Suarakitanews – Konflik geopolitik kembali memanas setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada Sabtu (28/02). Peristiwa ini segera menarik perhatian dunia internasional, terutama terkait sikap dua sekutu utama Teheran, yaitu Rusia dan China.
Kedua negara tersebut selama ini dikenal memiliki hubungan diplomatik, ekonomi, dan militer yang cukup erat dengan Iran. Oleh karena itu, konflik terbaru ini menjadi ujian besar mengenai seberapa jauh Rusia dan China bersedia memberikan dukungan nyata kepada Teheran.
Namun demikian, respons yang muncul dari Moskow dan Beijing menunjukkan strategi yang berbeda: retorika keras dari Rusia dan pendekatan ekonomi serta diplomasi dari China.
Dukungan Rusia: Retorika Keras, Aksi Terbatas
Di satu sisi, Rusia langsung mengecam keras serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran. Pemerintah Moskow menyebut aksi tersebut sebagai agresi yang tidak memiliki provokasi dan berpotensi memperburuk stabilitas kawasan.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, menyampaikan bahwa Rusia merasa sangat kecewa dengan perkembangan situasi yang berubah menjadi konflik terbuka.
Selain itu, Presiden Vladimir Putin juga menyampaikan belasungkawa kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Putin bahkan menyebut peristiwa tersebut sebagai pelanggaran serius terhadap moralitas manusia dan hukum internasional.
Meski demikian, dukungan Rusia tampak masih terbatas pada pernyataan politik dan diplomatik. Hal ini tidak terlepas dari situasi Rusia yang saat ini masih terlibat dalam konflik berkepanjangan di Ukraina.
Akibatnya, Moskow dinilai tidak ingin terlibat langsung dalam konfrontasi militer baru di Timur Tengah.
Hubungan Militer Rusia dan Iran Tetap Berjalan
Meskipun Rusia berhati-hati, hubungan militer kedua negara tetap berkembang. Sebelumnya, Iran diketahui telah memasok drone Shahed yang digunakan Rusia dalam konflik Ukraina.
Sebagai gantinya, Rusia telah mengirim beberapa peralatan militer kepada Iran, seperti:
- Pesawat latih YAK-130
- Helikopter serang MI-28
- Rencana pengiriman jet tempur SU-35
Selain itu, terdapat pula kesepakatan untuk memasok sistem pertahanan udara Verba senilai €500 juta. Namun hingga saat ini, sistem tersebut belum sepenuhnya dikirimkan ke Iran.
Dengan demikian, meskipun hubungan militer masih berjalan, Moskow tampaknya tetap berhitung agar tidak terlibat langsung dalam perang yang lebih besar.
China: Penopang Ekonomi Terbesar Iran
Sementara itu, China mengambil pendekatan yang berbeda. Beijing mengecam keras pembunuhan Ayatollah Khamenei dan kembali menegaskan penolakannya terhadap strategi perubahan rezim yang sering dilakukan Amerika Serikat.
Namun, fokus utama hubungan China dengan Iran sebenarnya terletak pada kerja sama ekonomi.
Saat ini, China merupakan:
- Mitra dagang terbesar Iran
- Pembeli utama minyak Iran
Bahkan pada tahun 2025, lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran dibeli oleh China. Transaksi ini sering dilakukan melalui jaringan kapal yang dikenal sebagai “ghost fleets” untuk menghindari sanksi Barat.
Pendapatan dari penjualan minyak tersebut menjadi sumber penting bagi ekonomi Iran, terutama untuk menstabilkan kondisi finansial dan mendukung belanja pertahanan negara.
Strategi China: Menahan Diri Tapi Mengamankan Kepentingan
Secara historis, China memang dikenal mengadopsi strategi menahan diri dalam konflik Timur Tengah.
Alih-alih terlibat dalam konflik militer, Beijing biasanya memilih langkah diplomasi seperti:
- menyerukan penahanan diri
- menolak intervensi eksternal
- menggunakan veto di Dewan Keamanan PBB
Strategi ini bertujuan untuk menjaga keseimbangan geopolitik tanpa memicu eskalasi besar yang dapat mengganggu stabilitas ekonomi global.
Di sisi lain, China juga berkepentingan agar Iran tetap stabil. Pasalnya, Iran merupakan anggota BRICS dan Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) serta memiliki posisi geografis penting yang menghubungkan Asia Tengah, Kaukasus, dan Timur Tengah.
Masa Depan Iran dan Perhitungan Rusia-China
Secara keseluruhan, baik Rusia maupun China tampaknya tidak ingin Iran runtuh, tetapi juga tidak siap mengambil risiko konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat dan Israel.
Oleh karena itu, strategi yang diambil kedua negara saat ini lebih berfokus pada:
- dukungan diplomatik
- kerja sama ekonomi
- hubungan militer terbatas
Jika konflik tidak berkembang menjadi invasi penuh, maka struktur politik dan militer Iran kemungkinan masih akan bertahan.
Sementara itu, China akan tetap memainkan strategi jangka panjang, sedangkan Rusia kemungkinan akan terus mencari peluang geopolitik yang menguntungkan kepentingannya sendiri.
Penulis: Mita Putri








