Sisi Gelap Rumah Subsidi: Bukan Siap Huni, tapi Siap Renovasi di Bekasi

  • News
  • September 21, 2025

Suarakitanews – Bekasi – Program rumah subsidi selama ini digadang-gadang sebagai solusi bagi masyarakat berpenghasilan rendah agar bisa memiliki hunian dengan cicilan ringan. Namun, di balik harga yang terjangkau, kualitas rumah subsidi justru memunculkan banyak keluhan dari penghuninya.

Di Kabupaten Bekasi, khususnya di kawasan Cikarang dan Cibarusah, sejumlah penghuni mengaku harus menghadapi kenyataan pahit. Rumah subsidi yang mereka beli dengan harga sekitar Rp150 juta, ternyata jauh dari kata “siap huni.” Bahkan, beberapa warga menyebut kondisi rumah tersebut lebih tepat dikatakan sebagai “siap renovasi.”

Murah Tapi Penuh Masalah

Bagi sebagian masyarakat dengan penghasilan setara UMR, cicilan rumah subsidi yang tidak sampai Rp1 juta per bulan memang terasa ringan. Namun, masalah muncul tak lama setelah rumah mulai ditempati.

Hari Fitriani, warga Cikarang, membeli rumah subsidi pada tahun 2017. Meski awalnya penuh harapan, kenyataan berkata lain. Saat pertama kali hendak menempati rumahnya, air dan listrik belum tersedia.

“Saya ingat malam sebelum pindah, hujan deras. Begitu masuk rumah, genangan air ada di mana-mana. Atap bocor, dinding rembes, hampir semua ruangan basah,” kata Hari.

Tidak berhenti sampai di situ, dua tahun pertama air PDAM yang masuk ke rumah Hari justru berbau busuk dan sering mati saat musim kemarau. Akhirnya, keluarganya terpaksa membeli air galon untuk mandi dan memasak. Setelah beberapa tahun dihuni, dinding rumah mulai keropos, kusen lapuk, pintu triplek koyak, dan atap kembali bocor.

Cibarusah Mengalami Hal Serupa

Kisah serupa juga dialami Arbas Batubara, penghuni rumah subsidi di Cibarusah. Ketika pindah pada 2019, listrik dan air belum tersedia sama sekali.

“Awalnya pengembang hanya mengalirkan listrik dari gudang penyimpanan ke rumah-rumah. Baru pada 2023 listrik PLN benar-benar masuk. Untuk air, akhirnya warga harus membuat sumur bor, padahal dulunya dijanjikan akan ada PAM,” ungkap Arbas.

Sejumlah rumah di kompleks tersebut bahkan terbengkalai. Tidak sedikit yang akhirnya dibiarkan kosong, rusak, dan ditumbuhi semak belukar karena pemilik enggan menempati.

Mengapa Kualitas Rumah Subsidi Buruk?

Fenomena rumah subsidi yang cepat rusak ini menimbulkan pertanyaan: mengapa kualitasnya begitu rendah?

Beberapa faktor yang sering disebut antara lain:

  • Bahan bangunan murah demi menekan harga.
  • Pengerjaan terburu-buru untuk mengejar target pembangunan.
  • Kurangnya pengawasan pemerintah terhadap pengembang.
  • Fasilitas umum dan infrastruktur minim seperti air bersih dan listrik.

Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa dengan adanya program Tapera—yang mewajibkan iuran dari pekerja—hunian yang dihasilkan tidak akan jauh berbeda kualitasnya dengan rumah subsidi saat ini.

Antara Harapan dan Kenyataan

Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, rumah subsidi tetap menjadi pilihan karena cicilannya ringan. Namun, kenyataan pahit yang dialami warga Bekasi memperlihatkan bahwa kepemilikan rumah bukanlah akhir dari perjuangan, melainkan awal dari beban baru: biaya renovasi dan perbaikan terus-menerus.

Program rumah subsidi memang membuka jalan bagi masyarakat untuk memiliki rumah. Akan tetapi, tanpa pengawasan ketat dan peningkatan kualitas, rumah subsidi akan tetap menjadi momok yang menyimpan sisi gelap, murah di awal, mahal di belakang.

Penulis: Mita Putri

Mita Putri

Artikel Terkait

Laporan Khusus: Jejak Sunyi Sang “Manusia Bayangan Republik” Zulkifli Lubis

Suara Kita News. Com, Dalam lembaran sejarah Indonesia, panggung utama kerap dikuasai oleh mereka yang bersuara lantang di atas mimbar. Namun, di balik layar sejarah kemerdekaan, terdapat figur-figur yang memilih…

Lanjutkan Membaca

// // //
  • News
  • July 1, 2026
  • //
Biaya Visa Jepang Resmi Naik 5 Kali Lipat per 1 Juli 2026, Turis Indonesia Wajib Tahu!

Suarakitanews — Kabar penting bagi Anda yang berencana liburan ke Negeri Sakura: biaya visa Jepang naik secara signifikan mulai 1 Juli 2026. Kenaikan ini bukan sekadar penyesuaian kecil, melainkan lonjakan…

Lanjutkan Membaca

// // //

Rekomendasi

Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

  • October 12, 2026
Gelo Commando 2026 Rilis 8 Poin Aspirasi Rakyat untuk Pemerintah dan Aparat

Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

  • October 10, 2026
Bangle Ngahiji: Menyongsong Era Baru Desa Bangle Bersama Ralli Saripudin, S.H.

Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

  • October 9, 2026
Gebrakan Baru Penempatan Kerja, Disnakertrans Jabar Gandeng KIIC Gelar Bursa Kerja Online Interaktif

Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

  • October 8, 2026
Darurat WASH di Pesisir Karawang: Ketika Infrastruktur Pemerintah Berhenti di Angka “Selesai Dibangun”

Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

  • October 8, 2026
Bupati Aep Syaepuloh: Kesaktian Pancasila Harus Wujud dalam Pelayanan Publik dan Aksi Nyata

Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri

  • October 8, 2026
Pemkab Karawang Terima Bantuan 220 Becak Listrik Presiden Prabowo dan Program Kesejahteraan Peruri