Tragedi Minab: 40 Anak Tewas di Tengah Serangan AS–Israel, Warga Iran Terbelah

Suarakitanews – Minab kembali menjadi sorotan dunia setelah laporan menyebutkan 40 anak perempuan tewas akibat serangan rudal di wilayah selatan Iran. Peristiwa tragis ini terjadi di tengah eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran yang memuncak pada Sabtu (28/02) pagi.

Ledakan keras terdengar di sejumlah kota, termasuk Teheran. Video yang beredar di media sosial memperlihatkan warga berlarian dalam kepanikan. Tangisan dan teriakan memenuhi udara, sementara sebagian lainnya justru menyambut kabar tersebut dengan rasa lega.

Ali Khamenei Tewas dalam Serangan Udara

Keesokan harinya, dunia dikejutkan dengan pengumuman bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, tewas dalam serangan udara yang diklaim dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.

Pengumuman pertama disampaikan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Tidak lama kemudian, media pemerintah Iran mengonfirmasi wafatnya pemimpin yang telah berkuasa lebih dari 36 tahun tersebut.
Sebagian warga Iran menyatakan tidak percaya, namun juga menganggap peristiwa ini sebagai awal perubahan besar.

“Saya tidak bisa tidur semalaman. Saya menunggu hari pertama tanpa Khamenei,” ujar seorang warga di Teheran.

“Saya pikir Timur Tengah sekarang menjadi tempat yang lebih baik.”
Namun demikian, tidak semua suara bernada optimis.

Antrean Panjang dan Internet Lumpuh

Sejak Jumat malam, antrean panjang terlihat di stasiun pengisian bahan bakar di Teheran. Selain itu, banyak warga memilih meninggalkan ibu kota menuju wilayah utara dekat Laut Kaspia yang dianggap lebih aman.

Di sisi lain, pemerintah melakukan pemadaman internet hampir di seluruh wilayah Iran. Akibatnya, komunikasi menjadi sangat terbatas. Meski begitu, beberapa warga masih dapat mengakses jaringan melalui layanan satelit Starlink milik SpaceX serta menggunakan VPN.

Seorang warga yang berhasil mengakses internet mengaku mendengar beberapa ledakan dari pusat kota.

“Anak-anak kami pergi ke sekolah pagi itu. Kami harus segera menjemput mereka,” katanya.

Situasi semakin mencekam ketika banyak warga mulai menimbun makanan dan kebutuhan pokok. Aparat keamanan juga memperketat penjagaan di sekitar kompleks pemerintahan.

“Jaga Anak-Anak Kami”

Sebelum jaringan benar-benar terputus, sejumlah warga mengunggah pesan terakhir di media sosial. Mereka menuliskan semacam wasiat jika harus menjadi korban serangan udara.

“Jika saya mati, jangan lupa kami pernah ada,” tulis seorang pengguna.

“Kami bukan tentara untuk pemimpin manapun. Kami hanya ingin hidup.”

Pesan lain yang viral berbunyi: “Jika sesuatu terjadi pada kami, rawatlah anak-anak kami. Katakan bahwa kami telah melakukan segala yang kami bisa.”

Unggahan-unggahan tersebut memperlihatkan ketakutan mendalam masyarakat sipil yang terjebak di tengah konflik bersenjata.

Tragedi Minab: 40 Anak Perempuan Jadi Korban

Namun demikian, momen yang paling mengguncang publik adalah laporan serangan terhadap sekolah perempuan di Minab. Media pemerintah menyebutkan 40 anak tewas akibat serangan rudal.

Peristiwa ini memicu kemarahan luas, baik di dalam maupun luar negeri. Warga Iran di diaspora mengecam intervensi militer dan mempertanyakan legitimasi perang tersebut.

“Korban pertama perang ini adalah 40 anak-anak perempuan di Minab. Apakah ini perang yang kalian dukung?” tulis seorang warganet.

Meski begitu, ketidakpercayaan terhadap rezim membuat sebagian warga meragukan laporan resmi. Ada pula yang tetap menyalahkan pemerintah Iran karena dinilai gagal melindungi rakyatnya.

“Bahkan jika rezim tidak menargetkan sekolah, kematian anak-anak tetap tanggung jawab Republik Islam,” tulis pengguna lainnya.

Warga Iran Terbelah: Harapan atau Ketakutan?

Di satu sisi, sebagian masyarakat menyambut kemungkinan perubahan rezim, bahkan jika harus melalui intervensi militer. Akan tetapi, di sisi lain, tidak sedikit yang khawatir kekerasan justru akan semakin brutal.

Apalagi, pengalaman masa lalu menunjukkan bahwa konflik berkepanjangan hanya memperparah penderitaan rakyat sipil. Sentimen publik pun berpotensi berubah drastis apabila korban sipil terus berjatuhan.

Kesimpulan

Tragedi Minab menjadi simbol pahit bahwa dalam setiap perang, korban pertama sering kali adalah anak-anak dan warga sipil tak bersenjata. Sementara elit politik saling menyerang, rakyat kecil yang menanggung akibatnya.

Kini, dunia menunggu: Apakah konflik ini akan berujung pada perubahan rezim? Atau justru menjerumuskan Iran ke dalam babak kekerasan yang lebih kelam?

Yang jelas, suara warga Iran—baik yang berharap perubahan maupun yang takut akan kehancuran—menjadi pengingat bahwa di balik setiap headline politik, ada manusia yang mempertaruhkan hidupnya.

Penulis: Mita Putri

Mita Putri

Artikel Terkait

Krisis Migran Ceuta dan Melilla: Pengerahan Militer Spanyol di Tengah Sengketa Kedaulatan Berabad-Abad

Suarakitanews – Tegangan diplomatik kembali memanas di Selat Gibraltar setelah Pemerintah Spanyol mengerahkan pasukan militer tambahan ke Ceuta, sebuah wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara. Langkah drastis ini diambil sebagai…

Lanjutkan Membaca

// // //
Detik-Detik Mencekam Gempa Venezuela: Kisah Perempuan Berjam-jam Mencari Kabar Keluarganya di Caracas

Venezuela, Suarakitanews — Sebuah pesan suara singkat di WhatsApp menjadi awal dari berjam-jam kecemasan yang tak terlupakan. “Baru saja terjadi gempa yang sangat hebat, saat ini masih terasa gunangannya,” demikian…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri