Suarakitanews – Konflik antara Pakistan dan Afghanistan kembali memanas. Militer Pakistan melancarkan serangan ke Kabul dan sejumlah wilayah lain, memicu respons keras dari Taliban. Situasi ini memunculkan kekhawatiran akan eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan Asia Selatan.
Artikel ini merangkum kronologi serangan Pakistan ke Afghanistan, tanggapan dunia internasional, serta kemungkinan arah konflik ke depan.
Kronologi Serangan Pakistan ke Kabul dan Kandahar
Pada Jumat (27/02) dini hari, ledakan keras mengguncang Kabul sekitar pukul 01.50 waktu setempat. Suara jet tempur dan rentetan tembakan terdengar hingga menjelang pukul 02.30.
Tak lama kemudian, pemerintah Pakistan mengonfirmasi bahwa mereka melancarkan operasi militer ke sejumlah kota di Afghanistan, termasuk Kabul dan Kandahar. Serangan ini disebut sebagai balasan atas operasi Taliban di wilayah perbatasan yang sebelumnya menewaskan dua tentara Pakistan.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menegaskan bahwa negaranya memiliki “kemampuan penuh untuk menghancurkan ambisi agresif apa pun.”
Sementara itu, Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Asif, bahkan menyatakan situasi ini sebagai “perang terbuka”.
Di sisi lain, juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid, menyatakan bahwa Taliban akan membalas jika diserang, tetapi tidak ingin memulai bentrokan.
Namun demikian, klaim kedua belah pihak sulit diverifikasi secara independen.
Klaim Kerugian Militer dari Kedua Pihak
Konflik ini juga diwarnai saling klaim mengenai kerugian militer:
Pakistan mengklaim telah menghancurkan 27 pos militer Afghanistan.
Disebutkan pula lebih dari 80 tank dan kendaraan militernya dihancurkan.
Afghanistan, sebaliknya, mengklaim merebut 19 pos militer Pakistan dan menewaskan 55 prajurit.
Meski demikian, hingga saat ini belum ada verifikasi independen atas klaim tersebut. Oleh karena itu, informasi di lapangan masih berkembang dan penuh ketidakpastian.
Tanggapan Dunia Internasional
Ketegangan ini langsung mendapat sorotan global.
Diplomat Amerika Serikat, Zalmay Khalilzad, menyebut dinamika ini sebagai sesuatu yang “mengerikan” dan harus segera dihentikan. Ia menekankan pentingnya kesepakatan diplomatik yang diawasi pihak ketiga.
Selain itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menawarkan diri untuk memfasilitasi dialog antara kedua negara.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Faisal bin Farhan Al Saud, juga berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, guna membahas cara meredakan ketegangan.
Dengan demikian, tekanan diplomatik internasional mulai menguat agar konflik tidak berkembang menjadi perang skala penuh.
Mengapa Konflik Kedua Negara ini Kembali Memanas?
Sebelumnya, pada Oktober 2025, mereka pun menyepakati gencatan senjata. Namun, kesepakatan tersebut dianggap rapuh karena bentrokan perbatasan masih sering terjadi.
Secara militer, terdapat perbedaan signifikan antara kedua negara:
- Pakistan termasuk salah satu kekuatan militer teratas dunia dan memiliki persenjataan nuklir.
- Afghanistan, yang kini dipimpin Taliban, memiliki sumber daya terbatas dan lebih mengandalkan taktik gerilya.
Para analis menilai, kecil kemungkinan Taliban akan terlibat dalam perang konvensional. Sebaliknya, mereka kemungkinan menggunakan strategi perang gerilya seperti serangan mendadak dan bom pinggir jalan.
Ke Arah Mana Konflik Ini Akan Berkembang?
Saat ini, konflik kedua negara ini berada di titik kritis. Di satu sisi, Pakistan menunjukkan kekuatan militernya secara terbuka. Namun, di sisi lain, Taliban memiliki pengalaman panjang dalam perang asimetris.
Jika diplomasi gagal, eskalasi bisa meluas dan berdampak pada stabilitas kawasan Asia Selatan. Sebaliknya, jika mediasi internasional berhasil, peluang gencatan senjata baru masih terbuka.
Dengan demikian, perkembangan beberapa hari ke depan akan sangat menentukan arah hubungan kedua negara tersebut.
Penulis: Mita Putri








