Suarakitanews – Penampilan Bad Bunny di panggung Super Bowl LX Halftime bukan sekadar pertunjukan musik. Sebaliknya, ia menjelma menjadi panggung perlawanan budaya dan kritik sejarah kolonial yang masih membekas hingga hari ini.
Dengan sepenuhnya menggunakan bahasa Spanyol dan simbol budaya Latin, Bad Bunny menghadirkan narasi yang kuat tentang identitas, perlawanan, dan ingatan kolektif. Bahkan lebih jauh, ia menyulap Stadion Levi’s menjadi gambaran perkebunan tebu—sebuah simbol kelam eksploitasi di tanah kelahirannya, Puerto Rico.
Sejarah Kelam Industri Gula Puerto Rico
Sejak abad ke-16, kolonial Spanyol menjadikan Puerto Rico sebagai pusat produksi gula. Industri ini berkembang pesat, terutama setelah Amerika Serikat menginvasi wilayah tersebut pada 1898. Namun demikian, pertumbuhan industri gula tidak pernah benar-benar menguntungkan rakyat lokal.
Sebaliknya, perusahaan-perusahaan besar dan tuan tanah asing meraup keuntungan, sementara pekerja lokal tetap menerima upah rendah. Lahan pertanian tradisional menyusut, dan masyarakat dipaksa menanam komoditas ekspor alih-alih pangan untuk kebutuhan sendiri.
Akibatnya, ketergantungan pada impor pangan meningkat. Dalam konteks inilah gerakan agroekologi tumbuh sebagai bentuk perlawanan terhadap kolonialisme ekonomi dan ketidakadilan struktural.
Lebih dari itu, kultur jíbaro merupakan simbol identitas budaya rakyat pedesaan Puerto Rico, sempat distigma sebagai kelompok terbelakang oleh rezim kolonial. Ironisnya, kini identitas tersebut justru sering diapropriasi oleh elite tanpa melibatkan komunitas aslinya.
Dengan demikian, kebun tebu di Puerto Rico bukan hanya soal ekonomi, melainkan juga tentang eksploitasi manusia, perampasan ruang hidup, dan penghapusan identitas budaya.
Dari Puerto Rico ke Papua: Ancaman PSN Tebu Merauke
Sementara itu, ancaman serupa kini menghantui Indonesia, khususnya di Papua Selatan. Proyek Strategis Nasional (PSN) kebun tebu di Merauke digadang-gadang sebagai proyek bioetanol untuk ketahanan energi. Namun di balik narasi pembangunan tersebut, tersimpan potensi deforestasi masif.
Laporan Greenpeace Indonesia menyebutkan adanya konsesi 10 perusahaan dengan luas mencapai sekitar 560.000 hektare—setara Pulau Bali. Hingga Oktober 2025, pada dua konsesi saja telah terjadi deforestasi sekitar 13.000 hektare.
Jika tren ini berlanjut, proyek PSN tebu Merauke berpotensi menjadi salah satu proyek deforestasi terbesar di dunia. Lebih jauh lagi, ruang hidup Masyarakat Adat Papua terancam hilang.
Padahal, Masyarakat Adat telah menempuh berbagai cara untuk menolak proyek ini. Mulai dari menancapkan sasi adat, menggelar aksi damai, hingga mengajukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi terhadap regulasi yang memuluskan PSN.
Refleksi: Sejarah Apa yang Akan Kita Wariskan?
Penampilan Bad Bunny membuktikan bahwa seni mampu menjadi medium ingatan kolektif dan perlawanan. Ia tidak hanya menyanyi; ia mengingatkan dunia bahwa kolonialisme bisa berubah bentuk, tetapi dampaknya tetap sama: eksploitasi dan penyingkiran.
Oleh karena itu, refleksi atas sejarah industri gula Puerto Rico menjadi relevan bagi konteks Papua hari ini. Jangan sampai, atas nama pembangunan dan bioetanol, kita justru mengulang pola kolonialisme modern.
Apakah kita akan mewariskan kisah tentang kemenangan Masyarakat Adat dan perlindungan hutan? Atau sebaliknya, tentang hutan yang hilang dan budaya yang terpinggirkan?
Pada akhirnya, menjaga hutan Papua bukan sekadar isu lingkungan. Ini adalah soal keadilan, identitas, dan masa depan generasi mendatang.
Penulis: Mita Putri








