Suarakitanews – Kasus mengejutkan terjadi di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, ketika seorang siswa kelas IX melempar bom molotov ke lingkungan sekolah pada Selasa (03/02).

Peristiwa tersebut terjadi sesaat setelah para murid menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Akibat ledakan yang dipicu empat petasan, suasana sekolah mendadak panik dan seorang siswa dilaporkan mengalami luka.
Namun demikian, aparat kepolisian memastikan bahwa kasus ini akan ditangani dengan pendekatan pembinaan, mengingat pelaku masih di bawah umur dan mengedepankan prinsip ultimum remedium, yakni pidana sebagai upaya terakhir.
Kronologi dan Temuan Barang Berbahaya
Setelah kejadian, polisi menemukan sejumlah barang yang diduga akan digunakan untuk aksi lanjutan. Di antaranya:
- Lima tabung gas portable yang direkatkan dengan petasan dan paku
- Enam botol berisi bahan bakar minyak dengan sumbu kain (diduga bom molotov)
- Pisau dan benda tajam lainnya
Akibat kejadian tersebut, kegiatan belajar mengajar dialihkan sementara ke sistem daring. Selain itu, Pemerintah Kabupaten Kubu Raya menyatakan akan memperkuat pengawasan serta pembinaan terhadap pelajar dan keluarga.
Dugaan Pengaruh True Crime Community (TCC)

Sementara itu, hasil penyelidikan mengungkap bahwa siswa tersebut diduga terpapar komunitas daring bernama True Crime Community (TCC).
Pada tas pelaku ditemukan tulisan seperti #ZERODAY dan nama-nama pelaku kekerasan dunia seperti Stephen Paddock dan Adam Lanza.
Istilah #ZERODAY sendiri kerap digunakan dalam subkultur kekerasan ekstrem untuk menandai hari pelaksanaan serangan.
Lebih lanjut, Densus 88 menemukan bahwa TCC bukan organisasi formal, melainkan komunitas digital yang berkembang sporadis di ruang media sosial. Kontennya meliputi video, meme, animasi, hingga musik yang mengandung glorifikasi kekerasan.
Bahkan, tercatat ada 70 anak dari 19 provinsi yang tergabung dalam komunitas serupa, dengan mayoritas berusia 15 tahun.
Memetic Violence dan Emotional Identification
Menurut Kepala BNPT, fenomena ini termasuk dalam kategori memetic violence, yaitu kekerasan berbasis peniruan. Artinya, anak tidak meniru ideologi secara utuh, melainkan meniru emosi pelaku seperti kemarahan, dendam, dan rasa terasing.
Dengan kata lain, yang ditiru bukan konteks Amerika atau Eropa, melainkan perasaan “sama-sama dibully, sama-sama sendirian”.
Faktor Bullying dan Masalah Keluarga
Selain pengaruh komunitas daring, polisi juga mengungkap dugaan perundungan (bullying) sebagai pemicu.
Di sisi lain, kondisi keluarga pelaku juga disebut sedang mengalami tekanan karena anggota keluarga sakit. Kombinasi antara tekanan keluarga dan perundungan ini, menurut psikolog, dapat memicu strain psikologis — yaitu akumulasi emosi negatif tanpa saluran adaptif.
Mengapa Anak Rentan Terpapar Ekstremisme?
Para kriminolog menjelaskan ada tiga faktor utama:
- Pembelajaran Sosial
Anak belajar bahwa kekerasan bisa menjadi solusi dan pelaku dianggap “pahlawan”.
- Kegagalan Kontrol Sosial
Ketika anak merasa terpinggirkan dan tidak didengar, ia mencari “rumah baru” di komunitas online.
- Pelabelan dan Stigmatisasi
Cap negatif dari lingkungan justru memperkuat identitas menyimpang.
Selain itu, secara psikologis, usia 12–18 tahun adalah fase eksplorasi jati diri. Pada fase ini, lobus frontal otak belum matang sehingga kontrol emosi masih lemah. Oleh sebab itu, anak lebih mudah terpengaruh narasi ekstrem.
Ciri-Ciri Anak Terpapar Paham Ekstremisme
Beberapa indikator yang perlu diwaspadai antara lain:
- Menarik diri dari lingkungan sosial
- Marah ketika ponsel diperiksa
- Mengidolakan pelaku kekerasan
- Menyukai konten sadistis
- Membawa replika senjata atau benda tajam
Karena itu, pengawasan keluarga menjadi kunci utama pencegahan.
Alarm bagi Dunia Pendidikan
Wakil Ketua Komisi X DPR menyebut peristiwa ini sebagai alarm serius bagi dunia pendidikan.
Menurut para ahli, kasus ini bukan kejadian tunggal, melainkan gejala awal dari fenomena yang lebih besar: sosialisasi kekerasan berbasis digital pada anak.
Apabila tidak ditangani secara komprehensif, dikhawatirkan akan terjadi eskalasi dari simbolik menuju aktual.
Lalu, Apa Solusinya?
Pertama, keluarga harus memperkuat komunikasi dan pengasuhan berbasis kasih sayang. Kedua, sekolah perlu meningkatkan literasi digital dan literasi emosional. Ketiga, pemerintah perlu memperketat pengawasan konten kekerasan serta memberdayakan keluarga sebagai garda terdepan perlindungan anak.
Pada akhirnya, seperti yang ditegaskan para ahli, teknologi bukan musuh utama. Sebaliknya, yang berbahaya adalah kekosongan kontrol sosial dan lemahnya literasi emosional anak.
Penulis: Mita Putri









