersamaan.
Pemerintah diminta segera memperkuat mitigasi dan perlindungan terhadap petani kecil yang menjadi kelompok paling rentan terdampak El Nino dan kenaikan biaya produksi.
Penulis: Mita Putri








