Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Trump, Tarif Global 15% Berlaku: Dampaknya bagi Indonesia?

Suarakitanews – Mahkamah Agung Amerika Serikat secara resmi membatalkan kebijakan tarif global yang diberlakukan Presiden Donald Trump. Putusan tersebut menyatakan bahwa presiden tidak memiliki kewenangan konstitusional untuk menetapkan tarif besar-besaran tanpa persetujuan Kongres.

Sebelumnya, Trump menggunakan dasar hukum Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA) 1977 untuk menerapkan tarif impor terhadap hampir seluruh negara mitra dagang AS.

Namun demikian, Mahkamah menilai bahwa kewenangan tarif harus diberikan secara eksplisit oleh Kongres. Ketua MA, John Roberts, menegaskan bahwa pemberian kewenangan luar biasa seperti tarif global harus dinyatakan secara jelas dalam undang-undang.

Sebagai akibatnya, kebijakan tarif yang telah memungut sekitar US$130 miliar dinyatakan tidak sah.

Respons Trump: Kritik Keras dan Tarif Baru 15 Persen

Meski putusan telah dibacakan, Trump tidak tinggal diam. Sebaliknya, ia mengecam enam hakim yang membatalkan kebijakannya, termasuk tiga hakim yang sebelumnya ia tunjuk sendiri.

Lebih lanjut, Trump mengumumkan penerapan tarif global baru sebesar 15 persen menggunakan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan 1974. Aturan ini memungkinkan tarif diberlakukan sementara selama sekitar lima bulan tanpa persetujuan Kongres.

Dengan kata lain, meskipun kalah di Mahkamah Agung, Trump tetap mencari celah hukum untuk mempertahankan kebijakan proteksionisnya.

Apa Dampaknya bagi Indonesia?
Indonesia Terhindar dari Ancaman Tarif Resiprokal Tinggi

Putusan MA menjadi kabar baik bagi Indonesia. Pasalnya, sebelumnya Indonesia dikenakan tarif awal 32 persen sebelum dinegosiasikan menjadi 19 persen.

Kini, ancaman tarif resiprokal besar dinilai melemah.

Direktur Eksekutif CELIOS, Bhima Yudhistira, menilai Indonesia tidak perlu melanjutkan ratifikasi perjanjian ART (Agreement on Reciprocal Trade) jika dasar kebijakan tarif tersebut dinyatakan inkonstitusional.

Perjanjian Dagang Indonesia-AS: Apa Isinya?

Prabowo Subianto dan Donald Trump sebelumnya menyepakati skema tarif baru, yaitu:

  1. Tarif 19% untuk ekspor Indonesia ke AS
  2. Tarif 0% untuk komoditas tertentu seperti sawit, kopi, dan kakao
  3. Indonesia menghapus 99% hambatan tarif produk AS

Selain itu, Indonesia berkomitmen untuk:

  1. Membeli energi AS senilai US$15 miliar
  2. Membeli produk aviasi dari Boeing senilai US$13,5 miliar
  3. Membeli produk pertanian AS senilai US$4,5 miliar

Namun demikian, jika kebijakan tarif Trump batal secara hukum, maka sebagian kesepakatan ini berpotensi ditinjau ulang.

Risiko Jika Perjanjian Tetap Berjalan

Menurut CELIOS, terdapat sejumlah potensi risiko, antara lain:

  1. Banjir impor produk AS yang menekan industri domestik
  2. Melemahnya nilai tukar rupiah
  3. Ketergantungan pada produk energi dan pangan AS
  4. Ancaman deindustrialisasi tanpa transfer teknologi
  5. Pembatasan kerja sama dengan negara lain

Oleh sebab itu, putusan MA membuka ruang bagi Indonesia untuk mengevaluasi kembali strategi dagangnya.

Bagaimana Reaksi Pasar dan Dunia Usaha?

Menariknya, setelah putusan diumumkan, indeks S&P 500 di Wall Street naik sekitar 0,7 persen. Para pelaku usaha menyambut keputusan ini karena membuka peluang pengembalian dana tarif miliaran dolar.

Meski demikian, proses refund kemungkinan akan berlangsung lama melalui Pengadilan Perdagangan Internasional AS.

Dengan demikian, ketidakpastian hukum masih membayangi kebijakan perdagangan AS ke depan.

Peluang dan Tantangan bagi Indonesia

Secara keseluruhan, pembatalan tarif Trump oleh Mahkamah Agung AS menjadi angin segar bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

Namun di sisi lain, keputusan Trump menetapkan tarif 15 persen menunjukkan bahwa dinamika perdagangan global masih belum stabil.
Karena itu, Indonesia perlu:

  • Memperkuat diversifikasi pasar ekspor
  • Meningkatkan daya saing industri dalam negeri
  • Mengurangi ketergantungan impor strategis
  • Menjaga stabilitas nilai tukar rupiah

Ke depan, arah hubungan dagang Indonesia-AS akan sangat ditentukan oleh perkembangan politik dan hukum di Amerika Serikat.

Penulis: Mita Putri

Mita Putri

Artikel Terkait

Paradoks Norwegia: Negara Hijau yang Kaya Raya dari Ekspor Minyak — Apa Dampak Perang Timur Tengah bagi Dana Triliunannya?

Suarakitanews — [Norwegia], Norwegia memimpin dunia dalam transisi energi bersih, namun di saat yang sama meraup triliunan rupiah dari ekspor minyak dan gas bumi. Paradoks ini kini kembali diuji oleh…

Lanjutkan Membaca

// // //
Dampak Perang AS-Iran terhadap Nilai Tukar Mata Uang Dunia: Rupiah, Rupee, hingga Rubel

Suarakitanews – Ketika konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Iran meletus pada akhir Februari 2025, dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah. Dampak perang AS-Iran terhadap nilai tukar mata…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri