Banjir Tapanuli Tengah: Korban Bertahan Tanpa Bantuan Pemerintah, Warga Harus Menembus Lumpur Demi Makanan

Suarakitanews.com – Banjir besar yang melanda Tapanuli Tengah dan Aceh sejak sepekan terakhir menyebabkan ribuan warga terisolasi tanpa bantuan yang memadai. Hingga Senin (1/12), banyak warga mengaku belum menerima bantuan pemerintah, sehingga mereka terpaksa bertahan hidup hanya dengan mengandalkan solidaritas sesama masyarakat.

Di Lubuk Tukko, Tapanuli Tengah, banjir yang masih tinggi membuat akses menuju permukiman warga sangat sulit. Kendaraan tidak bisa melintas dan satu-satunya cara berpindah tempat hanyalah menggunakan perahu kayu yang dikayuh dengan batang bambu. Bahkan, untuk mencari makanan, warga harus menembus kubangan lumpur yang tebal dan licin.

Bantuan Pemerintah Belum Tiba

Menurut penuturan warga bernama Arjun, sampai hari ke tujuh pascabencana, belum ada bantuan pemerintah yang datang ke lokasi pengungsian.

“Bantuan belum ada sampai sekarang. Semalam pun tidak ada. Belum ada bantuan sama sekali,” ungkapnya dengan nada kecewa.

Karena keterbatasan logistik, warga kini memasak makanan dari stok yang dikumpulkan bersama. Air bersih pun semakin sulit didapat, sehingga beberapa warga memilih menggunakan air hujan untuk kebutuhan sehari-hari.

Helikopter Menjatuhkan Bantuan, Warga Berebut Mie Instan

Sementara itu, seorang warga Tukka, Nasution, mengatakan bahwa bantuan yang diberikan dari udara tidak sesuai kebutuhan masyarakat. Ia menyaksikan helikopter menjatuhkan puluhan kardus mie instan, yang kemudian diperebutkan warga meski harus berjibaku dengan lumpur.

“Kami memerlukan beras untuk dimasak menjadi nasi. Mie instan bukan bantuan yang kami butuhkan,” tuturnya.

Selain itu, ia juga melihat bagaimana gelombang air yang kuat membawa kayu-kayu besar dan menghantam rumah-rumah warga. Hingga kini, ia menyebut tujuh jenazah ditemukan tak jauh dari rumahnya.

“Ngeri sekali rasanya,” ucapnya lirih.

Daerah Masih Terisolasi

Dari keterangan BPBD Bener Meriah, Aceh, sejumlah wilayah masih terisolasi akibat aliran sungai yang berubah arah dan membawa material kayu dalam jumlah besar. Kondisi ini membuat distribusi bantuan sulit dilakukan karena kendaraan tidak bisa menuju titik pengungsian.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) juga menyebut bahwa beberapa daerah seperti Tapanuli Tengah dan Aceh Tengah masih sulit dijangkau karena akses jalan terputus total.

Kesimpulan

Bencana banjir di Tapanuli Tengah dan Aceh menunjukkan betapa lemahnya respon penanganan terhadap kondisi darurat. Para korban yang kini hidup di tenda pengungsian berharap agar bantuan pemerintah segera datang, terutama berupa beras, air bersih, perlengkapan medis, dan akses evakuasi yang lebih efektif.

Selama bantuan belum tiba, masyarakat hanya bisa bertahan melalui gotong royong dan harapan akan perubahan.

Penulis: Mita Putri

Mita Putri

Artikel Terkait

Blackout Sumatera: 5 Orang Tewas, Bisnis Merugi Miliaran — PLN Wajib Beri Kompensasi hingga 500 Persen

Suarakitanews – Blackout Sumatera 2026: Kronologi, Korban Jiwa, dan Hak Kompensasi yang Wajib Anda Ketahui Pemadaman listrik massal atau blackout Sumatera yang berlangsung selama tiga hari, yakni 22 hingga 24…

Lanjutkan Membaca

// // //
Krisis Pangan Mengintai? Petani Indonesia Tertekan El Nino dan Ekonomi Global

Suarakitanews – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan ancaman El Nino 2026 mulai memberikan tekanan besar terhadap sektor pertanian nasional. Kenaikan harga bahan bakar, bibit, hingga pestisida…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri