Perang AS–Israel vs Iran: Ancaman Baru bagi Ekonomi Indonesia, Harga BBM hingga Stabilitas Politik

Suarakitanews – Konflik militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang kini memasuki hari keempat mulai menimbulkan kekhawatiran global. Tidak hanya berdampak pada kawasan Timur Tengah, perang ini juga berpotensi memengaruhi stabilitas ekonomi dan politik di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Para analis memperkirakan konflik ini bisa berlangsung cukup lama. Jika eskalasi terus meningkat, dampaknya tidak hanya pada keamanan regional, tetapi juga terhadap harga energi, perdagangan global, hingga kondisi ekonomi domestik Indonesia.

Harga Minyak Dunia Naik, BBM Indonesia Ikut Terdampak

Salah satu dampak paling cepat terasa adalah lonjakan harga minyak dunia. Ketegangan di Timur Tengah menyebabkan Iran menutup Selat Hormuz, jalur strategis yang mengalirkan sekitar 20 persen pasokan minyak global.

Akibatnya, harga minyak mentah Brent naik lebih dari 7 persen menjadi sekitar 78 dolar per barel, sementara minyak mentah Amerika Serikat mencapai 71 dolar per barel.

Bahkan, sejumlah analis memperingatkan bahwa harga minyak dunia bisa menembus 100 dolar per barel jika konflik terus berlanjut.

Kenaikan ini mulai berdampak pada Indonesia. Harga BBM non-subsidi telah mengalami kenaikan mengikuti tren pasar global.

Namun demikian, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan bahwa stok energi nasional masih relatif aman.

Stok BBM, minyak mentah, dan LPG disebut cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional hingga sekitar tiga minggu ke depan.

Ekonomi Indonesia Bisa Tertekan

Meski pemerintah menyatakan kondisi masih terkendali, sejumlah ekonom menilai dampak konflik ini dapat memperburuk kondisi ekonomi nasional.
Ekonom dari Universitas Padjadjaran, Ferry Hadiyanto, mengatakan bahwa dampak ekonomi akan sangat bergantung pada eskalasi perang dan jumlah negara yang terlibat.

Jika konflik meluas, dampaknya bisa terasa dalam waktu relatif cepat.
Selain harga energi yang meningkat, sektor ekspor Indonesia juga berpotensi terdampak, terutama komoditas pertanian yang banyak dipasarkan ke kawasan Timur Tengah.

Di sisi lain, penyelenggaraan haji dan umrah juga berpotensi terganggu apabila situasi keamanan regional semakin memburuk.

Ancaman Inflasi dan Melemahnya Rupiah

Lonjakan harga minyak dunia dapat memberikan tekanan tambahan terhadap APBN 2026, yang sebelumnya sudah menetapkan asumsi harga minyak sekitar 70 dolar per barel.

Jika harga minyak benar-benar melonjak hingga 100 dolar per barel, pemerintah akan menghadapi dilema besar, yaitu:

  • menaikkan harga BBM bersubsidi
  • atau menambah subsidi energi yang membebani APBN

Selain itu, ketidakpastian global biasanya membuat dolar AS menguat, yang berpotensi menekan nilai tukar rupiah.

Jika rupiah melemah, maka biaya impor energi, pangan, dan bahan baku industri akan menjadi lebih mahal, yang pada akhirnya mendorong inflasi domestik.

Pemerintah Siapkan Strategi Mitigasi

Untuk mengantisipasi dampak tersebut, pemerintah Indonesia mulai menyiapkan beberapa langkah strategis.

Salah satunya adalah mengalihkan sebagian impor minyak dari Timur Tengah ke negara lain, termasuk Amerika Serikat dan beberapa negara Afrika.

Langkah ini bertujuan untuk menjaga stabilitas pasokan energi nasional apabila jalur distribusi di Timur Tengah terganggu.

Selain itu, pemerintah juga berupaya:

  • memperkuat ketahanan energi domestik
  • mengoptimalkan penerimaan pajak
  • serta menjaga daya beli masyarakat

Menteri Keuangan menegaskan bahwa ekonomi Indonesia masih memiliki kekuatan dari pasar domestik, yang menyumbang sekitar 90 persen aktivitas ekonomi nasional.

WNI di Timur Tengah Diminta Waspada

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri terus memantau kondisi Warga Negara Indonesia (WNI) yang berada di kawasan Timur Tengah.

Tercatat lebih dari 500 ribu WNI tinggal di berbagai negara di kawasan tersebut, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, dan Mesir.

Kementerian Luar Negeri mengimbau WNI untuk meningkatkan kewaspadaan serta mendaftarkan diri melalui portal Peduli WNI dan aplikasi Safe Travel agar mudah dipantau dalam kondisi darurat.

Masyarakat Indonesia Mulai Berhemat

Di dalam negeri, sebagian masyarakat mulai mengantisipasi dampak ekonomi dari konflik global ini.

Beberapa warga memilih untuk:

  • mengurangi pengeluaran
  • menahan pembelian barang konsumtif
  • hingga mengalihkan tabungan ke emas atau mata uang asing

Langkah ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan kenaikan harga kebutuhan pokok, terutama menjelang Ramadhan dan Lebaran.

Risiko Ekonomi Bisa Lebih Buruk dari Pandemi

Sejumlah pengamat menilai konflik Timur Tengah berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang bahkan lebih besar dibanding pandemi Covid-19, terutama jika perang meluas.

Jika tekanan ekonomi meningkat, pemerintah kemungkinan harus melakukan evaluasi terhadap beberapa program dengan anggaran besar agar stabilitas fiskal tetap terjaga.

Dengan kata lain, konflik global ini tidak hanya menjadi isu geopolitik, tetapi juga menjadi tantangan besar bagi stabilitas ekonomi dan politik Indonesia dalam beberapa bulan ke depan.

Penulis: Mita Putri

Mita Putri

Artikel Terkait

Blackout Sumatera: 5 Orang Tewas, Bisnis Merugi Miliaran — PLN Wajib Beri Kompensasi hingga 500 Persen

Suarakitanews – Blackout Sumatera 2026: Kronologi, Korban Jiwa, dan Hak Kompensasi yang Wajib Anda Ketahui Pemadaman listrik massal atau blackout Sumatera yang berlangsung selama tiga hari, yakni 22 hingga 24…

Lanjutkan Membaca

// // //
Krisis Pangan Mengintai? Petani Indonesia Tertekan El Nino dan Ekonomi Global

Suarakitanews – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan ancaman El Nino 2026 mulai memberikan tekanan besar terhadap sektor pertanian nasional. Kenaikan harga bahan bakar, bibit, hingga pestisida…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri