Suarakitanews – Pada November 2025, kabar duka kembali datang dari wilayah Tepi Barat. Seorang remaja Palestina berusia 14 tahun, Jad Jadallah, meninggal dunia setelah ditembak dari jarak sangat dekat oleh tentara Israel di sekitar Kamp Pengungsian al-Far’a.
Peristiwa ini menjadi sorotan luas karena, selain penembakan tersebut, dua ambulans Palestina disebut dihalangi untuk memberikan pertolongan medis saat korban terbaring kritis.
Kronologi Remaja Palestina Ditembak di Kamp al-Far’a
Jad lahir dan besar di Kamp Pengungsian al-Far’a, yang dihuni sekitar 10.000 warga Palestina. Wilayah ini kerap menjadi lokasi operasi militer Israel dengan alasan keamanan.
Berdasarkan rekaman CCTV yang beredar, tiga anak laki-laki terlihat berdiri di sudut gang. Mereka disebut tengah memastikan situasi setelah mendapat informasi bahwa kendaraan militer Israel telah meninggalkan area tersebut.
Namun demikian, tanpa mereka sadari, empat tentara Israel telah bersembunyi di balik dinding, hanya beberapa meter dari lokasi.
Tak lama kemudian, seorang tentara terlihat mengangkat senjata dan menembak Jad dari jarak kurang dari tiga meter. Rekaman menunjukkan Jad sempat berusaha berlari menjauh meski diduga telah terluka. Akan tetapi, tembakan kembali dilepaskan dari arah belakang hingga akhirnya ia ambruk di gang tersebut.
Ambulans Palestina Dihalangi, Korban Dibiarkan Berdarah
Lebih lanjut, saksi mata menyebutkan bahwa sekitar 14 tentara berdiri di sekitar tubuh Jad selama kurang lebih 45 menit.
Sementara itu, dua ambulans Palestina yang datang ke lokasi dilaporkan dicegah untuk mendekat.
Menurut paramedis utama, Hassan Fouqha, timnya tiba delapan menit setelah panggilan darurat diterima. Akan tetapi, mereka dihentikan oleh tentara Israel dengan senjata terarah dan tidak diizinkan memberikan pertolongan.
“Kami mencoba beberapa kali memberi isyarat agar diizinkan mendekat, tetapi kami benar-benar diblokir,” ujar Fouqha.
Akibatnya, petugas medis hanya bisa menyaksikan dari kejauhan ketika Jad terbaring berlumuran darah hingga akhirnya meninggal dunia.
Pernyataan IDF dan Tuduhan Lemparan Batu
Menanggapi insiden ini, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) menyatakan bahwa tentara telah memberikan “perawatan medis awal” setelah memastikan korban tidak membawa perangkat peledak.
Namun, ketika diminta menjelaskan bentuk perawatan serta detail luka yang dialami Jad, pihak militer menolak memberikan keterangan lebih lanjut.
Di sisi lain, IDF menuding Jad melemparkan batu ke arah pasukan. Berdasarkan aturan pertempuran yang dianut IDF, aksi tersebut dapat menjadi alasan penggunaan kekuatan mematikan.
Akan tetapi, rekaman video yang beredar memperlihatkan seorang tentara meletakkan benda di samping tubuh Jad setelah penembakan, lalu memotretnya.
Keluarga korban serta kelompok hak asasi manusia menilai tindakan tersebut sebagai dugaan upaya untuk membenarkan penembakan.
Jenazah Tidak Dikembalikan ke Keluarga
Hingga kini, jasad Jad belum dikembalikan kepada pihak keluarga. Tentara Israel membawa tubuhnya menggunakan kendaraan militer setelah insiden.
Praktik penahanan jenazah oleh otoritas Israel bukanlah hal baru. Laporan menyebutkan ratusan jenazah warga Palestina masih ditahan dengan berbagai alasan keamanan.
Akibatnya, keluarga Jad tidak mengetahui secara pasti berapa kali ia ditembak maupun bagian tubuh mana yang mengalami luka fatal, karena pihak militer menolak memberikan informasi rinci.
Korban Anak di Tepi Barat Terus Bertambah
Menurut data PBB, puluhan anak Palestina tewas di Tepi Barat dalam setahun terakhir. Angka tersebut meningkat signifikan sejak eskalasi konflik pada Oktober 2023.
Dengan demikian, kematian Jad menambah daftar panjang korban anak dan remaja dalam konflik berkepanjangan di wilayah tersebut.
Penutup
Kasus remaja Palestina ditembak dan ambulans dihalangi ini memicu pertanyaan serius mengenai penggunaan kekuatan mematikan serta akses pertolongan medis di wilayah konflik.
Sementara keluarga masih menunggu kepastian dan pengembalian jenazah, berbagai pihak mendesak transparansi dan penyelidikan menyeluruh atas insiden yang merenggut nyawa seorang anak berusia 14 tahun tersebut.
Penulis: Mita Putri








